Jakarta: Persyarikatan Muhammadiyah dikenal memiliki jaringan kuat dan luas di bidang pendidikan dan aksi sosial. Jamiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini juga memiliki jaringan usaha dan bisnis yang terus berkembang.
Pengamat ekonomi sekaligus tokoh Jaringan Intelektual Berkemajuan (JIB) Dani Setiawan menyebut bisnis dan unit usaha Muhammadiyah selalu menghadirkan kebaruan. Muhammadiyah terus melakukan kegiatan bisnis yang memfasilitasi entrepreneur baru.
“Saya kira di sisi yang lain ada kebutuhan untuk melihat peluang baru bagaimana Muhammadiyah juga tidak hanya mendorong satu dakwah yang sifatnya selalu dan sudah menjadi expertise, seperti di bidang pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Tetapi juga dakwah di bidang ekonomi,” kada Dani saat membuka diskusi virtual bertajuk “Bangkitnya Usaha dan Jaringan Bisnis Muhammadiyah", Senin, 26 April 2021.
Direktur Suara Muhammadiyah Deni Asy’ari mengatakan potensi bisnis di Muhammadiyah sangat besar. Hal itu mengilhami Deni dan teman-teman mengubah arah gerak Suara Muhammadiyah yang dulunya murni sebagai penerbitan dan pusat syi’ar menjadi pusat bisnis.
“Suara Muhammadiyah sebenarnya bukan baru kali ini melakukan gerakan ekonomi jejaring. Tetapi sejak 2014 sampai 2015, kami mendirikan outlet yang namanya SM Corner atau Suara Muhammadiyah Corner yang hari ini sudah ada 80 gerai di seluruh Indonesia dan aktif berjalan semuanya,” beber dia.
(Baca: Jokowi: Indonesia Butuh Banyak Wirausaha Muda)
Pengusaha Muchlas Rowi menyebut strategi pengembangan jaringan usaha Muhammadiyah, meliputi kemandirian dan kolaborasi dengan dunia usaha dan industri. Kemudian, kolaborasi dengan organisasi filantropi, kolaborasi dengan instansi pemerintah, dan kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Dia juga membeberkan potensi luar biasa yang belum digarap di Muhammadiyah. Salah satunya, potensi alumni.
"Muhammadiyah juga dapat memanfaatkan potensi para alumninya yang punya berbagai akses untuk ikut serta dalam membesarkan Muhammadiyah sebagaimana halnya yang dilakukan oleh alumni-alumni di perguruan-perguruan tinggi dalam dan di luar negeri," kata Rowi.
Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah yang juga tergabung dalam Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM), Bambang Wijanarko, sepakat dalam kondisi saat ini bisnis yang dapat berjalan dengan baik ialah yang dikelola jemaah. Seperti close loop economy yang juga telah diterapkan JSM, yaitu pengelolaan bisnis terpadu di satu daerah mulai dari pengelolaan modal, bahan baku, produksi, hingga pemasaran yang dikolela dari, oleh, dan untuk jemaah Persyarikatan.
Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) Bambang Setiaji menyampaikan Muhammadiyah memiliki potensi yang sangat besar untuk berkiprah di ranah ekonomi. Sebab, umat Islam, termasuk Muhammadiyah terus berkembang di Indonesia.
Bambang juga mengingatkan jutaan alumni sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah bisa mendorong usahanya sendiri maupun usaha Persyarikatan. “Optimistis generasi muslim mendatang akan lebih berperan dalam kewirausahaan, memajukan bangsa, dan memberi lapangan kerja bagi sesama,” tutur dia.
Ekonom Hendri Saparini mengatakan Indonesia sebagai rumah besar dapat bermanuver melakukan berbagai aktivitas ekonomi meskipun dalam keadaan pandemi covid-19. Hal ini lantaran jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak dan pelaku usaha yang tidak sedikit.
“Jadi, ini bikin kita optimistis dengan Muhammadiyah. Memang ini peluang yang harus kita manfaatkan,” tegas dia.
Jakarta: Persyarikatan
Muhammadiyah dikenal memiliki jaringan kuat dan luas di bidang pendidikan dan aksi sosial. Jamiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini juga memiliki jaringan usaha dan bisnis yang terus berkembang.
Pengamat ekonomi sekaligus tokoh Jaringan Intelektual Berkemajuan (JIB) Dani Setiawan menyebut bisnis dan unit usaha Muhammadiyah selalu menghadirkan kebaruan. Muhammadiyah terus melakukan kegiatan bisnis yang memfasilitasi
entrepreneur baru.
“Saya kira di sisi yang lain ada kebutuhan untuk melihat peluang baru bagaimana Muhammadiyah juga tidak hanya mendorong satu dakwah yang sifatnya selalu dan sudah menjadi expertise, seperti di bidang pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Tetapi juga dakwah di bidang ekonomi,” kada Dani saat membuka diskusi virtual bertajuk “Bangkitnya Usaha dan Jaringan Bisnis Muhammadiyah", Senin, 26 April 2021.
Direktur Suara Muhammadiyah Deni Asy’ari mengatakan potensi bisnis di Muhammadiyah sangat besar. Hal itu mengilhami Deni dan teman-teman mengubah arah gerak Suara Muhammadiyah yang dulunya murni sebagai penerbitan dan pusat syi’ar menjadi pusat bisnis.
“Suara Muhammadiyah sebenarnya bukan baru kali ini melakukan gerakan ekonomi jejaring. Tetapi sejak 2014 sampai 2015, kami mendirikan outlet yang namanya SM Corner atau Suara Muhammadiyah Corner yang hari ini sudah ada 80 gerai di seluruh Indonesia dan aktif berjalan semuanya,” beber dia.
(Baca:
Jokowi: Indonesia Butuh Banyak Wirausaha Muda)
Pengusaha Muchlas Rowi menyebut strategi pengembangan jaringan usaha Muhammadiyah, meliputi kemandirian dan kolaborasi dengan dunia usaha dan industri. Kemudian, kolaborasi dengan organisasi filantropi, kolaborasi dengan instansi pemerintah, dan kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Negara (
BUMN).
Dia juga membeberkan potensi luar biasa yang belum digarap di Muhammadiyah. Salah satunya, potensi alumni.
"Muhammadiyah juga dapat memanfaatkan potensi para alumninya yang punya berbagai akses untuk ikut serta dalam membesarkan Muhammadiyah sebagaimana halnya yang dilakukan oleh alumni-alumni di perguruan-perguruan tinggi dalam dan di luar negeri," kata Rowi.
Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah yang juga tergabung dalam Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM), Bambang Wijanarko, sepakat dalam kondisi saat ini bisnis yang dapat berjalan dengan baik ialah yang dikelola jemaah. Seperti
close loop economy yang juga telah diterapkan JSM, yaitu pengelolaan bisnis terpadu di satu daerah mulai dari pengelolaan modal, bahan baku, produksi, hingga pemasaran yang dikolela dari, oleh, dan untuk jemaah Persyarikatan.
Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) Bambang Setiaji menyampaikan Muhammadiyah memiliki potensi yang sangat besar untuk berkiprah di ranah ekonomi. Sebab, umat Islam, termasuk Muhammadiyah terus berkembang di Indonesia.
Bambang juga mengingatkan jutaan alumni sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah bisa mendorong usahanya sendiri maupun usaha Persyarikatan. “Optimistis generasi muslim mendatang akan lebih berperan dalam kewirausahaan, memajukan bangsa, dan memberi lapangan kerja bagi sesama,” tutur dia.
Ekonom Hendri Saparini mengatakan Indonesia sebagai rumah besar dapat bermanuver melakukan berbagai aktivitas ekonomi meskipun dalam keadaan pandemi covid-19. Hal ini lantaran jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak dan pelaku usaha yang tidak sedikit.
“Jadi, ini bikin kita optimistis dengan Muhammadiyah. Memang ini peluang yang harus kita manfaatkan,” tegas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)