Ilustrasi Ogoh-ogoh. Foto: Unplash/Robbi
Ilustrasi Ogoh-ogoh. Foto: Unplash/Robbi

Malam Pengerupukan di Denpasar, Ratusan Ogoh-Ogoh Pukau Warga dan Wisatawan

Annisa ayu artanti • 19 Maret 2026 10:11
Ringkasnya gini..
  • Ratusan ogoh-ogoh meramaikan Catur Muka Denpasar saat malam Pengerupukan.
  • Tema ogoh-ogoh tahun ini banyak mengangkat pemuliaan air tanpa meninggalkan unsur bhuta kala.
  • Pawai juga digelar di berbagai desa adat sebagai alternatif selain pusat kota.
Jakarta: Ratusan ogoh-ogoh karya para pemuda atau seka teruna memadati kawasan Catur Muka Lapangan Puputan  di malam Pengerupukan atau sehari menjelang Hari Raya Nyepi.
 
Wakil Ketua Pasikian Yowana Kota Denpasar I Gede Yogi Pramana mengatakan kawasan Catur Muka selalu menjadi titik utama dalam pawai ogoh-ogoh setiap tahunnya.
 
“Biasanya akan banyak sekali ogoh-ogoh yang datang dari segala penjuru ke Catur Muka, maka dari itu masyarakat biasanya sudah berada sejak pukul 6 sore sampai malam untuk menikmati karya-karya seka teruna,” kata dia dilansir Antara, Kamis, 19 Maret 2026.

Catur Muka, titik nol yang selalu dinanti

Kawasan Catur Muka dikenal sebagai titik nol Kota Denpasar sekaligus pusat aktivitas masyarakat. Tak heran jika lokasi ini selalu menjadi langganan pawai ogoh-ogoh setiap malam Pengerupukan.

Antusiasme masyarakat dan pemuda pun terlihat meningkat dari tahun ke tahun. Tidak hanya dari jumlah ogoh-ogoh yang ditampilkan, tetapi juga dari kualitas karya yang semakin kreatif dan detail.
 
Baca juga: 6 Ucapan Hari Raya Nyepi 2026 Penuh Doa, Kedamaian, dan Refleksi Diri

Tema Ogoh-ogoh tahun ini

Pasikian Yowana Kota Denpasar melihat tahun ini antusias anak muda semakin meningkat, terlihat dari tingginya kuantitas garapan ogoh-ogoh disertai kualitasnya yang semakin baik.
 
Karena beberapa pekan lalu Pemkot Denpasar menggelar Kasanga Festival bertema pemuliaan terhadap air, maka di malam Pengerupukan ogoh-ogoh dengan tema tersebut paling banyak melintasi pusat kota.
 
“Malam ini banyak sekali di Kota Denpasar ogoh-ogoh yang bertemakan pemuliaan terhadap air, dan tentunya tanpa meninggalkan esensi dari bhuta kala, sosok raksasa atau tokoh pewayangan,” ujar Gede Yogi.
 
Melihat situasi Catur Muka Denpasar yang begitu padat karena euforia kelompok pemuda dan masyarakat sekaligus wisatawan, Pasikian Yowana Kota Denpasar mengimbau agar penyelenggaraan pawai di malam Pengerupukan tetap kondusif.
 
“Sejak forum diskusi awal, Kasanga Festival, sampai saat ini kami tetap meminta pemuda menjaga kondusivitas apalagi saat Pengerupukan. Harapan kami jangan menggunakan sound system, minuman keras, hormati sesama seka teruna, dan jaga kondusivitas di wilayah masing-masing,” kata dia.
 
Selain di pusat kota, pawai ogoh-ogoh juga digelar di berbagai desa adat di Denpasar. Hal ini menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana tanpa harus berdesakan di Catur Muka.
 
“Jika melihat dari pemetaan saat Pengerupukan ini hampir setiap desa mengadakan perlombaan ogoh-ogoh, yang paling padat memang Catur Muka tapi selain itu ada di daerah Sanur, Gatsu, Sesetan, dan banyak lagi jadi layak buat dikunjungi,” ucap Gede Yogi.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>