Gedung Sate Bandung -- MI/Rommy Pujianto
Gedung Sate Bandung -- MI/Rommy Pujianto

Menikmati Bandung dari Puncak Gedung Sate

Kesturi Haryunani • 05 Mei 2014 22:26
medcom.id, Bandung: Kota Bandung adalah sebuah museum hidup. Bertebaran di segala penjuru kota dapat ditemukan bukti-bukti sejarah dari sebuah kota yang didesain sebagai kota paling cantik dan bergengsi di Hindia Belanda.
 
Sebagai produk yang peduli dengan Kota Bandung, Mahanagari memiliki program tur kota Bandung yang diadakan secara reguler. Salah satu tur yang disediakan adalah Tur Sepeda: Bandung Dulu dan Sekarang di mana partisipan akan bersepeda melihat bangunan-bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda dan berakhir di atas Gedung Sate untuk menikmati pemandangan kota Bandung.
 
Napak tilas bersepeda ini dimulai dengan tumbuhnya sebuah kota kecil di sisi sungai Cikapundung, hiruk-pikuk kehidupan di Jalan Raya Pos, gemerlapnya kehidupan Braga, munculnya pedagang-pedagang tangguh di Kota Bandung, kebiasaan unik warga dalam menunggu kereta api si Gombar yang lewat, tempat Bung Karno melakukan pembelaan ‘Indonesia Menggugat’, taman pertama di Kota Bandung, wilayah militer Insulinde yang asri, tempat dahulu diadakannya pameran industri terbesar di hindia Belanda, sampai di kawasan yang menjadi bukti bahwa pemerintah dahulu ‘nyaris’ memindahkan Ibu Kota negara ke Kota Bandung. Seluruhnya, terekam dalam film `Bandung Tempo Dulu` yang diputar sebelum memulai perjalanan.

Merek Mahanagari didirikan pada tahun 2004 dengan tujuan mengenalkan kota Bandung melalui souvenir seperti kaos, pin, gantungan kunci dan lain sebagainya. Dengan cara ini diharapkan masyarakat lebih mencintai dan merawat kota Bandung. Menggandeng Shafira sebagai mitra bisnis dalam produksi kaos, store baru Mahanagari juga berdekatan dengan Shafira Building, yakni di Jalan Sulanjana No.26
 
Pendiri Mahanagari, Ben Wirawan, menjelaskan bahwa kegiatan tur tersebut merupakan Corporate Social Responsibility (CSR) Mahanagari yang didanai sebagian oleh hasil penjualan souvenir. Metrotvnews.com pun diajak Mahanagari bersepeda ke Gedung Sate dan menaiki gedung yang kini menjadi pusat pemerintahan Pemprov Jawa Barat, untuk menikmati keindahan Bandung pada malam hari dari puncaknya.
 
Terletak di Jalan Diponegoro Nomor 22, Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Coblong, Gedung Sate didirikan pada 1920 oleh 2.000 pekerja. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, puteri sulung B Coops yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Bandung, dan juga Petronella Roelofsen yang mewakili Gubernur Jendral Batavia. Gedung yang diresmikan pada 27 Juli 1920 ini, pada masa Kolonial Belanda disebut Gouvernements Bedrijven.
 
Arsitektur Gedung Sate menyerupai bangunan Italia di zaman Renaissance. Penataan bangunan yang simetris dan elemen lengkungan berulang-ulang, menciptakan ritme indah serta unik. Pada dinding fasade depan terdapat ornamen berciri tradisional, seperti bangunan candi Hindu. Pada puncak Gedung Sate Bandung terdapat ornamen enam jambu air yang menyimbulkan enam juta Gulden yang dihabiskan sebagai biaya pembangunannya. Dari jauh ornamen itu tampak seperti setusuk sate, sehingga gedung ini dikenal masyarakat dengan sebutan Gedung Sate.
 
Sedangkan ditengah-tengah bangunan induk Gedung Sate, terdapat menara dengan atap susun seperti Meru di Bali atau atap Pagoda. Gaya seni bangunan yang memadukan langgam arsitektur tradisional Indonesia dengan kemahiran teknik konstruksi barat disebut Indo-Eropeesche architectuur Stijl (gaya arsitektur Indo-Eropa).
 
Di lantai empat gedung ini, terdapat ruang pameran yang menampilkan berbagai benda khas budaya Sunda, mulai dari kain-kain tradisional, alat masak, alat musik, pakaian pernikahan dan lain sebagainya. Untuk sampai ke ruang pameran, pengunjung harus menaiki tangga kayu melingkar.
 
Terdapat juga bangunan berbentuk pramida besar, untuk menaruh benda-benda budaya. Di piramida tersebut, terdapat tangga kayu untuk naik ke lantai lima yang merupakan lantai teratas Gedung Sate. Di lantai puncak, ada balkon terbuka dan juga ruangan yang teradapat persis di tengah-tengah, untuk menikmati lansekap kota Bandung dari ketinggian.
 
Di dalam ruangan lantai teratas, ada sebuah lonceng tua yang dulu berfungsi sebagai penanda perang ataupun peringatan tanda bahaya. Sayang, tidak sembarang pengunjung dapat naik ke puncak Gedung Sate. Jika Anda berniat mengunjungi puncak Gedung Sate, bisa mencari Pak Yanto di bagian urusan dalam. Sejak 2003, Pak Yanto telah menjadi pemandu bagi pengunjung Gedung Sate.
 
"Kalau pnegunjung kurang dari 10 orang, bisa langsung mencari saya. Tapi kalau rombongan besar, harus membuat janji dulu untuk hari dan waktu kunjungan," kata Pak Yanto.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(NIN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>