Presiden Joko Widodo (kedua kiri) berjalan bersama Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud (kedua kanan) (Foto: ANTARA FOTO/Setpres-Editiawarman)
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) berjalan bersama Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud (kedua kanan) (Foto: ANTARA FOTO/Setpres-Editiawarman)

Selamat Pagi Indonesia

'Cincin Sulaiman' Mengantarkan Orang Arab ke Indonesia

01 Maret 2017 11:15
medcom.id, Jakarta: Hubungan budaya Indonesia dan bangsa Arab tidak terbentuk dalam waktu singkat. Husein Ja'far Al Hadad, keturunan Arab yang juga Direktur Cultural Islamic Jakarta menyebut masuknya Arab ke Indonesia sudah mulai sejak abad ke-9.
 
"Masuknya Arab ke Indonesia bisa ditarik jauh sekali pada abad ke-9, ditandai dengan ada kerajaan Islam pertama di Indonesia yang dipimpin keturunan Arab," kata Husen, berbincang dalam Selamat Pagi Indonesia, Rabu 1 Maret 2017.
 
Husein bertutur, pada abad ke-9 belum banyak warga Arab yang masuk ke Indonesia hingga kemudian pada abad ke-13 keturunan Arab kemudian mulai diaspora pertama, meskipun belum masif. Di abad ke-19, diaspora orang-orang Arab ke Indonesia mulai masif dalam misi dakwah Islam dan berdagang.

"Mereka bilangnya mencari cincin Sulaiman. Nabi Sulaiman kan identik dengan kekayaannya, jadi mereka ke Indonesia untuk mencari cincin Sulaiman," kata Husein.
 
Kemudian, tutur Husein, misi dakwah dan perdagangan perlahan turun menjadi misi pendidikan. Bahkan ada dua lembaga pendidikan Islam tertua yang dibawa oleh Arab ke Indonesia, Jamiat al-Khair dan Al Irsyad, yang hingga kini masih berkembang.
 
Tak hanya itu, masuknya budaya Arab ke Indonesia juga tak lepas dari akulturasi budaya. Dimana proses awal orang Arab masuk ke Indonesia hanya kaum lelaki yang kemudian menikahi wanita pribumi.
 
Husein mengatakan, jika bangsa Belanda datang ke Indonesia dengan misi kolonialisme menyebut pribumi dengan inlander atau suku terbawah, tidak demikian dengan bangsa Arab.
 
"Orang Arab menyebut pribumi itu akhwal, artinya paman," katanya.
 
Kata Husein, istilah akhwal atau paman muncul setelah akulturasi budaya melalui perkawinan lelaki Arab dan wanita pribumi. Penyebutan itu merujuk pada panggilan dari keluarga ibu. Bahkan hingga kini, sebutan itu dipertahankan sebagai bentuk penghormatan.
 
"Sebagaimana juga relasi cinta orang pribumi yang menyebut Arab itu habib atau orang yang dicintai, dan syeikh atau guru," jelasnya.
 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MEL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>