Jakarta: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menciptakan inovasi teknologi di bidang pertahanan. Prototipe pesawat Nirawak dengan nama PUNA MALE disiapkan tahun depan untuk kelayakan uji terbang.
Ketua BPPT Hammam Riza mengatakan pesawat PUNA MALE sudah mulai tahap manufacturing. Diawali dengan adanya proses design structure, perhitungan Finite Element Method, pembuatan gambar 3D serta detail drawing 2D yang dikerjakan oleh engineer BPPT dan disupervisi PT Dirgantara Indonesia.
Kemudian, prosesnya dilanjutkan melalui pembuatan tooling, molding, cetakan dan fabrikasi dengan proses pre-preg dengan autoclave. Selain itu, pada 2019 ini, dilakukan pula pengadaan Flight Control System (FCS) yang diproduksi di Spanyol.
"Rencananya FCS ini akan diintegrasikan di awal 2020, pada prototipe PUNA MALE pertama (PM1) yang telah dibuat oleh engineer BPPT dan PT Dirgantara Indonesia yang telah mendapatkan pelatihan untuk mengintegrasikan dan mengoperasikan sistem kendali tersebut pada prototipe yang dibuat di PT Dirgantara Indonesia," kata Hammam di keterangan tertulisnya, Senin 30 Desember 2019.
Dua unit comtoh pesawat ini siap diperkenalkan tahun depan. Contoh ini untuk menguji kelayakan pesawat sebelum diproduksi secara massal memenuhi kebutuhan industri pertahanan dalam negeri.
Sementara itu, untuk proses sertifikasi produk militer, diharapkan sudah mendapatkan sertifikat tipe dari Pusat Kelaikan Kementerian Pertahanan RI (IMAA) pada akhir 2021. Pengintegrasian sistem senjata pada contoh PUNA MALE ini juga akan dilakukan mulai tahun 2020 dan diharapkan pula mendapatkan sertifikasi tipe produk militer pada tahun 2023.
PUNA tipe MALE ini dikengkapi dengan rudal dan mampu terbang selama 24 jam nonstop dengan ketinggian jelajah hingga 23.000 kaki. Untuk merealisasikannya, pemerintah membentuk konsorsium yang beranggotakan BPPT, Kemhan dan TNI AU sebagai pengguna, ITB sebagai mitra perguruan tinggi, PT Dirgantara Indonesia sebagai mitra industri pembuatan pesawat, serta PT LEN Persero yang mengembangkan sistem kendali dan muatan.
Program flagship MALE Kombatan sengaja dirancang untuk memperkuat terjadinya transfer teknologi kunci serta menghidupkan industri nasional pendukung Tier 2, Tier 3 dan seterusnya. Program MALE Kombatan ini disinergikan dengan proses pengadaan yang tengah berlangsung di Kemhan, tentunya untuk dapat memaksimalkan manfaat dari proses tersebut.
Muaranya adalah pembangunan industri pertahanan baru yang akan berdampak pada peningkatan pergerakan roda perekonomian nasional. Yang menjadi catatan penting dalam semua proses ini adalah terkait kebijakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang harus diposisikan sebagai kebijakan strategis.
Tentunya kebijakan ini harus dijalankan secara konsisten untuk menghasilkan teknologi kunci pendukung MALE seperti teknologi-teknologi Flight Control System yang mampu Auto Take-Off Auto Landing (ATOL), Mission System, Weapon-platform integration dan Teknologi Komposit, Radar SAR, Inertial Navigation System (INS), Electro-Optics Targeting System (EOTS) dan Guidance System.
Teknologi kunci itu tidak diberikan oleh negara maju, sehingga penguasaan di industri pendukung tentunya harus diupayakan sendiri. Jika teknologi kunci tersebut sudah dikuasai, maka akan dapat di Spin Off untuk penerapan pada alutsista dan keamanan (Alpalhankam) lainnya yang strategis.
Terkait Performance PUNA tipe MALE :
Operational Radius : 250 km (LOS)
Ceiling : 7200 m
Endurance : up to 30 hours
Aircraft Dimension
Length : 8.30 m
Wing Span
Jakarta: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menciptakan inovasi teknologi di bidang pertahanan. Prototipe pesawat Nirawak dengan nama PUNA MALE disiapkan tahun depan untuk kelayakan uji terbang.
Ketua BPPT Hammam Riza mengatakan pesawat PUNA MALE sudah mulai tahap manufacturing. Diawali dengan adanya proses
design structure, perhitungan
Finite Element Method, pembuatan gambar 3D serta
detail drawing 2D yang dikerjakan oleh engineer BPPT dan disupervisi PT Dirgantara Indonesia.
Kemudian, prosesnya dilanjutkan melalui pembuatan
tooling, molding, cetakan dan fabrikasi dengan proses
pre-preg dengan
autoclave. Selain itu, pada 2019 ini, dilakukan pula pengadaan Flight Control System (FCS) yang diproduksi di Spanyol.
"Rencananya FCS ini akan diintegrasikan di awal 2020, pada prototipe PUNA MALE pertama (PM1) yang telah dibuat oleh engineer BPPT dan PT Dirgantara Indonesia yang telah mendapatkan pelatihan untuk mengintegrasikan dan mengoperasikan sistem kendali tersebut pada prototipe yang dibuat di PT Dirgantara Indonesia," kata Hammam di keterangan tertulisnya, Senin 30 Desember 2019.
Dua unit comtoh pesawat ini siap diperkenalkan tahun depan. Contoh ini untuk menguji kelayakan pesawat sebelum diproduksi secara massal memenuhi kebutuhan industri pertahanan dalam negeri.
Sementara itu, untuk proses sertifikasi produk militer, diharapkan sudah mendapatkan sertifikat tipe dari Pusat Kelaikan Kementerian Pertahanan RI (IMAA) pada akhir 2021. Pengintegrasian sistem senjata pada contoh PUNA MALE ini juga akan dilakukan mulai tahun 2020 dan diharapkan pula mendapatkan sertifikasi tipe produk militer pada tahun 2023.
PUNA tipe MALE ini dikengkapi dengan rudal dan mampu terbang selama 24 jam nonstop dengan ketinggian jelajah hingga 23.000 kaki. Untuk merealisasikannya, pemerintah membentuk konsorsium yang beranggotakan BPPT, Kemhan dan TNI AU sebagai pengguna, ITB sebagai mitra perguruan tinggi, PT Dirgantara Indonesia sebagai mitra industri pembuatan pesawat, serta PT LEN Persero yang mengembangkan sistem kendali dan muatan.
Program
flagship MALE Kombatan sengaja dirancang untuk memperkuat terjadinya transfer teknologi kunci serta menghidupkan industri nasional pendukung Tier 2, Tier 3 dan seterusnya. Program MALE Kombatan ini disinergikan dengan proses pengadaan yang tengah berlangsung di Kemhan, tentunya untuk dapat memaksimalkan manfaat dari proses tersebut.
Muaranya adalah pembangunan industri pertahanan baru yang akan berdampak pada peningkatan pergerakan roda perekonomian nasional. Yang menjadi catatan penting dalam semua proses ini adalah terkait kebijakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang harus diposisikan sebagai kebijakan strategis.
Tentunya kebijakan ini harus dijalankan secara konsisten untuk menghasilkan teknologi kunci pendukung MALE seperti teknologi-teknologi
Flight Control System yang mampu Auto Take-Off Auto Landing (ATOL),
Mission System, Weapon-platform integration dan Teknologi Komposit, Radar SAR, Inertial Navigation System (INS), Electro-Optics Targeting System (EOTS) dan Guidance System.
Teknologi kunci itu tidak diberikan oleh negara maju, sehingga penguasaan di industri pendukung tentunya harus diupayakan sendiri. Jika teknologi kunci tersebut sudah dikuasai, maka akan dapat di Spin Off untuk penerapan pada alutsista dan keamanan (Alpalhankam) lainnya yang strategis.
Terkait Performance PUNA tipe MALE :
Operational Radius : 250 km (LOS)
Ceiling : 7200 m
Endurance : up to 30 hours
Aircraft Dimension
Length : 8.30 m
Wing Span
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(NUR)