Jakarta: Indonesia kembali diingatkan dengan risiko gempa bumi setelah rangkaian gempa mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Dilansir dari laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Selasa, 18 Agustus 2026, tercatat 2.119 gempa susulan hingga pukul 05.00 WIB di wilayah tersebut dengan magnitudo M1,3 hingga M6,2.
Dari ribuan gempa susulan itu, sebanyak 24 kejadian memiliki magnitudo di atas M5 dan 70 gempa dirasakan masyarakat. Peristiwa di Flores tersebut sekaligus mengingatkan bahwa Indonesia merupakan wilayah yang aktif secara tektonik dan memiliki sejarah panjang gempa besar.
Aktivitas gempa di Flores bukan kejadian yang berdiri sendiri. Secara geografis, Indonesia berada di pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif, termasuk Lempeng Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, serta Lempeng Mikro Filipina, sehingga berbagai wilayah Indonesia memiliki tingkat kerawanan gempa yang tinggi.
Lantas, seberapa besar gempa yang pernah mengguncang Indonesia sejak awal 2000-an? Sebagai gambaran, berikut lima gempa dengan magnitudo terbesar yang terjadi sejak tahun 2000 berdasarkan catatan BMKG. Daftar ini disusun berdasarkan kekuatan magnitudo, bukan berdasarkan jumlah korban jiwa maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan.
Gempa Aceh 2004 Jadi yang Terbesar
Jika melihat catatan BMKG, gempa Aceh pada 26 Desember 2004 menjadi yang terbesar dalam daftar ini dengan magnitudo sekitar M9,1. Gempa di lepas pantai Sumatra tersebut kemudian memicu tsunami dahsyat yang menerjang Aceh dan sejumlah wilayah di sekitar Samudra Hindia. BMKG mencatat tsunami 2004 sebagai salah satu bencana gempa dan tsunami paling besar dalam sejarah Indonesia.
Besarnya kekuatan gempa membuat peristiwa tersebut tidak hanya berdampak di Indonesia, tetapi juga menimbulkan konsekuensi di berbagai negara di sekitar Samudra Hindia. Gempa Aceh pun menjadi titik penting dalam sejarah kebencanaan Indonesia sekaligus pengingat betapa besar dampak yang bisa ditimbulkan gempa berkekuatan ekstrem.
Nias Diguncang Gempa Besar Beberapa Bulan Kemudian
Belum lama setelah bencana Aceh, Indonesia kembali diguncang gempa besar pada 28 Maret 2005 di wilayah Nias, Sumatra Utara. BMKG mencatat peristiwa tersebut memiliki magnitudo sekitar M8,6, menjadikannya salah satu gempa dengan magnitudo terbesar di Indonesia sejak 2000.
Gempa tersebut terjadi di zona subduksi Sumatra dan kembali menunjukkan besarnya potensi energi gempa di wilayah tersebut. Belum genap setahun dari tragedi Aceh, Nias kembali menghadapi gempa dengan kekuatan yang nyaris menyaingi pendahulunya.
Bengkulu Diguncang Gempa M8,4 pada 2007
Pada 12 September 2007, giliran wilayah Bengkulu dan kawasan sekitar Sumatra yang diguncang gempa besar. Kajian BMKG mencatat gempa pada segmen Mentawai tersebut mencapai Mw8,4, menjadikannya salah satu gempa dengan magnitudo terbesar dalam catatan BMKG sejak 2000.
Gempa ini kembali memperlihatkan aktivitas tinggi di zona subduksi Sumatra, kawasan yang memang memiliki sejarah panjang gempa besar. Artinya, ancaman gempa di wilayah barat Indonesia bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi bagian dari dinamika bumi yang terus berlangsung.
Sumatra Kembali Berguncang pada 2012
Lima tahun berselang, tepatnya 11 April 2012, gempa besar kembali terjadi di lepas pantai barat Sumatra. Berdasarkan Katalog Tsunami Indonesia BMKG, gempa tersebut berkekuatan M8,4 dan berpusat sekitar 500 kilometer barat daya Aceh.
Meski magnitudonya sangat besar, dampak korban jiwa dari peristiwa tersebut jauh lebih rendah dibandingkan gempa Aceh 2004 maupun Nias 2005. BMKG mencatat tsunami sekitar 0,8 meter di Meulaboh dan lima orang meninggal akibat gempa serta serangan jantung.
Gempa Bengkulu 2000 Buka Daftar Gempa Besar Era 2000-an
Sebelum gempa Aceh, Nias, Bengkulu 2007, dan Sumatra 2012, wilayah Bengkulu sudah lebih dulu diguncang gempa besar pada 4 Juni 2000. Berdasarkan kajian BMKG, gempa di sekitar Palung Sunda dekat Pulau Enggano tersebut berkekuatan M7,9, sehingga masuk dalam daftar gempa dengan magnitudo terbesar sejak 2000 berdasarkan catatan BMKG.
Peristiwa tersebut menyebabkan ratusan rumah hancur dan rusak, fasilitas kesehatan mengalami kerusakan, serta korban jiwa dan luka-luka.
Magnitudo Bukan Satu-satunya Ukuran Dahsyatnya Gempa
Kekuatan gempa memang menjadi salah satu indikator penting untuk melihat besarnya energi yang dilepaskan, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan tingkat kerusakan. Lokasi gempa, kedalaman, kondisi tanah, kepadatan penduduk, hingga kualitas bangunan juga bisa membuat gempa dengan magnitudo lebih kecil menimbulkan dampak yang jauh lebih besar.
Salah satu contohnya adalah gempa yang mengguncang wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan parah, mulai dari rumah warga hingga fasilitas umum dan bangunan bersejarah.
Berdasarkan kajian yang dipublikasikan dalam Jurnal Geologi Indonesia, gempa tersebut menyebabkan 6.234 orang meninggal dunia, 36.299 orang terluka, dan sekitar 1,5 juta orang kehilangan tempat tinggal. Angka tersebut menunjukkan bahwa gempa dengan magnitudo yang tidak masuk lima besar pun bisa menghasilkan dampak kemanusiaan yang sangat besar.
Jadi, kalau lima gempa sebelumnya menunjukkan seberapa besar energi gempa berdasarkan magnitudo, Yogyakarta menunjukkan sisi lain yang nggak kalah penting, yaitu gempa yang lebih kecil belum tentu berarti dampaknya lebih ringan. (Wisa Irena Br Sitepu)
Jakarta: Indonesia kembali diingatkan dengan risiko
gempa bumi setelah rangkaian gempa mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Dilansir dari laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Selasa, 18 Agustus 2026, tercatat 2.119 gempa susulan hingga pukul 05.00 WIB di wilayah tersebut dengan magnitudo M1,3 hingga M6,2.
Dari ribuan gempa susulan itu, sebanyak 24 kejadian memiliki magnitudo di atas M5 dan 70 gempa dirasakan masyarakat. Peristiwa di Flores tersebut sekaligus mengingatkan bahwa Indonesia merupakan wilayah yang aktif secara tektonik dan memiliki sejarah panjang gempa besar.
Aktivitas gempa di Flores bukan kejadian yang berdiri sendiri. Secara geografis, Indonesia berada di pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif, termasuk Lempeng Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, serta Lempeng Mikro Filipina, sehingga berbagai wilayah Indonesia memiliki tingkat kerawanan gempa yang tinggi.
Lantas, seberapa besar gempa yang pernah mengguncang Indonesia sejak awal 2000-an? Sebagai gambaran, berikut lima gempa dengan magnitudo terbesar yang terjadi sejak tahun 2000 berdasarkan catatan BMKG. Daftar ini disusun berdasarkan kekuatan magnitudo, bukan berdasarkan jumlah korban jiwa maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan.
Gempa Aceh 2004 Jadi yang Terbesar
Jika melihat catatan BMKG, gempa Aceh pada 26 Desember 2004 menjadi yang terbesar dalam daftar ini dengan magnitudo sekitar M9,1. Gempa di lepas pantai Sumatra tersebut kemudian memicu tsunami dahsyat yang menerjang Aceh dan sejumlah wilayah di sekitar Samudra Hindia. BMKG mencatat tsunami 2004 sebagai salah satu bencana gempa dan tsunami paling besar dalam sejarah Indonesia.
Besarnya kekuatan gempa membuat peristiwa tersebut tidak hanya berdampak di Indonesia, tetapi juga menimbulkan konsekuensi di berbagai negara di sekitar Samudra Hindia. Gempa Aceh pun menjadi titik penting dalam sejarah kebencanaan Indonesia sekaligus pengingat betapa besar dampak yang bisa ditimbulkan gempa berkekuatan ekstrem.
Nias Diguncang Gempa Besar Beberapa Bulan Kemudian
Belum lama setelah bencana Aceh, Indonesia kembali diguncang gempa besar pada 28 Maret 2005 di wilayah Nias, Sumatra Utara. BMKG mencatat peristiwa tersebut memiliki magnitudo sekitar M8,6, menjadikannya salah satu gempa dengan magnitudo terbesar di Indonesia sejak 2000.
Gempa tersebut terjadi di zona subduksi Sumatra dan kembali menunjukkan besarnya potensi energi gempa di wilayah tersebut. Belum genap setahun dari tragedi Aceh, Nias kembali menghadapi gempa dengan kekuatan yang nyaris menyaingi pendahulunya.
Bengkulu Diguncang Gempa M8,4 pada 2007
Pada 12 September 2007, giliran wilayah Bengkulu dan kawasan sekitar Sumatra yang diguncang gempa besar. Kajian BMKG mencatat gempa pada segmen Mentawai tersebut mencapai Mw8,4, menjadikannya salah satu gempa dengan magnitudo terbesar dalam catatan BMKG sejak 2000.
Gempa ini kembali memperlihatkan aktivitas tinggi di zona subduksi Sumatra, kawasan yang memang memiliki sejarah panjang gempa besar. Artinya, ancaman gempa di wilayah barat Indonesia bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi bagian dari dinamika bumi yang terus berlangsung.
Sumatra Kembali Berguncang pada 2012
Lima tahun berselang, tepatnya 11 April 2012, gempa besar kembali terjadi di lepas pantai barat Sumatra. Berdasarkan Katalog Tsunami Indonesia BMKG, gempa tersebut berkekuatan M8,4 dan berpusat sekitar 500 kilometer barat daya Aceh.
Meski magnitudonya sangat besar, dampak korban jiwa dari peristiwa tersebut jauh lebih rendah dibandingkan gempa Aceh 2004 maupun Nias 2005. BMKG mencatat tsunami sekitar 0,8 meter di Meulaboh dan lima orang meninggal akibat gempa serta serangan jantung.
Gempa Bengkulu 2000 Buka Daftar Gempa Besar Era 2000-an
Sebelum gempa Aceh, Nias, Bengkulu 2007, dan Sumatra 2012, wilayah Bengkulu sudah lebih dulu diguncang gempa besar pada 4 Juni 2000. Berdasarkan kajian BMKG, gempa di sekitar Palung Sunda dekat Pulau Enggano tersebut berkekuatan M7,9, sehingga masuk dalam daftar gempa dengan magnitudo terbesar sejak 2000 berdasarkan catatan BMKG.
Peristiwa tersebut menyebabkan ratusan rumah hancur dan rusak, fasilitas kesehatan mengalami kerusakan, serta korban jiwa dan luka-luka.
Magnitudo Bukan Satu-satunya Ukuran Dahsyatnya Gempa
Kekuatan gempa memang menjadi salah satu indikator penting untuk melihat besarnya energi yang dilepaskan, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan tingkat kerusakan. Lokasi gempa, kedalaman, kondisi tanah, kepadatan penduduk, hingga kualitas bangunan juga bisa membuat gempa dengan magnitudo lebih kecil menimbulkan dampak yang jauh lebih besar.
Salah satu contohnya adalah gempa yang mengguncang wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan parah, mulai dari rumah warga hingga fasilitas umum dan bangunan bersejarah.
Berdasarkan kajian yang dipublikasikan dalam Jurnal Geologi Indonesia, gempa tersebut menyebabkan 6.234 orang meninggal dunia, 36.299 orang terluka, dan sekitar 1,5 juta orang kehilangan tempat tinggal. Angka tersebut menunjukkan bahwa gempa dengan magnitudo yang tidak masuk lima besar pun bisa menghasilkan dampak kemanusiaan yang sangat besar.
Jadi, kalau lima gempa sebelumnya menunjukkan seberapa besar energi gempa berdasarkan magnitudo, Yogyakarta menunjukkan sisi lain yang nggak kalah penting, yaitu gempa yang lebih kecil belum tentu berarti dampaknya lebih ringan.
(Wisa Irena Br Sitepu)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(ANN)