Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Hari Suprayogi (dua dari kanan). Foto: Dok. Kementerian PUPR
Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Hari Suprayogi (dua dari kanan). Foto: Dok. Kementerian PUPR

Kementerian PUPR Antisipasi Musim Kemarau

Nasional kementerian pekerjaan umum kemarau dan kekeringan
Ilham Pratama Putra • 13 Juli 2019 06:48
Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) siapkan langkah antisipasi musim kemarau. Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, Hari Suprayogi terus memantau ketersediaan air pada sejumlah waduk di seluruh Indonesia.
 
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bulan Agustus 2019 adalah puncak musim kemarau. Hampir 52,9 persen wilayah Indonesia akan terpapar kekeringan.
 
“Kementerian PUPR telah membangun beberapa telaga untuk mereduksi kekeringan ekstrim. Selain itu juga dilakukan distribusi menggunakan mobil tangki air untuk daerah-daerah yang kritis air,” ujar di Media Center Kementerian PUPR, Jakarata, Jumat 12 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia mengatakan sejauh ini Kementerian PUPR telah melakukan pemantauan di 16 waduk utama. Di antaranya waduk Jatiluhur, Cirata, Saguling, Kedungombo, Batutegi, Wonogiri, Wadaslintang, Sutami, Bili-bili, Wonorejo, Cacaban, Kalola, Solorejo, Way Rarem, Batu Bulan, dan Ponre-ponre.
 
Pihaknya menyebut pada 30 Juni 2019 volume ketersediaan air di 16 waduk utama tersebut hanya sebesar 3.858,25 juta meter kubik. Padahal tampungan efektifnya sebesar 5.931,62 juta meter kubik.
 
Hal itu sangat disayangkan, mengingat luas area yang bisa dilayani dari ke-16 bendungan tersebut adalah 403.413 hektare. Sementara 75 waduk lainnya dengan skala kecil sampai menengah kondisinya 10 normal, 58 di bawah normal, dan 7 kering.
 
Antisipasi lainnya yang dilakukan Kementerian PUPR dalam menghadapi musim kering tahun ini adalah dengan menyiapkan pompa sentrifugal berkapasitas 16 liter per detik. Pompa yang disiapkan, mencapai 1.000 unit dan tersebar di 34 provinsi.
 
Kementerian PUPR juga membangun sumur bor sebanyak dua titik di setiap balai besar atau balai wilayah sungai di daerah. Direktur Bina Operasi dan Pemeliharaan, Agung Djuhartono juga mengingatkan petani agar disiplin dalam mengikuti rencana pola tanam pada kemarau.
 
“Untuk waduk di bawah rencana, pola operasinya diubah karena kondisi airnya yang berkurang. Kalau tadinya musim tanam ini menanam padi, maka diubah menanam palawija yang lebih hemat air,” kata Agung.
 
Pertanian menjadi perhatian khusus PUPR. Karena pada musim kemarau, lahan pertanian menjadi kawasan yang paling rawan kekeringan.
 

(EKO)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif