medcom.id, Jakarta: Psikiater Lidya Heryanto menyebut ide untuk bunuh diri bisa tebersit oleh siapa saja, dari anak-anak hingga dewasa. Tetapi pada umumnya kasus bunuh diri banyak dilakukan oleh remaja dan dewasa muda.
Lidya mengatakan ide untuk mengakhiri hidup bisa dilakukan karena berbagai alasan. Namun yang paling sering, modus bunuh diri dilakukan sebagai salah satu cara seseorang untuk menyelesaikan masalah.
"Salah satu faktor utama munculnya ide bunuh diri karena adanya perilaku untuk menyelesaikan sebuah masalah," ujar Lidya, dalam Selamat Pagi Indonesia, Senin 24 Juli 2017.
Menurut Lidya setidaknya ada dua faktor risiko mengapa orang memilih bunuh diri sebagai cara untuk menyelesaikan masalah. Pertama karena ada faktor kerentanan, dan kedua adanya trigger yang mendorong seseorang untuk mengakhiri hidup.
Kerentanan seseorang hingga muncul ide bunuh diri umumnya terjadi pada orang-orang yang bermasalah secara emosi. Misalnya tak mampu mengendalikan emosi atau memiliki gangguan jiwa seperti depresi atau psikosis.
"Bisa juga karena gangguan kepribadian atau penyalahgunaan zat. Penyalahgunaan zat juga salah satu faktor utama orang akhirnya muncul ide bunuh diri," ungkapnya.
Sementara dari faktor trigger biasanya dilatarbelakangi suatu perubahan yang mendadak yang meruntuhkan eksistensi diri. Misalnya dipecat dari pekerjaan, merasa kehilangan sesuatu secara tiba-tiba atau mengalami kekerasan.
Menurut Lidya tak ada obat, penangkal, atau penahan agar seseorang tidak melakukan bunuh diri. Bahkan dukungan keluarga pun kadang bukan solusi ketika keluarga atau masyarakat tidak memiliki pengetahuan tentang masalah ini.
"Jadi kita berpikir perlu adanya kolaborasi antara komunitas dan psikiater sendiri untuk memberikan edukasi karena orang-orang dengan kerentanan seperti ini punya faktor risiko untuk melakukan bunuh diri," jelasnya.
medcom.id, Jakarta: Psikiater Lidya Heryanto menyebut ide untuk bunuh diri bisa tebersit oleh siapa saja, dari anak-anak hingga dewasa. Tetapi pada umumnya kasus bunuh diri banyak dilakukan oleh remaja dan dewasa muda.
Lidya mengatakan ide untuk mengakhiri hidup bisa dilakukan karena berbagai alasan. Namun yang paling sering, modus bunuh diri dilakukan sebagai salah satu cara seseorang untuk menyelesaikan masalah.
"Salah satu faktor utama munculnya ide bunuh diri karena adanya perilaku untuk menyelesaikan sebuah masalah," ujar Lidya, dalam
Selamat Pagi Indonesia, Senin 24 Juli 2017.
Menurut Lidya setidaknya ada dua faktor risiko mengapa orang memilih bunuh diri sebagai cara untuk menyelesaikan masalah. Pertama karena ada faktor kerentanan, dan kedua adanya
trigger yang mendorong seseorang untuk mengakhiri hidup.
Kerentanan seseorang hingga muncul ide bunuh diri umumnya terjadi pada orang-orang yang bermasalah secara emosi. Misalnya tak mampu mengendalikan emosi atau memiliki gangguan jiwa seperti depresi atau psikosis.
"Bisa juga karena gangguan kepribadian atau penyalahgunaan zat. Penyalahgunaan zat juga salah satu faktor utama orang akhirnya muncul ide bunuh diri," ungkapnya.
Sementara dari faktor
trigger biasanya dilatarbelakangi suatu perubahan yang mendadak yang meruntuhkan eksistensi diri. Misalnya dipecat dari pekerjaan, merasa kehilangan sesuatu secara tiba-tiba atau mengalami kekerasan.
Menurut Lidya tak ada obat, penangkal, atau penahan agar seseorang tidak melakukan bunuh diri. Bahkan dukungan keluarga pun kadang bukan solusi ketika keluarga atau masyarakat tidak memiliki pengetahuan tentang masalah ini.
"Jadi kita berpikir perlu adanya kolaborasi antara komunitas dan psikiater sendiri untuk memberikan edukasi karena orang-orang dengan kerentanan seperti ini punya faktor risiko untuk melakukan bunuh diri," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MEL)