medcom.id, Bandung: Asep Sunandar Sunarya dikenal sebagai dalang wayang golek yang kreatif dan ulet sehingga mampu menjadi dalang legendaris di Tanah Pasundan.
Hal itu diungkapkan Ketua Pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jabar, Asep Hudaya, Senin (31/3). Almarhum dikenal ulet, sehingga namanya kian populer. "Sudah sejak lama, almarhum dikenal sebagai legendaris wayang golek," ujar Asep.
`Si Cepot`, demikian julukan Asep Sunandar, meninggal dunia, Senin (31/3), sekitar pukul 14.20 WIB, di Rumah Sakit (RS) Al Ikhsan, Kabupaten Bandung, akibat serangan jantung.
Lelaki, yang dikenal sebagai dalang legendaris, sekaligus maestro wayang golek khas Sunda lahir tanggal 3 September 1955 itu meninggalkan sembilan anak hasil lima kali perkawinannya.
Almarhum rencananya akan dimakamkan di tempat pemakaman keluarga di Kampung dan Desa Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, sekitar 25 kilometer dari Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar).
Sebelum dikenal, Asep sempat meraih juara dalang panilih I Jawa Barat pada 1977, dan 1982. Kemudian, tahun 1985, pria yang yang dikenal humoris itu, menyebet juara umum dalang tingkat Jabar, dan memboyong penghargaan tertinggi Bokor Kencana.
Menurut rekan dekatnya dalang Asep Taruna, sejak kecil Asep sudah berambisi menjadi dalang, Setamat SMP, ia sudah mengikuti pendidikan pedalangan di RRI Bandung. Dan, mendapat sebagai dalang super bakat.
Padahal, lanjutnya, ayahnya merupakan dalang terkemuka, ia sempat berguru pada Cecep Supriadi, dalang asal Karawang. Sehingga dalam mendalang, almarhum selalu menarik perhatian, dan decak kagum penonton dari berbagai kalangan.
"Saya sebagai pengagumnya, sekaligus murid almarhum merasa kehilangan, sekaligus bangga telah mengenal almarhum sejak puluhan tahun," ujar Taruna yang sering tampil bersama almarhum, di antaranya menjadi istri `si Cepot`.
Hal senada diungkapkan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad), Ganjar Kurnia. "Almarhum merupakan sosok tidak hanya legendaris, almarhum sebagai maestro karena kretivitasnya dalam mengembangkan wayang golek ke kancah internasional," tuturnya. (Eriez M Rizal)
medcom.id, Bandung: Asep Sunandar Sunarya dikenal sebagai dalang wayang golek yang kreatif dan ulet sehingga mampu menjadi dalang legendaris di Tanah Pasundan.
Hal itu diungkapkan Ketua Pengurus Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jabar, Asep Hudaya, Senin (31/3). Almarhum dikenal ulet, sehingga namanya kian populer. "Sudah sejak lama, almarhum dikenal sebagai legendaris wayang golek," ujar Asep.
`Si Cepot`, demikian julukan Asep Sunandar, meninggal dunia, Senin (31/3), sekitar pukul 14.20 WIB, di Rumah Sakit (RS) Al Ikhsan, Kabupaten Bandung, akibat serangan jantung.
Lelaki, yang dikenal sebagai dalang legendaris, sekaligus maestro wayang golek khas Sunda lahir tanggal 3 September 1955 itu meninggalkan sembilan anak hasil lima kali perkawinannya.
Almarhum rencananya akan dimakamkan di tempat pemakaman keluarga di Kampung dan Desa Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, sekitar 25 kilometer dari Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar).
Sebelum dikenal, Asep sempat meraih juara dalang panilih I Jawa Barat pada 1977, dan 1982. Kemudian, tahun 1985, pria yang yang dikenal humoris itu, menyebet juara umum dalang tingkat Jabar, dan memboyong penghargaan tertinggi Bokor Kencana.
Menurut rekan dekatnya dalang Asep Taruna, sejak kecil Asep sudah berambisi menjadi dalang, Setamat SMP, ia sudah mengikuti pendidikan pedalangan di RRI Bandung. Dan, mendapat sebagai dalang super bakat.
Padahal, lanjutnya, ayahnya merupakan dalang terkemuka, ia sempat berguru pada Cecep Supriadi, dalang asal Karawang. Sehingga dalam mendalang, almarhum selalu menarik perhatian, dan decak kagum penonton dari berbagai kalangan.
"Saya sebagai pengagumnya, sekaligus murid almarhum merasa kehilangan, sekaligus bangga telah mengenal almarhum sejak puluhan tahun," ujar Taruna yang sering tampil bersama almarhum, di antaranya menjadi istri `si Cepot`.
Hal senada diungkapkan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad), Ganjar Kurnia. "Almarhum merupakan sosok tidak hanya legendaris, almarhum sebagai maestro karena kretivitasnya dalam mengembangkan wayang golek ke kancah internasional," tuturnya. (
Eriez M Rizal)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AGT)