Jakarta: Hampir 80 persen milenial berpendapat teknologi dapat menciptakan pekerjaan baru, bukan sebaliknya. Teknologi yang dikhawatirkan mengambil alih kerja manusia justru menjadi primadona dalam menghadapi revolusi 4.0.
"Milenial berpendapat bahwa teknologi dapat menciptakan lapangan pekerjaan sebesar 78,6 persen dibandingkan dengan menghancurkan pekerjaan sebesar 21,4 persen," terang Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Aris Junaidi dalam peluncuran kuliah daring antikorupsi, Kamis, 1 Oktober 2020.
Survei WEF Global Shapers tersebut dilaksanakan pada 2017 dan melibatkan warga dari 186 negara. Partisipan adalah 50 persen penduduk dunia berusia 30 tahun.
Dalam survei tersebut, ada empat tren teknologi yang paling banyak diminati. Peringkat pertama ialah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dengan responden 28 persen. Disusul bioteknologi dengan 11,5 persen, robotik sebesar 9,3 persen, Internet of Things atau internet untuk segala sebesar 9,3 persen, dan mobil tanpa kemudi sebesar 7,1 persen.
Baca: Menperin: Revolusi Industri 4.0 Tuntut SDM Industri Cepat Beradaptasi
Oleh karena itu, dia menilai mahasiswa abad ke-21 harus memiliki tiga kemampuan pokok menyambur era teknologi 4.0. Pertama, literasi dasar dimana mahasiswa dapat mengaplikasikan kemampuan inti pada tugas keseharian seperti literasi sains atau IT.
Kedua, kompetensi menghadapi tantangan kompleks. Pelajar harus memiliki modal kemampuan berpikir kritis dan kreativitas.
Terakhir, kualitas karakter yang mampu menghadapi perubahan lingkungan. Sebab, pesatnya perkembangan teknologi membutuhkan kemampuan adaptasi dan kegigihan.
"Yang bisa bertahan adalah yang beradaptasi dengan cepat," ucap dia.
Jakarta: Hampir 80 persen milenial berpendapat teknologi dapat menciptakan pekerjaan baru, bukan sebaliknya. Teknologi yang dikhawatirkan mengambil alih kerja manusia justru menjadi primadona dalam menghadapi
revolusi 4.0.
"Milenial berpendapat bahwa teknologi dapat menciptakan lapangan pekerjaan sebesar 78,6 persen dibandingkan dengan menghancurkan pekerjaan sebesar 21,4 persen," terang Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (
Kemdikbud) Aris Junaidi dalam peluncuran kuliah daring antikorupsi, Kamis, 1 Oktober 2020.
Survei WEF Global Shapers tersebut dilaksanakan pada 2017 dan melibatkan warga dari 186 negara. Partisipan adalah 50 persen penduduk dunia berusia 30 tahun.
Dalam survei tersebut, ada empat tren teknologi yang paling banyak diminati. Peringkat pertama ialah kecerdasan buatan atau
artificial intelligence (AI) dengan responden 28 persen. Disusul bioteknologi dengan 11,5 persen, robotik sebesar 9,3 persen,
Internet of Things atau internet untuk segala sebesar 9,3 persen, dan mobil tanpa kemudi sebesar 7,1 persen.
Baca:
Menperin: Revolusi Industri 4.0 Tuntut SDM Industri Cepat Beradaptasi
Oleh karena itu, dia menilai mahasiswa abad ke-21 harus memiliki tiga kemampuan pokok menyambur era teknologi 4.0. Pertama, literasi dasar dimana mahasiswa dapat mengaplikasikan kemampuan inti pada tugas keseharian seperti literasi sains atau IT.
Kedua, kompetensi menghadapi tantangan kompleks. Pelajar harus memiliki modal kemampuan berpikir kritis dan kreativitas.
Terakhir, kualitas karakter yang mampu menghadapi perubahan lingkungan. Sebab, pesatnya perkembangan teknologi membutuhkan kemampuan adaptasi dan kegigihan.
"Yang bisa bertahan adalah yang beradaptasi dengan cepat," ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SUR)