Jakarta: Kualitas udara di sejumlah wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai membaik.
Melansir laman Kementerian Kehutanan, Sabtu, 5 September 2026 menyebut zona dengan kualitas udara sangat tidak sehat atau kategori merah kini menyusut drastis dan hanya tersisa di sebagian kecil wilayah Kalimantan Barat.
Perbaikan tersebut terlihat dari pemantauan kualitas udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sebagian besar wilayah Indonesia saat ini berada dalam kategori baik hingga sedang.
Meski begitu, kondisi belum sepenuhnya aman. Zona dengan kualitas udara tidak sehat atau kategori kuning masih mendominasi sejumlah wilayah Kalimantan serta sebagian kecil Sumatera bagian barat.
Baca Juga :
Dua Hari Bantu Padamkan Karhutla, Sherina Akui Staminanya Mulai Turun
Zona Merah Kualitas Udara Menyusut
Data BMKG menunjukkan saat ini, kategori merah hanya terpantau di sebagian kecil Kalimantan Barat. Sementara itu, wilayah lain relatif lebih aman dengan kualitas udara berada pada kategori baik hingga sedang.
Kondisi tersebut menjadi sinyal positif di tengah penanganan karhutla yang masih dilakukan di sejumlah daerah.
Kemenhut bersama Satgas Gabungan terus melakukan penanganan di wilayah prioritas. Tim gabungan tersebut melibatkan Manggala Agni Kemenhut, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, masyarakat peduli api, serta sejumlah pemangku kepentingan.
Penanganan dilakukan melalui berbagai metode, mulai dari pemadaman darat, patroli, hingga operasi udara untuk menjangkau titik-titik yang sulit ditangani dari darat.
53 Armada Udara Dikerahkan Tangani Karhutla
Untuk memperkuat penanganan, sebanyak 53 unit armada udara dikerahkan secara terukur. Dari jumlah tersebut, 19 unit digunakan untuk patroli udara dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sementara 34 unit lainnya difokuskan untuk pemadaman udara atau water bombing di lokasi yang sulit dijangkau tim darat.
Operasi Modifikasi Cuaca juga terus dioptimalkan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kriteria meteorologis. Operasi ini dilakukan untuk membantu memicu pembentukan awan hujan sehingga dapat mendukung upaya pemadaman dan pengendalian karhutla.
688 Hotspot Terdeteksi di Tujuh Wilayah
Meski kualitas udara menunjukkan perbaikan, pemantauan titik panas masih terus dilakukan. Berdasarkan sistem pemantauan SiPongi Kemenhut berbasis satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 per 3 September 2026 pukul 21.19 WIB, terdeteksi 688 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence.
Pemantauan intensif saat ini difokuskan pada tujuh wilayah utama, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Namun, Kemenhut mengingatkan hotspot tidak otomatis berarti sedang terjadi kebakaran aktif. Data tersebut merupakan indikasi titik panas yang diperoleh melalui penginderaan satelit.
Meski begitu, informasi hotspot menjadi salah satu dasar bagi tim gabungan untuk melakukan verifikasi langsung atau ground check di lapangan dan mengambil tindakan jika ditemukan potensi kebakaran.
Jakarta: Kualitas udara di sejumlah wilayah yang terdampak
kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai membaik.
Melansir laman Kementerian Kehutanan, Sabtu, 5 September 2026 menyebut zona dengan kualitas udara sangat tidak sehat atau kategori merah kini menyusut drastis dan hanya tersisa di sebagian kecil wilayah Kalimantan Barat.
Perbaikan tersebut terlihat dari pemantauan kualitas udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sebagian besar wilayah Indonesia saat ini berada dalam kategori baik hingga sedang.
Meski begitu, kondisi belum sepenuhnya aman. Zona dengan kualitas udara tidak sehat atau kategori kuning masih mendominasi sejumlah wilayah Kalimantan serta sebagian kecil Sumatera bagian barat.
Zona Merah Kualitas Udara Menyusut
Data BMKG menunjukkan saat ini, kategori merah hanya terpantau di sebagian kecil Kalimantan Barat. Sementara itu, wilayah lain relatif lebih aman dengan kualitas udara berada pada kategori baik hingga sedang.
Kondisi tersebut menjadi sinyal positif di tengah penanganan karhutla yang masih dilakukan di sejumlah daerah.
Kemenhut bersama Satgas Gabungan terus melakukan penanganan di wilayah prioritas. Tim gabungan tersebut melibatkan Manggala Agni Kemenhut, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, masyarakat peduli api, serta sejumlah pemangku kepentingan.
Penanganan dilakukan melalui berbagai metode, mulai dari pemadaman darat, patroli, hingga operasi udara untuk menjangkau titik-titik yang sulit ditangani dari darat.
53 Armada Udara Dikerahkan Tangani Karhutla
Untuk memperkuat penanganan, sebanyak 53 unit armada udara dikerahkan secara terukur. Dari jumlah tersebut, 19 unit digunakan untuk patroli udara dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sementara 34 unit lainnya difokuskan untuk pemadaman udara atau water bombing di lokasi yang sulit dijangkau tim darat.
Operasi Modifikasi Cuaca juga terus dioptimalkan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kriteria meteorologis. Operasi ini dilakukan untuk membantu memicu pembentukan awan hujan sehingga dapat mendukung upaya pemadaman dan pengendalian karhutla.
688 Hotspot Terdeteksi di Tujuh Wilayah
Meski kualitas udara menunjukkan perbaikan, pemantauan titik panas masih terus dilakukan. Berdasarkan sistem pemantauan SiPongi Kemenhut berbasis satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 per 3 September 2026 pukul 21.19 WIB, terdeteksi 688 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence.
Pemantauan intensif saat ini difokuskan pada tujuh wilayah utama, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Namun, Kemenhut mengingatkan hotspot tidak otomatis berarti sedang terjadi kebakaran aktif. Data tersebut merupakan indikasi titik panas yang diperoleh melalui penginderaan satelit.
Meski begitu, informasi hotspot menjadi salah satu dasar bagi tim gabungan untuk melakukan verifikasi langsung atau ground check di lapangan dan mengambil tindakan jika ditemukan potensi kebakaran.
(ANN)