Ilustrasi--Warga melintas di antara kapal yang terdampar ke pemukiman penduduk akibat gelombang tsunami di desa Sukamanah, Anyer. ANT/M Adimaja.
Ilustrasi--Warga melintas di antara kapal yang terdampar ke pemukiman penduduk akibat gelombang tsunami di desa Sukamanah, Anyer. ANT/M Adimaja.

Pelajaran dari Tsunami Selat Sunda

Nasional gelombang tinggi Tsunami di Selat Sunda
Cahya Mulyana • 25 Desember 2018 15:56
Jakarta: Tsunami di Selat Sunda disebut memberikan pelajaran bagi banyak pihak, khususnya lembaga Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Sebab, gelombang tinggi dengan arus cepat lazimnya karena gempa tektonik, tapi kali ini nontektonik.
 
"Sistem peringatan dini tsunami untuk gempa nontektonik tidak ada. Sehingga pihak otoritas atau BMKG tidak dapat mengeluarkan peringatan dini ke masyarakat,” ujar ahli tsunami yang juga Ketua bidang mitigasi Bencana Persatuan Insinyur Indonesias (PII) Widjo Kongko, Selasa, 25 Desember 2018.
 
Menurut dia, tsunami yang menyapu pesisir Banten dan Lampung bukan hanya peristiwa fenomenal, namun juga tidak lazim. Tsunami tidak didahului gempa tektonik, sehingga masyarakat di sekitar pantai tidak sadar untuk melakukan evakuasi mandiri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tidak hanya itu, kata dia, pemerintah saat ini hanya memiliki sistem operasional peringatan dini akibat gempa tektonik. Oleh sebab itu, perlu dipikirkan untuk segera membangun alat pendeteksi dini nontektonik.
 
“Sistem peringatan dini yang sumbernya bukan dari gempa tektonik seperti saat ini tidak tersedia di BMKG,"ujarnya.
 
Baca: Korban Meninggal Tsunami Selat Sunda jadi 429 Orang
 
Pemerintah juga harus mendorong penegakan hukum atas regulasi, terkait dengan kelola tata ruang pemanfaatan daerah pesisir berbasis kebencanaan. Terutama penentuan Batas Sempadan Pantai sesuai dengan Perpres 51/2016.
 
"Perpres mengamanatkan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam Perda (RTRW) Kabupaten/Kota, di mana penghitungan batas sempadan pantai untuk daerah tertentu yang berpotensi tsunami juga harus memperhatikan perlindungan terhadap gempa dan/atau tsunami. Jadi tidak semua daerah garis sempadan pantainya sama 100 m,"tegasnya.
 
Ketua PII Wilayah Banten Eden Gunawan mengatakan, tengah menganalisa dampak tsunami terhadap infrastruktur dan bangunan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Nantinya bisa digunakan sebagai rekomendasi dalam pembangunan ke depan dalam mengantisipasi kejadian serupa.
 
"Data-data yang terkumpul untuk disampaikan kepada PII Pusat agar dapat menjadi bahan Root Cause Analysis sebagai bagian kebutuhan ke depan. Di samping juga sebagai bahan pertimbangan pengambil keputusan dalam jangka pendek," pungkasnya.
 
Hingga pukul 13.00 WIB, korban meninggal dunia akibat tsunami Selat Sunda mencapai sebanyak 429 orang. Sementara itu, 1.485 orang menderita luka.
 
Sebanyak 154 orang masih dinyatakan hilang serta 16.082 orang terpaksa mengungsi akibat bencana ini. Keseluruhan korban berasal dari lima kabupaten terdampak bencana.
 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi