medcom.id, Jakarta: Transformasi teknologi terus berputar mengikuti irama perkembangan zaman. Kemajuan teknologi ini oleh sebagian orang dijadikan langkah awal untuk memulai bisnis dan memunculkan bisnis online yang menawarkan keuntungan besar.
Mengingat manfaatnya, maka pendidikan berbasis teknologi wajib dipelajari sedini mungkin agar tidak ketinggalan dalam era persaingan global. Melihat dinamika ini, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Bakti BCA memberikan dukungan kepada para startup muda kreatif untuk melakukan inovasi dalam mengembangkan pendidikan berbasis teknologi di Indonesia.
Bakti BCA kembali menggandeng komunitas Code Margonda mengadakan forum pertemuan untuk generasi muda yang ingin berpartisipasi dalam mengembangkan pendidikan berbasis teknologi, khususnya dalam bidang pengajaran coding.
Forum pertemuan berbentuk talkshow ini mengusung tema Code @BCA. Turut hadir dalam acara tersebut, General Manager Corporate Social Responsibility (CSR) BCA Inge Setiawati, Senior Adviser CSR BCA Sapto Rachmadi, serta Head of e-business Technology Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Sonny Sudaryana.
Dalam talkshow ini, Bakti BCA dan Code Margonda mengundang sejumlah pakar wirausaha yang bergerak di bidang edukasi coding dalam dunia teknologi digital, di antaranya CEO Cody's App Academy Wisnu Sanjaya, Co-Founder Coding Indonesia Kurie Suditomo, dan Founder Clevio Aranggi Soemardjan.
Salah satu pembicara, CEO Cody's App Academy Wisnu Sanjaya mengatakan, coding atau bahasa pemograman sangat penting dipelajari sejak masih anak-anak, mengingat saat ini merupakan era digital. Dengan mempelajari coding sejak dini, ia yakin setiap anak-anak punya bekal untuk berkompetisi pada masa mendatang yang diyakini teknologinya akan makin canggih.
"Kita tidak mengajari anak-anak untuk menjadi programmer, tapi kita mengajari anak-anak untuk mengenal dunia digital dengan membuat game. Supaya mereka tidak hanya jadi konsumen. Kita ingin mereka membuat game juga," ujar CEO Cody's App Academy Wisnu Sanjaya.
Wisnu menjelaskan, di Cody's App Academy, pihaknya mengenalkan anak-anak dunia coding sambil bermain game. Metode belajar sambil bermain game dinilai akan membuat anak-anak dapat berpikir solutif dalam memecahkan masalah.
Mengapa game? Menurutnya, sebagian besar anak-anak ketika memegang gadget pasti langsung memainkan game. Wisnu ingin anak-anak tidak hanya sekadar bermain game, namun anak-anak juga bisa menghasilkan sesuatu yang menarik.
"Karena kita percaya setiap anak-anak punya hak untuk bermain, tapi mereka juga punya kewajiban belajar berkembang dan tetap kreatif. Jadi, itu alasannya kenapa pilihan kita pada game," jelas Wisnu.
Selain itu, Wisnu juga menegaskan belajar coding sembari bermain game dapat digunakan sebagai kesempatan bagi setiap anak-anak untuk menunjukkan kepada orang tuanya bahwa mereka bisa menghasilkan sesuatu yang berguna dari bermain game. Orang tua akan bangga jika anaknya menjadi seorang penemu game yang kemudian populer di seluruh dunia.
"Anak-anak bisa membuat game dan bisa diinput di Google Play, ada di software. Jadi bisa pelan-pelan mengubah pandangan masyarakat umum. Anak-anak bisa produktif dan bermain game tidak selalu negatif," kata Wisnu.
Belajar coding untuk anak-anak pemula tidak terlalu sulit. Sebab, saat ini sudah banyak software untuk belajar coding khusus untuk anak-anak. Syarat persiapan belajar coding juga sederhana. Yang penting anak terbiasa memegang komputer dan pandai membaca.
"Kalau untuk remaja dan dewasa sudah bisa otodidak. Sudah bisa mencari solusi. Software anak-anak yang kita pakai di Cody's Academy, tinker.com, software untuk belajar anak-anak," katanya.
Rata-rata usia anak yang belajar coding di Cody's App Academy mulai dari kelas 1 SD hingga 3 SMA. Sangat tepat jika anak-anak belajar coding hingga SMA, karena bisa sebagai bekal jika kelak ingin memulai bisnis startup.
"Misi kita sederhana, mengajak orang tua dan anak supaya mereka tahu bahwa anak bisa produktif sejak usia dini. Kalau untuk masalah keputusan menjadi progammer atau startup itu masih lama, karena yang masuk di sini rata-rata usia SD dan SMP," kata dia.
medcom.id, Jakarta: Transformasi teknologi terus berputar mengikuti irama perkembangan zaman. Kemajuan teknologi ini oleh sebagian orang dijadikan langkah awal untuk memulai bisnis dan memunculkan bisnis online yang menawarkan keuntungan besar.
Mengingat manfaatnya, maka pendidikan berbasis teknologi wajib dipelajari sedini mungkin agar tidak ketinggalan dalam era persaingan global. Melihat dinamika ini, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Bakti BCA memberikan dukungan kepada para startup muda kreatif untuk melakukan inovasi dalam mengembangkan pendidikan berbasis teknologi di Indonesia.
Bakti BCA kembali menggandeng komunitas Code Margonda mengadakan forum pertemuan untuk generasi muda yang ingin berpartisipasi dalam mengembangkan pendidikan berbasis teknologi, khususnya dalam bidang pengajaran coding.
Forum pertemuan berbentuk talkshow ini mengusung tema Code @BCA. Turut hadir dalam acara tersebut, General Manager Corporate Social Responsibility (CSR) BCA Inge Setiawati, Senior Adviser CSR BCA Sapto Rachmadi, serta Head of e-business Technology Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Sonny Sudaryana.
Dalam talkshow ini, Bakti BCA dan Code Margonda mengundang sejumlah pakar wirausaha yang bergerak di bidang edukasi coding dalam dunia teknologi digital, di antaranya CEO Cody's App Academy Wisnu Sanjaya, Co-Founder Coding Indonesia Kurie Suditomo, dan Founder Clevio Aranggi Soemardjan.
Salah satu pembicara, CEO Cody's App Academy Wisnu Sanjaya mengatakan, coding atau bahasa pemograman sangat penting dipelajari sejak masih anak-anak, mengingat saat ini merupakan era digital. Dengan mempelajari coding sejak dini, ia yakin setiap anak-anak punya bekal untuk berkompetisi pada masa mendatang yang diyakini teknologinya akan makin canggih.
"Kita tidak mengajari anak-anak untuk menjadi programmer, tapi kita mengajari anak-anak untuk mengenal dunia digital dengan membuat game. Supaya mereka tidak hanya jadi konsumen. Kita ingin mereka membuat game juga," ujar CEO Cody's App Academy Wisnu Sanjaya.
Wisnu menjelaskan, di Cody's App Academy, pihaknya mengenalkan anak-anak dunia coding sambil bermain game. Metode belajar sambil bermain game dinilai akan membuat anak-anak dapat berpikir solutif dalam memecahkan masalah.
Mengapa game? Menurutnya, sebagian besar anak-anak ketika memegang gadget pasti langsung memainkan game. Wisnu ingin anak-anak tidak hanya sekadar bermain game, namun anak-anak juga bisa menghasilkan sesuatu yang menarik.
"Karena kita percaya setiap anak-anak punya hak untuk bermain, tapi mereka juga punya kewajiban belajar berkembang dan tetap kreatif. Jadi, itu alasannya kenapa pilihan kita pada game," jelas Wisnu.
Selain itu, Wisnu juga menegaskan belajar coding sembari bermain game dapat digunakan sebagai kesempatan bagi setiap anak-anak untuk menunjukkan kepada orang tuanya bahwa mereka bisa menghasilkan sesuatu yang berguna dari bermain game. Orang tua akan bangga jika anaknya menjadi seorang penemu game yang kemudian populer di seluruh dunia.
"Anak-anak bisa membuat game dan bisa diinput di Google Play, ada di software. Jadi bisa pelan-pelan mengubah pandangan masyarakat umum. Anak-anak bisa produktif dan bermain game tidak selalu negatif," kata Wisnu.
Belajar coding untuk anak-anak pemula tidak terlalu sulit. Sebab, saat ini sudah banyak software untuk belajar coding khusus untuk anak-anak. Syarat persiapan belajar coding juga sederhana. Yang penting anak terbiasa memegang komputer dan pandai membaca.
"Kalau untuk remaja dan dewasa sudah bisa otodidak. Sudah bisa mencari solusi. Software anak-anak yang kita pakai di Cody's Academy, tinker.com, software untuk belajar anak-anak," katanya.
Rata-rata usia anak yang belajar coding di Cody's App Academy mulai dari kelas 1 SD hingga 3 SMA. Sangat tepat jika anak-anak belajar coding hingga SMA, karena bisa sebagai bekal jika kelak ingin memulai bisnis startup.
"Misi kita sederhana, mengajak orang tua dan anak supaya mereka tahu bahwa anak bisa produktif sejak usia dini. Kalau untuk masalah keputusan menjadi progammer atau startup itu masih lama, karena yang masuk di sini rata-rata usia SD dan SMP," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ROS)