Gunung Anak Krakatu. Foto: BNPB
Gunung Anak Krakatu. Foto: BNPB

Daratan Baru 30,3 Hektare Muncul Dekat Anak Krakatau, Di Mana Lokasinya?

Annisa ayu artanti • 23 September 2026 21:35
Ringkasnya gini..
  • Daratan baru seluas sekitar 30,3 hektare muncul di antara Anak Krakatau dan Pulau Sertung akibat akumulasi material vulkanik.
  • Daratan baru belum bisa disebut gunung api baru atau “cucu” Krakatau karena terbentuk dari tumpukan material erupsi.
Jakarta: Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali mengubah bentang alam di sekitarnya. Daratan baru seluas sekitar 30,3 hektare muncul di perairan antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Lampung Selatan.

Merangkum berbagai sumber, Rabu, 23 September 2026 daratan tersebut terbentuk dari akumulasi material vulkanik yang keluar dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. 

Batu, pasir, lava, dan material vulkanik lainnya menumpuk secara bertahap hingga membentuk daratan baru.

Kemunculan daratan ini menarik dan menjadi perhatian masyarakat khususnya di media sosial karena kawasan tersebut memiliki sejarah panjang aktivitas vulkanik. 

Lantas, apakah daratan baru ini bisa disebut sebagai “cucu Krakatau”?

Belum tentu. Daratan baru yang terbentuk akibat penumpukan material vulkanik tidak serta-merta berarti telah muncul gunung api baru. Fenomena tersebut merupakan bagian dari proses vulkanik yang terjadi di sekitar Gunung Anak Krakatau.
   

Sejarah Krakatau hingga Melahirkan Anak Krakatau

Letusan Gunung Krakatau pada 1883 tercatat sebagai salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah manusia. Peristiwa tersebut menewaskan lebih dari 36 ribu orang dan memberikan dampak besar, bukan hanya bagi wilayah sekitar, tetapi juga terhadap kondisi atmosfer dunia.

Krakatau berada di perairan Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Sebelum letusan besar pada Agustus 1883, gunung tersebut terakhir diketahui aktif pada 1680. Setelah lama tidak menunjukkan aktivitas besar, tanda-tanda letusan mulai muncul kembali pada Mei 1883.

Getaran dan suara ledakan mulai terdengar di wilayah sekitar Selat Sunda. Aktivitas tersebut kemudian berkembang menjadi rangkaian letusan besar pada 26 hingga 27 Agustus 1883.

Ledakan besar melontarkan abu dan material vulkanik dalam jumlah sangat besar. Sebagian tubuh gunung kemudian ambruk ke dalam kaldera dan memicu tsunami yang menyapu wilayah pesisir Jawa dan Sumatra.

Anak Krakatau Muncul pada 1928

Setelah letusan besar 1883, kawasan tersebut kembali mengalami aktivitas vulkanik. Gunung yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan pada akhir 1927.

Tepi kerucut baru kemudian muncul di atas permukaan laut pada awal 1928. Dalam kurun waktu sekitar satu tahun, kerucut tersebut terus tumbuh menjadi sebuah pulau kecil.

Gunung tersebut kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau karena terbentuk dari kawasan bekas Krakatau. Pertumbuhan Anak Krakatau terus berlangsung melalui aktivitas vulkaniknya.

Anak Krakatau Kembali Aktif pada 2026

Gunung Anak Krakatau kembali aktif meletus pada 2 Juli 2026. Aktivitas tersebut terus berlangsung hingga awal September dan kemudian mengalami peningkatan.

Pada Jumat malam, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus hingga Sabtu, 5 September 2026.

Erupsi tersebut diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau air mancur lava. Aktivitas itu juga disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran.

Aktivitas tersebut membuat status Gunung Anak Krakatau berada di Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diimbau tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>