Suasana aksi 22 mei di depan Gedung Bawaslu, Jakarta, (22/5). ADAM DWI / MI.
Suasana aksi 22 mei di depan Gedung Bawaslu, Jakarta, (22/5). ADAM DWI / MI.

Polisi Didesak Ungkap Tewasnya 8 Korban Kerusuhan

Nasional Demo Massa Penolak Pemilu
Siti Yona Hukmana • 03 Juni 2019 07:00
Jakarta: Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, dan LBH Pers meminta polisi mengusut kasus tewasnya delapan orang dalam kerusuhan demontrasi penolakan hasil pemilu Rabu, 22 Mei 2019. Pasalnya, sudah 11 hari penyebabnya belum juga terang.
 
"Banyak yang belum diketahui baik penyebab kematian, aktor yang menembak korban, senjata yang digunakan dan status korban apakah peserta aksi atau bukan," kata Koordinator KontraS Yati Andriyani di kantornya, Jalan Kramat II, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, Minggu, 2 Juni 2019.
 
Untuk pengungkapan kasus penembakan itu, pihaknya menuntut kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Kemudian, kepolisian dituntut untuk jujur, transparan, akuntabel, termasuk mencegah terjadinya perusakan barang bukti yang dapat mengaburkan, menghambat penyelidikan dan penyidikan kasus.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Lalu, kami juga mendesak polisi menjamin hak-hak keluarga korban penembakan dalam mengupayakan keadilan atas kasus ini," ujar Yati.
 
Selain mendesak penegak hukum, Yati juga mendesak Presiden Joko Widodo untuk membuat Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) agar bisa mengurai masalah hukum itu secara terang benderang. Tim itu harus melibatkan Kepolisian, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ombudsman RI (ORI), Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komnas Perempuan, dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
 
Yati juga berharap adanya TGPF independen. TGPF independen dinilai akan bekerja untuk menemukan fakta-fakta peristiwa dan rekomendasi, melakukam pengawasan atas proses hukuk yang berjalan serta memberikan perlindungan bagi saksi dan pelapor.
 
"TGPF independen ini penting untuk mengukur sejauh mana lembaga-lembaga korektif negara menjalankan fungsinya secara efektif, sekaligus mengukur sejauh mana pemerintahan Jokowi mengedepankan penegakan hukum dan HAM," pungkas Yati.
 
Untuk proses perbaikan, pihaknya masih menunggu pendataan selesai. Setelah itu, lanjut dia, baru bisa dipastikan siapa yang akan memperbaiki pos tersebut. "Kalau selesai nanti, proses perbaikan apakah dari Polda atau Pemda (DKI), nanti kita sampaikan," ujar dia.
 
Sebelumnya, sekelompok massa menggelar demo di depan Kantor Bawaslu. Mereka menolak hasil Pemilu 2019 karena dianggap curang. Aksi yang berlangsung sejak Selasa, 21 Mei 2019 itu pun berujung ricuh.
 
Massa membakar ban serta menimpuki aparat keamanan yang menjaga jalannya demo. Tak hanya itu, massa aksi juga merusak gerai cepat saji di Sarinah.
 
Kepolisian pun bertindak cepat dengan menangkap ratusan pembuat onar tersebut. Sebanyak 257 perusuh ditangkap pada Rabu, 22 Mei 2019, sedangkan 185 orang lainnya ditangkap pada Kamis, 23 Mei 2019.
 
Para pelaku yang ditangkap merupakan bagian dari massa perusuh. Mereka terpisah dari massa aksi damai yang melakukan demo di depan Bawaslu.
 
Total, ada 442 perusuh yang ditangkap dan dijadikan tersangka. Penangkapan dilakukan di beberapa titik kerusuhan. Misalnya di Jalan MH Thamrin, depan Kantor Bawaslu, daerah Monumen Patung Kuda Arjuna Wiwaha, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Slipi dan Petamburan.
 
Polisi juga mengidentifikasi dua kelompok dari ratusan orang tersangka itu. Sebanyak dua orang berasal dari kelompok Garis yang terafiliasi dengan ISIS. Sementara itu, tiga orang lain juga diidentifikasi dari kelompok perusuh.
 
Atas kejadian itu, mengakibatkan delapan orang tewas. Berikut daftar nama korban yang meninggal dunia berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta:
 
1. Farhan Syafero, pria, 31.
Alamat : Depok, Jawa Barat. Meninggal di RS Budi Kemuliaan (jenazah dirujuk ke RSCM) pada Rabu, 22 Mei 2019.
 
2. M. Reyhan Fajari, pria, 16.
Alamat : Jalan Petamburan 5, RT 010/05, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Meninggal di RSAL Mintoharjo pada Rabu, 22 Mei 2019.
 
3. Abdul Ajiz, pria, 27.
Alamat : Pandeglang, Banten. Meninggal di RS Pelni pada Rabu, 22 Mei 2019.
 
4. Bachtiar Alamsyah, pria.
Alamat : Batu Ceper, Tangerang. Meninggal di RS Pelni pada Rabu, 22 Mei 2019.
 
5. Adam Nooryan, pria, 19.
Alamat : Jalan Sawah Lio II gg 3 no 6A RT 6/1 Jembatan 5, Tambora. Meninggal di RSUD Tarakan pada Rabu, 22 Mei 2019.
 
6. Widianto Rizky Ramadan, pria, 17.
Alamat : Jalan Slipi Kebon Sayur, Kemanggisan, Slipi. Meninggal di RSUD Tarakan
 
7. Tanpa Identitas, Pria
Meninggal di RS Dharmais pada Rabu, 22 Mei 2019.
 
8. Sandro, pria, 31.
Meninggal di RSUD Tarakan pada Kamis, 23 Mei 2019 (pasca rawat sejak Rabu, 22 Mei 2019).
 

(NUR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif