Tak Mudah Merawat GBK
Ilustrasi GBK - ANT/Sigid Kurniawan.
Jakarta: Direktur Utama Pusat Pengelolaan Gelora Bung Karno (PPKGBK) Winarto mengakui pemeliharaan kompleks olahraga itu tidak mudah. Apalagi kondisi rumput di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) yang rentan rusak.

Winarto menyebut SUGBK sejatinya tak bisa setiap saat digunakan. Rumput di stadion juga perlu waktu untuk pemulihan setelah digunakan.

"Siapa pun yang menginjak rumput di situ, itu berpotensi merusak rumputnya, termasuk sepak bola. Jadi, memang rumput itu tidak bisa setiap saat dipakai, dia harus diberi waktu untuk dia bernafas dan tumbuh dengan baik," kata Winarto di Kementerian Sekretariat Negara, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat, 30 November 2018.


Winarto tak menampik, rentetan acara di SUGBK dua bulan belakangan ini membuat pihak pengelola harus bekerja keras mengoptimalkan kembali rumput-rumput tersebut. SUGBK sebelumnya sempat digunakan untuk pembukaan dan penutupan Asian Games 2018 dan Asian Paragames serta konser Guns N' Roses.

Belum lagi beberapa pertandingan tim nasional Indonesia dan klub Persija juga digelar di stadion yang diresmikan 24 Agustus 1962 itu. Oleh karena itu, PPKGBK saat ini mulai menutup kegiatan di SUGBK untuk memberi waktu pemulihan bagi rumput stadion.

(Baca juga: Wajah Baru Stadion Gelora Bung Karno)

"Tujuannya untuk menyehatkan rumputnya. Coba ingat-ingat, dari pembukaan Asian Games, dipakai atletik, dipakai penutupan, pembukaan Paragames, konser, bola, padat sekali," ujarnya.

Di sisi lain, padatnya kegiatan yang digelar di GBK maupun di stadion utama juga menaikan antusias publik yang luar biasa. Oleh karena itu, pihak pengelola harus pintar-pintar mengelola dan merawat berbagai fasilitas, termasuk rumput stadion.

Winarto menjelaskan, dalam satu tahun pihaknya butuh biaya Rp130 miliar untuk perawatan di seluruh kompleks GBK. Rp30 miliar di antaranya digunakan hanya untuk biaya perawatan stadion utama.

(Baca juga: Biaya perawatan tinggi, GBK disewakan)

Jika hanya mengandalkan pendapatan dari sewa stadion utama untuk biaya perawatan SUGBK, kata dia, hal itu tidak mungkin dilakukan. Dengan biaya sewa hampir Rp500 juta per event, hal itu tidak bisa dilakukan setiap tahun. 

"Biayanya sekali sewa hampir RP500 juta, coba hitung, kalau untuk nutup Rp30 miliar dengan biaya Rp500 juta butuh berapa event? Harus 60 kali event dalam setahun, kan berarti sebulan harus ada 5 event. Tidak mungkin kan event tiap minggu. Untuk loading dan unloading saja makan waktu berapa hari," tutur dia. 

Karena itu, pihaknya juga melakukan subsidi silang dari fasilitas lain di kompleks GBK. Salah satunya dengan pendapatan dari Istora yang dinilai bisa lebih ramai dan perawatannya tidak terlalu sulit.

"Istora itu salah satu yang ramai, lebih bisnis di sana, komersil, pameran dan sebagainya. Ratenya juga lebih baik," ucap Winarto.

Tahun 2019 nanti, Winarto optimistis, kompleks GBK bakal lebih sering digunakan dalam kegiatan-kegiatan publik. Salah satunya yakni menjelang kampanye Pilpres 2019. 

"Saya tidak mencatat secara khusus (pasangan calon yang booking sewa SUGBK). Mungkin ada. (Tapi) kita netral, dua pihak perlakuannya sama. Karena itu juga bagian dari kegiatan masyarakat," ucap dia.

(Baca juga: Rangkaian Asian Games Selesai, Bagaimana Perawatan GBK?)





(REN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id