medcom.id, Jakarta: General Manager Comercial Aviastar Mandiri Petrus Budi Prasetyo menyatakan Pilot Capt. Irifriadi dan Kopilot Yudistira Febby, yang menerbangkan pesawat dengan nomor penerbangan MV 7503 di rute penerbangan Masamba-Makasar, cukup berpengalaman. Keduanya punya jam terbang tinggi.
"Jam terbang dari Pilot dan Kopilot juga cukup pengalaman. Pilot kumulatifnya itu 2911 jam terbang, sementara Kopilot lebih senior yaitu 4035 jam," kata Petrus saat ditemui di kantor Avistar, Kalimalang, Jakarta Timur, Jumat (2/10/2015).
Menurut dia, pesawat produksi Kanada tahun 1981 itu yang dikendarai keduanya juga dalam kondisi layak terbang. Terakhir, pesawat tersebut diinspeksi atau perawatan pada 15 September 2015.
Pesawat jenis Twin Otter DHC6 milik maskapai penerbangan Aviastar dengan rute penerbangan Masamba-Makasar mengalami hilang kontak, Jum'at sore. Pesawat yang di awaki Pilot Capt. Roy Iriafiradi dengan Kopilot Yudhistira Febby membawa tujuh penumpang yang terdiri dari empat orang dewasa, satu anak-anak dan dua bayi.
Pesawat itu hilang kontak 11 menit setelah take off dari Bandara Andi Djema Masamba, Sulawesi Selatan pada pukul 14.25 WITA. Sebelum hilang kontak, pesawat dengan kapasitas 19 orang itu sempat dua kali memberikan kabar posisi pesawat.
"Mereka sempat mengadakan kontak dengan ATC (Air Trafic Controller) Ujung Pandang Makasar info pada pukul 14.33 WITA pada ketinggian 4500 kaki dan pada 14.36 WITA ketinggian 8000 kaki. Kemudian mereka mengarah ke Makasar. Saat itu kondisi (terbang) normal, tidak ada indikasi gangguan," kata Petrus.
Pesawat itu harusnya melaporkan kembali posisi terbang pada pukul 15.15 WITA. Namun, tidak ada kontak dengan menara pengawas. "Harusnya menyampaikan posisi terakhir pada pukul 15.15 atau sekitar 60 nautical mile dari Makasar tidak terjadi laporan, kemudian terus dikontak menara pengawas dan tidak merespon," ucapnya
Karena tidak ada respon sampai waktu yang ditentukan, Aviastar menyatakan pesawat hilang. Aviastar juga telah berkoordinasi dengan Basarnas dan Sentra Komunikasi (Senkom) Polri setempat.
Petrus menambahkan, sejauh ini tim telah menyisir melalui jalur darat di sekitar Bone. Sementara untuk jalur udara, baru bisa dilakukan pada Sabtu (3/10/2015) pagi.
"Terakhir kontak kan 11 menit dari Masamba, jarak 60 nautical mile dari Makasar. Jadi jarak itu yang kami telusuri. Untuk udara baru bisa kami lakukan esok pagi," ucap Petrus
Hingga saat ini Aviastar belum bisa memastikan penyebab hilangnya pesawat. Namun, Petrus memastikan cuaca di daerah sekitar hilangnya pesawat itu dalam kondisi baik.
"Pada saat berangkat cuaca bagus dari Masamba jarak pandang 9 kilometer. Sementara untuk daerahnya itu memang melewati sedikit pegunungan. Tapi saya rasa mau terbang di pegunungan dan pantai pun kalau aturan diikuti gak masalah," pungkas dia.
Aviastar, kata Petrus, akan memberikan uang kompensasi kepada keluarga korban. "Semua biaya yang timbul itu masuk ke kami," ucap dia.
medcom.id, Jakarta: General Manager Comercial Aviastar Mandiri Petrus Budi Prasetyo menyatakan Pilot Capt. Irifriadi dan Kopilot Yudistira Febby, yang menerbangkan pesawat dengan nomor penerbangan MV 7503 di rute penerbangan Masamba-Makasar, cukup berpengalaman. Keduanya punya jam terbang tinggi.
"Jam terbang dari Pilot dan Kopilot juga cukup pengalaman. Pilot kumulatifnya itu 2911 jam terbang, sementara Kopilot lebih senior yaitu 4035 jam," kata Petrus saat ditemui di kantor Avistar, Kalimalang, Jakarta Timur, Jumat (2/10/2015).
Menurut dia, pesawat produksi Kanada tahun 1981 itu yang dikendarai keduanya juga dalam kondisi layak terbang. Terakhir, pesawat tersebut diinspeksi atau perawatan pada 15 September 2015.
Pesawat jenis Twin Otter DHC6 milik maskapai penerbangan Aviastar dengan rute penerbangan Masamba-Makasar mengalami hilang kontak, Jum'at sore. Pesawat yang di awaki Pilot Capt. Roy Iriafiradi dengan Kopilot Yudhistira Febby membawa tujuh penumpang yang terdiri dari empat orang dewasa, satu anak-anak dan dua bayi.
Pesawat itu hilang kontak 11 menit setelah
take off dari Bandara Andi Djema Masamba, Sulawesi Selatan pada pukul 14.25 WITA. Sebelum hilang kontak, pesawat dengan kapasitas 19 orang itu sempat dua kali memberikan kabar posisi pesawat.
"Mereka sempat mengadakan kontak dengan ATC (
Air Trafic Controller) Ujung Pandang Makasar info pada pukul 14.33 WITA pada ketinggian 4500 kaki dan pada 14.36 WITA ketinggian 8000 kaki. Kemudian mereka mengarah ke Makasar. Saat itu kondisi (terbang) normal, tidak ada indikasi gangguan," kata Petrus.
Pesawat itu harusnya melaporkan kembali posisi terbang pada pukul 15.15 WITA. Namun, tidak ada kontak dengan menara pengawas. "Harusnya menyampaikan posisi terakhir pada pukul 15.15 atau sekitar 60
nautical mile dari Makasar tidak terjadi laporan, kemudian terus dikontak menara pengawas dan tidak merespon," ucapnya
Karena tidak ada respon sampai waktu yang ditentukan, Aviastar menyatakan pesawat hilang. Aviastar juga telah berkoordinasi dengan Basarnas dan Sentra Komunikasi (Senkom) Polri setempat.
Petrus menambahkan, sejauh ini tim telah menyisir melalui jalur darat di sekitar Bone. Sementara untuk jalur udara, baru bisa dilakukan pada Sabtu (3/10/2015) pagi.
"Terakhir kontak kan 11 menit dari Masamba, jarak
60 nautical mile dari Makasar. Jadi jarak itu yang kami telusuri. Untuk udara baru bisa kami lakukan esok pagi," ucap Petrus
Hingga saat ini Aviastar belum bisa memastikan penyebab hilangnya pesawat. Namun, Petrus memastikan cuaca di daerah sekitar hilangnya pesawat itu dalam kondisi baik.
"Pada saat berangkat cuaca bagus dari Masamba jarak pandang 9 kilometer. Sementara untuk daerahnya itu memang melewati sedikit pegunungan. Tapi saya rasa mau terbang di pegunungan dan pantai pun kalau aturan diikuti gak masalah," pungkas dia.
Aviastar, kata Petrus, akan memberikan uang kompensasi kepada keluarga korban. "Semua biaya yang timbul itu masuk ke kami," ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(OGI)