Perlu Pendekatan Ekonomi dalam Deradikalisasi

M Sholahadhin Azhar 16 Mei 2018 05:38 WIB
terorisme
Perlu Pendekatan Ekonomi dalam Deradikalisasi
Ilustrasi - Medcom.id/ M Rizal
Jakarta: Program deradikalisasi di Indonesia dianggap berhasil, meski belum bisa dibilang sempurna. Perlu pendekatan ekonomi dalam program tersebut.

"Pendekatan ekonomi penting, para mantan napiter (narapidana terorisme) bisa luluh. Hal itu bisa menyadarkan seseorang," kata Mantan Kombatan Jamaah Islamiyah (JI) Ali Fauzi pada Medcom.id, Selasa, 15 Mei 2018.

Menurutnya, mantan napiter perlu uluran tangan dari segi ekonomi. Sebab tak dipungkiri, dukungan finansial akan lepas ketika mereka keluar dari jaringan teroris. Maka mereka akan luluh ketika ada yang memperhatikan mereka, dan menjamin kehidupan keluarganya.


"Misalnya mencarikan kerja, membuka jalan. Jangan menuding bahwa mereka berdosa," kata Ali.

Baca: Teror Bom Buah Gagalnya Program Deradikalisasi

Lebih lanjut, adik Amrozi ini menyebut, seharusnya semua pihak bersatu pada menanggulangi 'penyakit' ini. Sebab, akar terorisme tidak tunggal dan saling berkaitan. Sehingga, penanganan tak boleh hanya diserahkan pada penegak hukum atau unsur pertahanan.

"Ibarat penyakit, terorisme di Indonesia sudah masuk level komplikasi. Butuh dokter spesialis dan kampanye perdamaian bagi orang-orang yang kena penyakit ini," katanya.

Beda Persepsi Soal Aksi Teror

Selain pendekatan ekonomi, Ali Fauzi juga mengkritisi tanggapan miring tentang teror bom bunuh diri. Banyak pihak memandang hal tersebut sebagai rekayasa. Menurutnya, hal ini salah kaprah.

"Perspektif tentang terorisme saja seperti itu. Kalau mau serius, harus ada perspektif yang sama soal terorisme. Bahwa ada yang ingin menghancurkan Indonesia," katanya.

Baca: Di tengah Teror Bom, Kepala BNPT jadi Pembicara di Wina

Kata dia, perspektif menyimpang itu tak mendukung deradikalisasi. Sebab dukungan masyarakat masih rendah terkait hal ini. Buktinya, persepsi tentang aksi teroris masih menjadi polemik.

"Banyak dari mereka bilang ini pengalihan isu. Kok itu saja yang diperdebatkan," kata Ali.

Tak hanya kaum akar rumput, ia menyebut perbedaan pandangan juga muncul dari akademisi. Ali menyebut pernah diundang dalam forum di UGM, UI atau di Brawijaya. Dalam diskusi, ada saja pihak yang mengarahkan spekulasi soal terorisme.

"Pengalaman saya, bahwa Profesor, Doktor sekalipun, itu banyak yang materinya merujuk pada pandangan bahwa ini semua permainan," keluh Ali.





(DMR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id