Kasatgas PRR Muhammad Tito Karnavian bersama Menteri Kesehatan memberikan keterangan pers mengenai pemulihan layanan kesehatan di wilayah terdampak bencana. dok. Satgas PRR
Kasatgas PRR Muhammad Tito Karnavian bersama Menteri Kesehatan memberikan keterangan pers mengenai pemulihan layanan kesehatan di wilayah terdampak bencana. dok. Satgas PRR

Layanan Kesehatan di Wilayah Terdampak Kembali Beroperasi, 6 Pustu Dibangun Ulang

Adri Prima • 15 Oktober 2026 20:43
Ringkasnya gini..
  • Seluruh RSUD dan Puskesmas di Aceh, Sumut, dan Sumbar kembali beroperasi pascabencana, meski beberapa layanan belum optimal.
  • Seluruh Pustu terdampak telah beroperasi kembali, kecuali enam unit di Sumut yang mengalami kerusakan berat dan perlu dibangun ulang.
  • Kemenkes mendapat anggaran rehabilitasi pascabencana Sumatera Rp157,88 miliar untuk mendukung sarana dan prasarana kesehatan.
Jakarta: Pemulihan layanan kesehatan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus berjalan setelah bencana pada 25 November 2025. Rumah sakit umum daerah (RSUD) dan Puskesmas di tiga provinsi tersebut seluruhnya kembali beroperasi, disusul Puskesmas Pembantu (Pustu) yang kini juga telah melayani masyarakat, kecuali enam unit di Sumatera Utara yang mengalami kerusakan berat.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mengapresiasi respons cepat Kementerian Kesehatan dalam memulihkan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

“Percepatan pemulihan layanan kesehatan terus dilakukan. RSUD hampir 100%, Puskesmas hampir semuanya sudah beroperasi, meskipun masih ada yang memberikan layanan secara fungsional dan belum beroperasi secara ideal karena menunggu penyelesaian pembangunan gedung, serta keterbatasan lainnya,” kata Tito dalam rapat koordinasi di Posko Nasional Satgas PRR, Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Kamis (15/10/2026)

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, dari total 130 rumah sakit umum daerah di tiga provinsi, 87 di antaranya terdampak bencana Sumatera pada 25 November 2025, dengan sembilan rumah sakit yang berhenti beroperasi. “Dalam satu bulan, sekitar 96 (unit rumah sakit umum daerah) sudah beroperasi kembali dan sekarang kondisinya sudah baik,” ungkapnya.

Menurut Budi, pemulihan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan rumah sakit untuk menangani masyarakat yang mengalami luka berat. Setelah layanan rumah sakit kembali berjalan, pemulihan dilanjutkan ke Puskesmas dan Pustu agar pelayanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat lebih dekat dengan tempat tinggal mereka. Pada fasilitas rumah sakit, pemulihan tidak hanya menyasar operasional secara umum, tetapi juga memastikan layanan penting dapat kembali diberikan kepada masyarakat. Layanan tersebut mencakup instalasi gawat darurat, ruang operasi, dan layanan cuci darah.

Data yang dirilis Kementerian Kesehatan per 1 Desember 2025 juga menyebutkan, 867 dari 1.265 Puskesmas di tiga provinsi terdampak bencana, 152 di antaranya sempat berhenti beroperasi. Dalam waktu dua bulan, pelayanan di seluruh unit Puskesmas terdampak telah berjalan normal. Pemulihan memungkinkan layanan dasar kembali diberikan, mulai dari imunisasi dan konsultasi dokter hingga penanganan penyakit yang umum dialami masyarakat pascabencana.

Pelayanan di tingkat Puskesmas juga menjadi bagian penting untuk mengurangi kebutuhan masyarakat mendatangi rumah sakit untuk keluhan yang dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Pemulihan Pustu menjadi tahap berikutnya karena fasilitas ini berperan mendekatkan pelayanan kesehatan kepada warga. Dari total 2.952 Pustu di tiga provinsi, sebanyak 2.522 terdampak bencana dan 148 sempat berhenti beroperasi. Saat ini, seluruh Pustu telah kembali beroperasi kecuali enam unit di Sumatera Utara yang mengalami kerusakan berat.

Enam Pustu tersebut berada di wilayah Sibolga dan terutama Tapanuli Tengah. Satu unit masih memungkinkan untuk direnovasi, sedangkan lima lainnya harus dibangun kembali. Sebagian lokasi pembangunan juga masih dicari karena bangunan dan lahannya hilang akibat bencana, terutama fasilitas yang berada di tepi sungai.

Sembari menunggu pembangunan kembali, pelayanan dari keenam Pustu tersebut dialihkan ke lokasi sementara agar masyarakat tetap dapat mengakses layanan kesehatan. Pembangunan fisik fasilitas yang rusak berat direncanakan masuk dalam tahun anggaran 2027. Selain pemulihan bangunan, kemenkes memastikan kesiapan operasional fasilitas melalui penyediaan peralatan dan tenaga kesehatan.

Kementerian Kesehatan mendapatkan anggaran rehabilitasi pascabencana Sumatera sebesar Rp157,88 miliar untuk mendukung sarana dan prasarana kesehatan secara optimal. Anggaran tersebut diperuntukkan bagi kebutuhan sarana dan prasarana, bukan untuk renovasi atau perbaikan gedung.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(PRI)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>