Fenomena Bediding (dok. Freepik)
Fenomena Bediding (dok. Freepik)

Mengenal Fenomena Bediding, Mengapa Udara Terasa Lebih Dingin Saat Musim Kemarau?

Muhammad Syahrul Ramadhan • 03 Juni 2026 08:58
Ringkasnya gini..
  • Bediding merupakan fenomena normal klimatologi di mana suhu udara terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari saat memasuki musim kemarau.
  • Suhu dingin terjadi karena minimnya tutupan awan dan uap air, sehingga panas bumi dilepaskan langsung kembali ke atmosfer luar tanpa hambatan.
  • Wilayah selatan Indonesia (Jawa, Bali, NTT, NTB, Sumsel) terasa lebih dingin di bulan Juli akibat intrusi udara kering dari puncak musim dingin Australia.
Jakarta: Masuknya musim kemarau di Indonesia biasanya identik dengan cuaca yang gersang dan terik matahari yang menyengat. Namun, ada satu fenomena unik yang kerap dirasakan masyarakat, terutama pada malam hingga pagi hari, yaitu suhu udara yang mendadak merosot dan terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
 
Di daerah Jawa, fenomena udara dingin di tengah musim kemarau ini dikenal dengan istilah Bediding. Meskipun terasa kontradiktif dengan konsep musim kemarau yang panas, dalam konteks klimatologi, fenomena bediding merupakan hal yang sepenuhnya normal karena berkaitan erat dengan proses fisis kondisi atmosfer kita.
 
Lantas, bagaimana fenomena ini bisa terjadi? Yuk, simak penjelasan ilmiahnya di bawah ini!

Penyebab Ilmiah di Balik Dinginnya Fenomena Bediding

Fenomena bediding terjadi karena beberapa faktor atmosfer yang saling berkaitan saat musim kemarau tiba. Pada musim kemarau, intensitas hujan umumnya sangat jarang sehingga tutupan awan di langit berkurang drastis. Ketiadaan awan ini membuat panas di permukaan bumi akibat radiasi matahari dilepaskan kembali ke atmosfer berupa radiasi balik gelombang panjang secara lebih cepat dan lebih banyak.

Kurangnya curah hujan berbanding lurus dengan rendahnya kelembapan udara, yang berarti kandungan uap air di dekat permukaan bumi sangat sedikit.
 
Karena uap air sedikit dan langit cenderung bersih tanpa hambatan awan, panas radiasi balik gelombang panjang dari bumi langsung meluncur lepas ke atmosfer luar. Efeknya, udara di dekat permukaan bumi kehilangan "selimutnya" dan terasa jauh lebih dingin, khususnya pada malam hari hingga menjelang pagi.

Wilayah Utara vs Wilayah Selatan Indonesia

Menariknya, fenomena bediding ini memberikan dampak karakteristik suhu yang berbeda tergantung pada letak geografis wilayah di Indonesia:

Wilayah Dekat Khatulistiwa hingga Bagian Utara

Pada wilayah-wilayah yang berada dekat garis khatulistiwa hingga ke bagian utara Indonesia, suhu udara pada pagi hari akan cenderung terasa lebih dingin. Namun, sebaliknya pada siang hari, udara justru akan terasa jauh lebih panas menyengat. Hal ini disebabkan karena ketiadaan awan dan kurangnya uap air membuat radiasi langsung dari matahari dapat mencapai permukaan bumi secara maksimal tanpa hambatan.

Wilayah Selatan Indonesia (Sumatera Selatan, Jawa, Bali, hingga NTT/NTB)

Berbeda dengan wilayah utara, wilayah bagian selatan Indonesia seperti Sumatera Selatan, Jawa bagian selatan, Bali, NTB, hingga NTT justru akan merasakan suhu udara yang lebih rendah (lebih dingin) sepanjang hari, bahkan pada siang hari jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.
 
Kondisi ini umumnya sangat terasa pada bulan Juli, yang dipicu oleh dua faktor utama, yaitu:
  • Angin timuran atau monsun Australia yang bersifat kering bertiup melewati wilayah-wilayah selatan Indonesia.
  • Bulan Juli merupakan puncak musim dingin di benua Australia. Udara dingin dari belahan bumi selatan ini mengintrusi masuk ke wilayah Indonesia bagian selatan.
Alhasil, meskipun matahari siang hari bersinar terik tanpa hambatan awan, aliran udara dingin dari monsun Australia yang lebih dominan ini sukses membuat suhu udara pada siang hari di wilayah tersebut tetap terasa adem dan dingin. Fenomena bediding adalah bukti dinamisnya kondisi iklim di Indonesia. Bagi Sobat Medcom yang tinggal di wilayah yang terdampak, pastikan untuk menjaga kondisi kesehatan tubuh dengan memakai pakaian yang lebih tebal di malam hari, menjaga hidrasi tubuh karena udara yang kering, serta mengonsumsi vitamin agar imunitas tetap terjaga di tengah perubahan suhu yang cukup kontras ini.
 
(Fany Wirda Putri)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>