FGD Peringatan ke-50 Supersemar di Hotel Bidakara, Sabtu (13/2/2016) -- Foto: Metrotvnews.com/ Intan fauzi
FGD Peringatan ke-50 Supersemar di Hotel Bidakara, Sabtu (13/2/2016) -- Foto: Metrotvnews.com/ Intan fauzi

Tokoh Militer: Supersemar Seharusnya Disikapi dengan Arif

Nasional supersemar
Intan fauzi • 14 Februari 2016 04:25
medcom.id, Jakarta: Tokoh Militer dari Angkatan Darat (AD), Letjend TNI Kiki Syahnakri mengatakan, perdebatan mengenai Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) tidak akan pernah ada habisnya. Dia menilai peristiwa itu seharusnya disikapi secara arif.
 
Kearifan itu bisa berangkat dari pemahaman bahwa dua tokoh penting dalam peristiwa tersebut menegakkan Pancasila sebagai ideologi Indonesia. Mereka adalah Presiden ke-1 RI Soekarno dan Panglima Tertinggi Angkatan Darat saat itu Letjend Soeharto.
 
"Supersemar seharusnya disikapi dengan arif. Saya ingin measurement-nya ini upaya penegakan Pancasila," kata Kiki dalam Forum Group Discussion Peringatan ke-50 Supersemar di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Sabtu (13/2/2016).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menjelaskan, pada Pemilu 1965, Partai Komunis Indonesia (PKI) diizinkan untuk ikut serta oleh Soekarno meski ada perlawanan sikap dari TNI AD. Pascapemilu, PKI terus berkembang. Namun perlawanan dari TNI AD dan juga kalangan muslim Nahdatul Ulama (NU) pecah dalam peristiwa G30S/PKI.
 
"Kemudian situasi berkembang sampailah pada titik Bung Karno mengeluarkan Supersemar," ucap Kiki.
 
Kiki tak memandang keputusan Soekarno mengeluarkan Supersemar sebagai suatu kesalahan. Begitu pun sikap dari Soekarno untuk memberangus PKI setelah dikeluarkannya Supersemar.
 
Dari sisi Soekarno yang saat itu kondisi kesehatannya semakin menurun, rasanya tepat menunjuk Soeharto untuk memulihkan keadaan. Saat itu Soeharto memegang posisi kunci setelah Jenderal Ahmad Yani terbunuh dalam peristiwa G30S/PKI.
 
"Melihat situasi saat itu, sikap Bung Karno arif memerintahkan bawahannya dan arif memilih bawahannya yang tepat," jelasnya.
 
Dari sisi Soeharto pun dinilai tepat telah membubarkan PKI. Sebab, PKI dianggap sebagai pusat kekacauan (center of gravity) saat itu. Menurut para sejarawan, Soeharto sudah seringkali mengingatkan Soekarno untuk membubarkan PKI.
 
"Apabila PKI menang, mungkin kekerasan itu akan lebih besar lagi," imbuh Mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat itu.
 

(Des)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif