Penyintas gempa NTT. Foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan
Penyintas gempa NTT. Foto: Medcom.id/Syahrul Ramadhan

Dua Pekan Berlalu, Begini Kondisi NTT Setelah Diguncang Gempa M7,7

Annisa ayu artanti • 29 Agustus 2026 15:06
Ringkasnya gini..
  • BNPB mencatat 111 orang meninggal, 1.740 luka dan 192.303 warga mengungsi pascagempa NTT M7,7.
  • Sebanyak 89.618 rumah rusak akibat gempa NTT. BNPB menyebut dampak tsunami secara umum tergolong minor.
  • Pemulihan NTT terus berjalan, termasuk distribusi bantuan, perbaikan jalan, jaringan komunikasi dan fasilitas publik.
Jakarta: Dua pekan setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), proses penanganan dan pemulihan masih berlangsung. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 111 orang meninggal dunia, 1.740 orang luka atau sakit, dan 192.303 jiwa masih mengungsi.
 
Data BNPB per Sabtu, 29 Agustus 2026 tersebut dihimpun dari tujuh kabupaten/kota terdampak. Selain korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan pada puluhan ribu rumah serta fasilitas publik.
 
BNPB mencatat 89.618 rumah mengalami kerusakan. Sementara itu, terdapat 132 fasilitas kesehatan terdampak, 532 kantor rusak, dan 515 rumah ibadah mengalami kerusakan.

Di tengah proses penanganan korban dan pemulihan infrastruktur, pemerintah juga terus memetakan dampak gempa dan tsunami untuk memastikan bantuan dapat menjangkau wilayah yang sulit diakses.

BNPB Pantau Dampak Gempa dan Tsunami dari Udara

Tujuh hari setelah gempa mengguncang NTT, BNPB melakukan pemantauan udara untuk melihat kondisi wilayah terdampak sekaligus memvalidasi laporan mengenai landaan tsunami di kawasan pesisir.
 
Survei dilakukan pada Jumat, 21 Agustus 2026 menggunakan helikopter. Tim menyisir wilayah Flores mulai dari Labuan Bajo, Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada hingga Nagekeo.
 
Baca juga: Kurang dari 12 Jam Pascagempa M7,7, PLN Pulihkan Sistem Kelistrikan di NTT

Pemantauan dipimpin Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari. Helikopter diterbangkan pada ketinggian sekitar 25 hingga 30 meter dari permukaan tanah agar kondisi daratan dan kawasan pesisir dapat dipetakan secara visual.
 
“Ini kita lakukan mapping, sudah selesai kita lakukan, kita berangkat dari Labuan Bajo, kemudian pesisir utara, Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, hingga Nagekeo,” ujar Muhari dikutip dari laman BNPB.
 
Menurut Muhari, dokumentasi dari udara diperlukan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai wilayah yang terdampak, mulai dari kawasan pesisir hingga daratan.
 
“Kita buat foto secara singkat, secara rangkaian supaya nanti kita bisa melihat secara utuh kawasan terdampak dari kawasan pesisir hingga daratan,” paparnya.

Akses Sulit, Bantuan Disiapkan Lewat Jalur Udara

Selain memetakan kerusakan, survei udara juga digunakan untuk mencari jalur distribusi bantuan serta titik yang memungkinkan digunakan sebagai lokasi penurunan logistik menggunakan helikopter.
 
Salah satu kendala ditemukan pada sejumlah permukiman yang berada di kawasan puncak bukit. Kondisi medan membuat bantuan sulit dikirim menggunakan kendaraan roda empat. BNPB pun menyiapkan opsi dropping bantuan melalui udara untuk menjangkau masyarakat di lokasi yang sulit ditembus kendaraan.
 
“Kondisi seperti ini tentu cukup sulit jika dikejar dengan truk logistik atau mobil angkut yang membawa bantuan hingga 1 ton. Jadi ini untuk daerah-daerah ini akan kita optimalkan dengan dropping logistik via udara,” tuturnya.

Pemulihan Infrastruktur Mulai Berjalan

Pemerintah terus mengerahkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak, mulai dari logistik, tenda darurat, rumah sakit lapangan, layanan pemulihan trauma hingga dukungan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp200 miliar untuk daerah terdampak.
 
Presiden Prabowo Subianto juga telah mengarahkan agar pemulihan air bersih, perbaikan jalan dan jembatan, serta penguatan sistem mitigasi dan peringatan dini tsunami menjadi perhatian.
 
Dari sisi konektivitas, akses transportasi di sejumlah wilayah Flores mulai kembali pulih. Berdasarkan pemantauan Tim Bidang Komunikasi Kebencanaan BNPB pada 20 Agustus 2026, seluruh badan jalan di salah satu titik terdampak longsor telah kembali terbuka.
 
Meski demikian, proses pembersihan masih berlanjut karena terdapat material longsoran yang menumpuk di bagian atas lereng. Terbukanya kembali jalur Trans Flores membuat konektivitas Ende-Nagekeo berangsur normal setelah sebelumnya terganggu akibat longsor.
 
Pemulihan juga dilakukan terhadap jaringan komunikasi. Jalur kabel serat optik yang ikut terdampak material longsoran mulai ditangani sehingga konektivitas komunikasi di koridor Ende-Nagekeo dapat kembali dipulihkan.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>