Pelaku Kejahatan Mayoritas Orang Dekat Korban
Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel. (Foto: Metro TV)
Jakarta: Abdulah Fithri Setiawan alias Dufi meregang nyawa di tangan pasangan suami istri Nurhadi dan Sari saat bertandang ke kediaman keduanya. Pasutri pembunuh Dufi bukanlah orang asing. Mereka saling mengenal.

Serupa dengan Dufi, pembantaian keluarga Daperum Nainggolan di Bekasi, Jawa Barat, juga dilakukan orang dekat. Pelaku pembantaian, Haris Simamora, merupakan paman kedua anak Daperum yang juga tewas akibat dicekik.

Dari kedua kasus tersebut, kesimpulan pelaku kejahatan mayoritas merupakan orang terdekat korban cukup masuk akal. Psikolog Reza Indragiri mengungkap pelaku paling potensial menghabisi seseorang tidak lain mereka yang sudah dikenal.


"Karena mereka sudah tahu persis pola kebiasaan hidup kita. Kita bangun jam berapa, berangkat kerja jam berapa, anak-anak berada di mana. Informasi-informasi semacam itu hanya dimiliki orang yang kenal dekat dengan kita," ujarnya dalam Metro Pagi Primetime, Sabtu, 24 November 2018.

Menurut Reza, kemungkinan seseorang dihabisi orang terdekat seperti kerabat hitung-hitungannya lebih tinggi ketimbang potensi pelaku orang asing. Orang terdekat umumnya memiliki perbendaharaan informasi dasar korban dan celah mana yang bisa dimanfaatkan.

"Makanya masuk akal orang yang potensial menghabisi kita sesungguhnya bukan orang asing tapi orang yang kenal dekat dengan kita," ungkapnya.

Kendati secara umum dilakukan orang yang dikenal, motif kejahatan yang dilancarkan pelaku tidak selalu sama. Barangkali, kata Reza, pelaku hanya ingin menguasai harta korban namun potensi motif lebih dari hal tersebut tetap mungkin.

Dalam kasus kematian Dufi, Reza memperoleh informasi bahwa kedua pelaku ingin memperoleh barang milik korban. Artinya, motif pembunuhan Dufi sementara ialah motif instrumental bukan motif emosional.

"Motif instrumental adalah dorongan melakukan kejahatan untuk mendapatkan manfaat tertentu. Entah popularitas, harta, atau menutupi kejahatan lain," kata Reza.

Untuk menentukan sebuah pembunuhan direncanakan atau tidak, Reza menilai paling tidak ada empat hal yang harus ditakar. Pertama, target yang bisa dijangkau, kedua insentif yang bisa didapatkan sepadan dengan aksi kejahatan, ketiga sumberdaya yang harus efektif mencapai visi kejahatan, dan keempat risiko yang sudah harus mampu dikendalikan pelaku.

"Kalau targetnya dinilai positif, insentif, sumberdaya, dan risikonya positif, peluang bagi pelaku melakukan pembunuhan berencana semakin tinggi," lanjut dia. 

Reza menambahkan ketika target, insentif, sumberdaya, dan risiko yang akan diambil pelaku telah positif, peluang melakukan pembunuhan berencana semakin tinggi. Konsekuensinya, ungkap dia, apabila penyidik yakin keempat unsur ini positif, semakin bulat kesimpulan pelaku melakukan perencanaan pembunuhan, bulat pula lah aksi pembunuhan tersebut dilakukan secara terencana.

"Semakin bulat simpulan itu, semakin mantap nantinya bagi kejaksaan memberikan ancaman hukuman maksimal pda tersangka yakni hukuman mati," jelasnya.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id