Ilustrasi. (Foto: MI/Moh. Irfan)
Ilustrasi. (Foto: MI/Moh. Irfan)

Potret Suram Museum dan Sejarah di Indonesia

Nasional budaya museum
18 Januari 2018 12:07
Jakarta: Pendiri Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali menilai minat masyarakat Indonesia terhadap sejarah dan museum sangat minim.
 
Bukan tanpa alasan, Asep melihat ada persoalan mendasar dalam benak warga Indonesia. Sejarah dianggap sebagai hal yang sepele dan tidak perlu dibesar-besarkan.
 
"Ketika saya tanya pada orang tua, rela tidak anaknya sekolah di jurusan sejarah? Mereka jawab enggak, mau jadi apa kuliah di sejarah. Ini jadi hal mendasar bahwa sejarah (oleh masyarakat) dianggap 'madesu' (masa depan suram-red)," kata Asep dalam Selamat Pagi Indonesia, Kamis 18 Januari 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Anggapan bahwa sejarah tidak mampu memberikan penghidupan membuat bidang arkeologi, museum, sejarah, termasuk persoalan kebudayaan sepi peminat. Jika boleh dikatakan semakin sedikit masyarakat yang tertarik dengan sejarah dan kebudayaan.
 
"Siapa yang minat menjadi penari daerah? dalang? semakin hari semakin berkurang. Saya pikir akarnya antara RI dan Rp (rupiah-red) enggak balance, enggak seimbang antara idealisme dan realitas," katanya.
 
Asep paham jika semakin sedikit orang yang berminat pada sejarah atau museum. Dari sisi pengelolaannya saja, terutama museum di bawah pemerintah, pegawai museum jarang ada yang disejahterakan.
 
Sementara jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, meski kecil pemerintah masih menaruh perhatian serius pada pengelolaan museum termasuk soal aturan dan implementasinya.
 
"Di Indonesia orang-orangnya terbatas. Orang memandang sejarah tak bermanfaat bahkan pemerintah daerah melihat museum adalah tempat membuang uang, akhirnya banyak museum yang anggarannya dihentikan dan pegawainya diturunkan dari eselon III ke eselon IV. Miris," ungkap Asep.
 
Padahal menurut Asep tiket masuk museum di Indonesia, terutama yang berada di bawah kendali pemerintah termasuk dalam kategori murah. Bahkan di Aceh, ada museum yang hanya membebankan tiket masuk sebesar Rp500.
 
Khusus museum di daerah, Asep menyoroti bahwa persoalannya bukan hanya keengganan masyarakat untuk berkunjung namun dukungan pemerintah dalam pengelolaan.
 
Tak jarang Asep menemukan museum yang ada di sejumlah daerah memiliki bangunan tak layak.
 
"Begitu masuk baunya tidak enak, ada bekas laba-laba, dinding bolong, rata-rata museum provinsi demikian. Di kabupaten/kota lebih parah, bahkan ada yang menempati bangunan dengan plafon sudah ambruk dan masih dibuka untuk umum," kata Asep.
 
Contoh museum lain yang tak kalah mengkhawatirkan, kata Asep, adalah museum Samparaja. Museum tersebut menyimpan koleksi sejarah Bima termasuk manuskrip-manuskrip penting.
 
"Tetapi menempati bangunan yang menurut saya memprihatinkan. Bayangkan kalau lantas hangus terbakar misalnya, Bima dalam sejarah bisa hilang," lanjut Asep.
 
"Yang lebih parah lagi anggaran kecil museum daerah Sumbawa, Rp19 juta per tahun ini sangat memprihatinkan mengapa Pemda tidak peduli. Tanpa sejarah kita enggak punya kebesaran. Ingat, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah," pungkasnya.
 

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif