KRI-Spica-934. Istimewa.
KRI-Spica-934. Istimewa.

KRI-Spica-934 Pantau Kondisi Selat Sunda

Nasional Tsunami di Selat Sunda
Anggi Tondi Martaon • 26 Februari 2019 05:37
Jakarta: KRI-Spica-934 kini memiliki tugas baru memantau Selat Sunda. KRI-Spica-934 secara rutin melakukan survei dan investigasi kondisi selat yang menghubungkan Pulau Sumatera dan Jawa pascatsunami dan erupsi Gunung Anak Krakatau beberapa waktu lalu.
 
Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro mengatakan investigasi bertujuan mengetahui potensi bahaya navigasi. Serta memastikan keselamatan pelayaran.
 
"Pushidrosal telah mengantisipasi potensi bahaya navigasi dan akan memastikan keamanan pelayaran di perairan Selat Sunda dengan mengirimkan KRI Spica–934 pada awal bulan Februari 2019 untuk melaksanakan survei lanjutan untuk pengumpulan data Hidrografi dan Oseanografi," kata Harjo di Jakarta, Senin, 25 Februari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan data survey Hidro Oseanografi Pushidrosal 2016 dan Multi Beam Echo Sounder (MBES) pada 29 hingga 30 Desember 2018, perairan di selatan Gunung Anak Krakatau mengalami pendangkalan 20-40 meter. Hal itu dikarenakan adanya tumpahan magma dan material longsoran Gunung Anak Krakatau yang langsung jatuh ke laut.
 
Harjo mengungkapkan, data yang dikumpulkan KRI-Spica-934 akan digunakan untuk mempelajari perubahan kontur wilayah di Selat Sunda. Mengingat, posisi Gunung Anak Krakatau berdekatan dengan Archipelago Sea Lane I (ASL) atau Alur Laut Kepulauan Indonesia I (ALKI ).
 
"ALKI I diketahui memiliki intensitas traffic pelayaran tertinggi bila dibandingkan dengan ALKI II yang berada diantara Pulau Kalimantan dan Sulawesi, atau ALKI III yang berada di wilayah Timur perairan Indonesia," ungkap dia.
 
Tidak hanya itu, perairan Selat Sunda juga padat dengan alur penyeberangan kapal ferry. Oleh karena itu, satuan yang menjadi anggota dari International Hydrographic Organization (IHO) akan terus melakukan penjagaan dan melaporkan perkembangan situasi di Selat Sunda.
 
"Tidak hanya di perairan Selat Sunda, namun menjamin keselamatan dan keamanan bernavigasi seluruh perairan Indonesia," ujar dia.
 
Seperti diketahui, KRI Spica–934 telah berpengalaman dalam melaksanakan tugas operasi investigasi. Sebelumnya, kapal yang dikomandani Letkol Laut (P) Hengky Iriawan itu melakukan investigasi pascabencana tsunami di Palu dan operasi pencarian CVR Lion AIR JT-610 di perairan Karawang.
 
Dalam tugas ini, KRI Spica-934 dilengkapi peralatan canggih. Di antaranya Multi Beam Echosounder (MBES) tipe 302 dan 2040, Sub Bottom Profiler (SBP) SES 2000 dan Side Scan Sonar (SSS) GeoAcoustic 2094.
 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif