Maumere: Penanganan masyarakat terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar. Di tengah kondisi pengungsian, pemerintah bersama berbagai unsur masyarakat juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis ibu-ibu dan lansia.
Salah satunya layanan dukungan psikososial di Posko GOR yang dihadirkan Kementerian Sosial melalui Layanan Dukungan Psikososial (LDP). Dalam pelayanannya LDP bersinergi dengan para relawan, akademisi, dan warga lokal.
Kolaborasi ini menghadirkan pendampingan psikososial yang tak sekadar membagikan tawa, tetapi juga mendengarkan tiap luapan kecemasan—membantu para penyintas rentan mengurai trauma masa lalu dan merajut kembali harapan untuk bangkit bersama.
“Salah satu yang tugas utamanya adalah membantu warga penyintas yang mengalami gangguan psikologis. Kami bantu. Terus membantu warga penyintas mengembalikan keberfungsian sosial. Nah sebenarnya, kami-kami ini hanya membantu saja. Jadi yang mengalami gangguan psikologis, mendapatkan gangguan traumatis, itu kami layani. Jadi kalau membutuhkan rujukan, kami rujuk,” kata Igun Gunawan, relawan LDP Kemensos
Pada sesi yang berlangsung pada Minggu, 23 Agustus 2026 tim dari Universitas Indonesia mendapat kesempatan memberi pendamping kepada ibu-ibu dan lansia. Sesi tersebut dipandu oleh Dosen Psikologi UI Nathanael Elnadus Johanes.
Baca Juga :
Ruang Aman untuk Perempuan dan Anak: Pengungsi Syukuri Kehadiran MCK Laya
Kegiatan tersebut dikemas dengan menarik yang diawali ice breaking dan menyanyi kemudian dilanjutkan dengan pembentukan kelompok untuk saling bicara dan mendengarkan.
Sebelum itu, mereka diajak mendengarkan lagu yang bercerita tentang rasa sedih, bingung, dan jenuh. Bicara dan mendengarkan menjadi kunci dalam sesi ini, karena dalam situasi seperti apa yang dirasakan pengungsi bisa berbeda-beda.
Setelah berbicara di dalam kelompok, para ibu-ibu diberi kesempatan untuk bercerita ke kelompok yang lebih besar. Salah satu ibu bercerita tentang rasa sedih dan bingung yang dirasakan saat tinggal di pengungsian. Ia sudah rindu rumah tetapi di sisi lain kondisi belum kondusif.
Nathanael mengungkapkan bahwa sesi ini merupakan bantuan psikologis awal yang diberikan kepada ibu-ibu dan juga lansia yang menghadapi perubahan situasi yang drastis, dari tinggal di rumah mendadak harus mengungsi di tenda karena bencana gempa.
"Bentuknya adalah kita melakukan apa namanya payung besarnya namanya dukungan psikososial. Jadi dukungan psikososial itu kan ada psiko dan sosial. Psiko itu kan lebih yang mereka rasakan, mereka pikirkan, tindakannya. Sosial itu konteks kehidupan mereka. Jadi tadi bagaimana membuat membangun rasa aman,” ungkap sosok yang akrab disapa Nael itu.
Maumere: Penanganan masyarakat terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar. Di tengah kondisi pengungsian, pemerintah bersama berbagai unsur masyarakat juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis ibu-ibu dan lansia.
Salah satunya layanan dukungan psikososial di Posko GOR yang dihadirkan Kementerian Sosial melalui Layanan Dukungan Psikososial (LDP). Dalam pelayanannya LDP bersinergi dengan para relawan, akademisi, dan warga lokal.
Kolaborasi ini menghadirkan pendampingan psikososial yang tak sekadar membagikan tawa, tetapi juga mendengarkan tiap luapan kecemasan—membantu para penyintas rentan mengurai trauma masa lalu dan merajut kembali harapan untuk bangkit bersama.
“Salah satu yang tugas utamanya adalah membantu warga penyintas yang mengalami gangguan psikologis. Kami bantu. Terus membantu warga penyintas mengembalikan keberfungsian sosial. Nah sebenarnya, kami-kami ini hanya membantu saja. Jadi yang mengalami gangguan psikologis, mendapatkan gangguan traumatis, itu kami layani. Jadi kalau membutuhkan rujukan, kami rujuk,” kata Igun Gunawan, relawan LDP Kemensos
Pada sesi yang berlangsung pada Minggu, 23 Agustus 2026 tim dari Universitas Indonesia mendapat kesempatan memberi pendamping kepada ibu-ibu dan lansia. Sesi tersebut dipandu oleh Dosen Psikologi UI Nathanael Elnadus Johanes.
Baca Juga :
Ruang Aman untuk Perempuan dan Anak: Pengungsi Syukuri Kehadiran MCK Laya
Kegiatan tersebut dikemas dengan menarik yang diawali ice breaking dan menyanyi kemudian dilanjutkan dengan pembentukan kelompok untuk saling bicara dan mendengarkan.
Sebelum itu, mereka diajak mendengarkan lagu yang bercerita tentang rasa sedih, bingung, dan jenuh. Bicara dan mendengarkan menjadi kunci dalam sesi ini, karena dalam situasi seperti apa yang dirasakan pengungsi bisa berbeda-beda.
Setelah berbicara di dalam kelompok, para ibu-ibu diberi kesempatan untuk bercerita ke kelompok yang lebih besar. Salah satu ibu bercerita tentang rasa sedih dan bingung yang dirasakan saat tinggal di pengungsian. Ia sudah rindu rumah tetapi di sisi lain kondisi belum kondusif.
Nathanael mengungkapkan bahwa sesi ini merupakan bantuan psikologis awal yang diberikan kepada ibu-ibu dan juga lansia yang menghadapi perubahan situasi yang drastis, dari tinggal di rumah mendadak harus mengungsi di tenda karena bencana gempa.
"Bentuknya adalah kita melakukan apa namanya payung besarnya namanya dukungan psikososial. Jadi dukungan psikososial itu kan ada psiko dan sosial. Psiko itu kan lebih yang mereka rasakan, mereka pikirkan, tindakannya. Sosial itu konteks kehidupan mereka. Jadi tadi bagaimana membuat membangun rasa aman,” ungkap sosok yang akrab disapa Nael itu.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(RUL)