Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

IDI Persiapkan Dokter Tambahan untuk Penanganan Covid-19

Ferdian Ananda • 03 Juli 2021 03:20
Jakarta: Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) melaporkan kondisi tenaga kesehatan (nakes) di sejumlah daerah dengan kasus covid-19 yang melonjak. IDI berupaya menambahkan ketersediaan dokter guna mengoptimalkan penanganan covid-19 pada fasilitas kesehatan.
 
Ketua Tim Mitigasi Dokter PB IDI, Adib Khumaidi, menyampaikan upaya-upaya penambahan dokter dengan berbagai skema sudah dipersiapkan. Bahkan, IDI telah berkoordinasi dengan PPSDM Kementerian Kesehatan.
 
"Tapi memang tadi yang disampaikan tidak bisa serta-merta kemudian langsung mahasiswa kedokteran yang dilibatkan atau yang kemudian baru lulus dilibatkan, tapi ada beberapa skema yang memang kemarin sudah kita usulkan," kata Adib dalam konferensi pers virtual, Jumat, 2 Juli 2021.

Dia menjelaskan skema pertama pada persiapan dokter umum, maka bisa memaksimalkan adanya dokter paska magang atau mereka yang baru selesai menjalani magang setelah lulus dari fakultas kedokteran. Tentunya, mereka yang paska menjalani magang bisa dimaksimalkan untuk membantu memberikan pelayanan.
 
"Yang untuk baru lulus, kalau dia sudah uji kompetensi, jadi prinsipnya adalah adik-adik ini sudah selesai uji kompetensi. Kemudian dari selesai uji kompetensi keluar sertifikat kompetensi dan diurus ke konsil mendapatkan STR maka sebenarnya mereka sudah bisa menjalankan pekerjaan," sebutnya.
 
IDI juga sudah mengusulkan untuk mengonversi magangnya menjadi paska lulus uji kompetensi dan sudah teregistrasi dari konsil. Sehingga, mereka bisa menjalankan praktik pelayanan dengan magang.
 
"Kita sudah usulkan untuk mengonversi internship-nya ini menjadi tim bantuan yang ada di fasilitas-fasilitas kesehatan yang saat ini membutuhkan, tetapi di dalam konsep internship seperti yang dulu pernah kita lakukan untuk wisma atlet," terangnya .
 
Adib menegaskan telah menyampaikan tambahan dokter dengan adanya kelulusan baru dari hasil uji kompetensi mahasiswa profesi dokter yang cukup banyak sehingga bisa dimaksimalkan.
 
"Tentunya di dalam skema konversi ini ya nanti kita menunggu persetujuan dari Kemenkes tapi ini sudah saya sampaikan kepada Kementerian Kesehatan, mudah-mudahan ini bisa setujui sehingga kita bisa memaksimalkan berapa lulusan dari fakultas kedokteran di seluruh wilayah Indonesia," ujarnya.
 
Baca: Kasus Covid-19 Meroket, Menag Ajak Masyarakat Berdoa
 
Adib menambahkan IDI akan fokus mengisi dan membantu pada area relawan di daerahnya yang membutuhkan. Tentunya mereka dikonversi sebagai internship sebagaimana dilakukan di Wisma Atlet beberapa waktu lalu.
 
"Mereka bekerja 6 bulan di Wisma Atlet yang kemudian dikonversi menjadi internship, selesai dari 6 bulan itu mereka sudah dianggap selesai menjalankan proses internship," tuturnya.
 
Namun, IDI tidak menyetujui mahasiswa kedokteran yang koas dilibatkan dalam penanganan covid-19. Sebab, mereka masih dalam proses pendidikan dan belum menjalani uji kompetensi.
 
"Jadi itu beda, mereka masih menjalankan pendidikan tetapi kalau internship itu program pemahiran dan pemagangan setelah lulus dari uji kompetensi," ujarnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AZF)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan