Perwakilan UN Women, Dwi Yuliawati bersama perwakilan dua perusahaan peraih penghargaan WEPs Awards 2024, Schneider Electric Indonesia dan Miss Cimory. Foto: Vira Farhatul/Medcom
Perwakilan UN Women, Dwi Yuliawati bersama perwakilan dua perusahaan peraih penghargaan WEPs Awards 2024, Schneider Electric Indonesia dan Miss Cimory. Foto: Vira Farhatul/Medcom

Mendobrak Stigma Patriarki di Dunia Bisnis yang Maskulin

Muhammad Syahrul Ramadhan • 17 Oktober 2026 17:39
Ringkasnya gini..
  • UN Women Indonesia berbagi pengalaman dalam penerapan kesetaraan gender di dunia bisnis.
  • Pendobrakan stigma patriarki yang dilakukan secara perlahan dan bertahap terlihat dari keberhasilan program Miss Cimory.
  • Sekitar 30% pimpinan puncak Schneider Electric Indonesia diisi oleh perempuan, dengan salah satunya memimpin bisnis pusat data.
Jakarta: Menjelang ajang Women’s Empowerment Principles (WEPs) Award tahun ini, UN Women Indonesia berbagi pengalaman dalam penerapan kesetaraan gender di dunia bisnis bersama dua perusahaan peraih penghargaan, Cimory Group dan Schneider Electric Indonesia.

WEPs Award, ajang penganugerahan besutan UN Women dan UN Global Impact yang hadir di Indonesia sejak 2020 ini hadir untuk membantu perusahaan mengevaluasi dan menilai kebijakan serta praktik bisnis untuk memperkuat komitmen kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di jantung bisnis mereka.

Meliputi tujuh prinsip pemberdayaan yang mencakup kepemimpinan korporat, anti diskriminasi, kesehatan dan keselamatan pekerja, pendidikan dan pelatihan, rantai pasok, komunitas, , serta pelaporan, WEPs membantu perempuan untuk meraih kesempatan yang lebih luas dan inklusif.


Kontribusi Ibu Rumah Tangga dalam Ekonomi Keluarga

Pendobrakan stigma patriarki yang dilakukan secara perlahan dan bertahap terlihat dari keberhasilan program Miss Cimory yang memenangkan gelar 1st Runner Up Indonesia WEPs Awards 2024 untuk kategori Gender-Responsive Marketplace

Hendri Viarta, Director Miss Cimory, Cimory Group, bersama dengan CEO perusahaan, menggerakan sebuah program pemberdayaan ibu-ibu rumah tangga akar rumput agar mendapat kesempatan lebih dalam berkontribusi terhadap ekonomi keluarga.

Program yang dirintis sejak 2013 ini membekali para peserta dengan pelatihan penjualan, komunikasi, pembentukan karakter, pengelolaan keuangan rumah tangga, hingga literasi digital. 

Dengan center yang berkonsep sebagai “rumah kedua” para ibu-ibu dapat melakukan berbagai aktivitas dengan berbagai fasilitas yang ada mulai dari ruang konseling, ruang istirahat, konsumsi gratis, hingga penyediaan fasilitas pengajaran bagi anak-anak mereka.

Dari sebuah barang mewah yang hanya menjadi angan-angan, para ibu-ibu di program Miss Cimory kini banyak yang telah berhasil menyekolahkan anak-anak mereka hingga perguruan tinggi.

“Menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi itu barang mewah. Mereka cuma tamat SD, SMP. Sesuatu yang nggak mungkin terbukti. Nyatanya, banyak anak-anak dari Miss Cimory yang sudah menjadi sarjana, bahkan lulus S2 baik di dalam maupun luar negeri,” ungkap Hendri.
 
Program gagasannya kini menyumbang sekitar 21% kepada perusahaan dan telah hadir di 17 provinsi dengan hampir 500 center serta jumlah anggota 11.000 orang dari target 12.000 tahun ini.

Kemenangan program ini di WEPs Award memberi energi baru bagi Cimory untuk lebih memperhatikan kesetaraan gender yang berdampak bukan hanya pada komunitas, namun juga pada sistem kebijakan internal agar perempuan dan kesetaraan bisa lebih terlihat.

Menurut Hendri, perempuan memiliki tempat yang sama seperti laki-laki. Ruang dan kesempatan menjadi hak yang seharusnya diberikan kepada perempuan, termasuk di jajaran manajemen perusahaan hingga tingkat direktur dan general manager.

Lewat keberhasilan ini, perusahaan terpicu untuk merancang program pengayaan agar lebih banyak ibu rumah tangga bisa bergabung dan menjadi aktif dengan fasilitas pendukung yang lebih baik. 


Perempuan di Dunia yang Maskulin

Data riset mencatat bahwa representasi perempuan di bidang kelistrikan masih di bawah 3%. Rozana Ridwan, Head Marketing Communication Schneider Electric Indonesia, mengatakan bahwa stigma dunia perlistrikan itu sangat laki-laki dan maskulin.

Dari sini lah perusahaan meluncurkan Women Electrician Bootcamp pada 2024 yang diikuti 35 peserta dari Jawa, Bali, dan Lombok pada angkatan pertamanya. Pelatihan ini diadakan selama lima hari dan mencakup materi keselamatan kerja, teknik dasar kelistrikan dari tegangan rendah-menengah, keterampilan non teknis, dan praktik lapangan.

Kini, di 2026 antusiasmenya meningkat hingga kurang lebih sepuluh kali lipat menjadi 379 orang peserta. Angka ini menjadi bukti bahwa akses peluang dan informasi sangat dibutuhkan oleh para perempuan untuk menyalurkan minat dan kemampuannya.

Sejumlah alumni kini sudah berani untuk menangani proyek gedung dan industri bukan lagi hanya sebatas instalasi rumahan, bahkan salah satu peserta dari Bali dapat mendirikan perusahaan jasa instalasi listrik sendiri.

Tak hanya sampai di situ, agenda kesetaraan gender pun terlihat dalam budaya perusahaan. Sekitar 30% pimpinan puncak Schneider Electric Indonesia diisi oleh perempuan, dengan salah satunya memimpin bisnis pusat data. 
 
Perusahaan pun memberikan cuti melahirkan 20 minggu, cuit ayah 20 hari, dan cuti perawatan keluarga 10 hari. Sistem target 50-40-30 pun diberlakukan pada periode 2024-2025 dengan cakupan 50% perempuan dalam rekrutmen, 40% di posisi line manager, dan 30% di level kepemimpinan.

Roza pun menegaskan bahwa di setiap proses rekrutmen harus ada keterlibatan perempuan dari pihak perusahaan dan pihak kandidat.

Gelar pemenang WEPs Awards pada 2024 untuk kategori komunitas dan kemitraan menjadi bentuk apresiasi sekaligus motivasi untuk terus memperluas program pemberdayaan perempuan di sektor kelistrikan yang lekat dengan maskulinitas.

“Kami sangat senang karena artinya dengan adanya WEPs Award ini, makin banyak pesertanya. Peserta juga mengajak sesama rekannya untuk bergabung,” ungkap Roza pada Kamis (15/10/2026).

Ajang ini bukan sekadar tempat untuk unjuk diri namun juga untuk belajar dari perusahaan lain untuk terus berkomitmen pada prinsip-prinsip kesetaraan gender. Agenda “Women in STEM” akan terus Schneider kembangakan melalui bootcamp maupun komunitas internal Women in Schneider.

Dwi Yuliawati, Head of Programmes UN Women Indonesia pun berharap para pemenang WEPs Awards seperti Cimory dan Schneider dapat menjadi tolak ukur dan percontohan untuk memicu “race to the top” agar perusahaan lain terdorong untuk meniru bahkan melampaui program yang mereka adakan.

Dampak agenda ini tentunya tak hanya sampai kepada para perempuan namun juga masyarakat, keluarga, dan perusahaan itu sendiri.

(Vira Farhatul Maula)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>