BAZNAS Tetapkan Had Kifayah, Metro TV dan Bank MNC Tebar Santunan

Pelangi Karismakristi 23 Mei 2018 22:28 WIB
BAZNAS
BAZNAS Tetapkan Had Kifayah, Metro TV dan Bank MNC Tebar Santunan
BAZNAS menggelar diskusi publik sekaligus peluncuran Had Kifayah 2018, di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, Rabu, 23 Mei (Foto:Medcom.id/Pelangi Karismakristi)
Jakarta: Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional (Puskas BAZNAS) meluncurkan had kifayah (HK). HK merupakan besaran standar kebutuhan minimal seseorang atau keluarga untuk bertahan hidup.

Direktur Puskas BAZNAS Irfan Syauqi Beik menjelaskan, penilaian yang dilakukan untuk menentukan batas kecukupan had kifayah terdiri atas tujuh dimensi, yakni makanan, pakaian, tempat tinggal dan fasilitas rumah tangga, ibadah, pendidikan, kesehatan, dan transportasi.

"Kita melaunching HK dan sudah bisa mengeluarkan besaran angkanya di 34 provinsi. HK nantinya akan menjadi acuan BAZNAS untuk penyaluran dan pendayagunaan zakat di Indonesia," ucap Irfan kepada Medcom.id, ditemui usai launching dan Diskusi Publik Had Kifayah 2018, di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, Rabu, 23 Mei.


Irfan melanjutkan, kajian had kifayah sebenarnya sudah banyak dikaji, sejak zaman dahulu. Namun di Indonesia belum terdapat angka minimal kecukupan kebutuhan seseorang atau keluarga.

"Kalau selama ini ditanya kebutuhan minimal per keluarga atau per orang berapa? Belum ada jawabannya, maka dari itu kita adakan terobosan ini sebagai acuan dan arahan untuk menyalurkan zakat. Misal, ada tiga mustahik (penerima zakat), nanti bisa jelas prioritasnya akan kita berikan kepada yang mana," ujarnya.

Sebelumnya, untuk mengukur kelayakan penerima zakat, BAZNAS menggunakan data standar garis kemiskinan dari Badan Pusat Statistik (BPS).

"Tapi menurut kami, garis kemiskinan itu cocoknya bicara soal the poorest of the poor, kemudian kami tambahkan variabelnya. Had kifayah akan dilaksanakan mulai hari ini sejak kebijakannya disepakati seluruh anggota BAZNAS," kata dia.

Irfan berharap dengan diluncurkannya HK bisa membuat BAZNAS lebih terarah dalam menyalurkan zakat, dan lebih efektif dalam mendesain programnya.

"Misalnya, ada mustahik yang gajinya Rp200 ribu, kita dorong pengembangan bisnisnya. Sementara, makanannya belum tercukupi. Berarti kita prioritaskan untuk memberi bantuan makanan kepadanya. Intinya agar lebih efektif dalam penyaluran," tuturnya.

Untuk diketahui, hasil had kifayah di Indonesia rata-rata mencapai angka Rp3.011.142 per keluarga per bulan. Sedangkan, HK per orangan mencapai angka Rp772.088 per kapita per bulan.

Sementara, provinsi dengan HK terendah per keluarga per bulan yakni Sulawesi Tengah (Rp2.844.637), Jambi (Rp2.833.264 ), dan Jawa Tengah (Rp2.791.147).

Kemudian, tiga provinsi yang nilai HK-nya tertinggi per keluarga per bulan adalah Papua Barat dengan besaran Rp3.317.964 , Papua Rp3.340.837, dan Nusa Tenggara Timur Rp3.363.105.

Dari had kifayah tersebut penyaluran zakat akan dibagi dalam dua kelompok besar, yakni pendistribusian dan pendayagunaan zakat. Bagi mustahik fakir miskin yang dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan dasarnya (berpenghasilan lebih kecil daripada HK), maka bantuan yang diberikan bersifat karitatif dan kedaruratan (pendistribusian).

Namun, khusus mustahik dengan penghasilan sama atau melebihi HK, maka difokuskan pada kegiatan yang bersifat produktif (pendayagunaan). Misal, diikutsertakan program kewirausahaan dan pemberdayaan masyarakat.



(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id