Jakarta: Memasuki separuh kedua bulan Ramadan, umat Islam mulai mempersiapkan diri untuk menjemput malam Lailatul Qadar. Salah satu ibadah yang paling utama dalam fase ini adalah iktikaf. Amalan yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) ini merupakan tradisi yang tak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW selama hidupnya.
Kapan Iktikaf Ramadan Dimulai?
Melansir dari laman NU Online Lampung, iktikaf secara khusus sangat dianjurkan untuk dilaksanakan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Rasulullah SAW biasanya memperketat ibadahnya dan berdiam diri di masjid sejak memasuki malam ke-21 Ramadan hingga hari terakhir bulan suci.
Jika merujuk pada kalender Ramadan 2026, sepuluh hari terakhir (malam ke-21) diperkirakan jatuh pada sekitar tanggal 9 atau 10 Maret 2026. Namun, iktikaf sebenarnya boleh dilakukan kapan saja, baik dalam waktu singkat maupun lama, selama syarat dan rukunnya terpenuhi.
Praktik iktikaf merujuk pada sunnah Rasulullah SAW yang secara konsisten meningkatkan intensitas ibadahnya di penghujung Ramadan. Beliau tidak hanya beribadah sendirian, tetapi juga melibatkan keluarganya untuk bersama-sama menghidupkan malam-malam terakhir demi meraih ridha Allah SWT.
لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم إذا بقي من رمضان عشرة أيام يدع أحدا من أهله يطيق القيام إلا أقامه
Artinya: Nabi Muhammad saw, ketika 10 hari terakhir bulan Ramadhan tiba, beliau tidak pernah membiarkan anggota keluarganya yang mampu untuk melakukan shalat malam (qiyamul lail) untuk meninggalkannya. Beliau selalu mengajak mereka untuk bangun dan shalat (HR At-Tirmdizi).
Definisi Itikaf
Secara esensi, iktikaf adalah aktivitas berdiam diri di dalam masjid yang dilandasi dengan niat tulus. Ibadah ini menjadi sarana untuk membangun kedekatan personal dengan Allah SWT melalui serangkaian amalan seperti zikir, tasbih, tilawah Al-Qur'an, hingga perenungan diri (muhasabah).
Dengan beriktikaf, seseorang mencoba memutus sejenak keterikatan duniawi yang melalaikan, sembari menyibukkan diri dengan ilmu agama dan berinteraksi dengan lingkungan yang saleh demi menjaga orientasi hidup pada akhirat
Iktikaf adalah momentum bagi kita untuk "menepi" sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan fokus total kepada Sang Khalik. Dengan memulai iktikaf di sepuluh malam terakhir, kita berharap dapat meraih kemuliaan Lailatul Qadar dalam kondisi spiritual yang paling optimal.
(Fany Wirda Putri)
Jakarta: Memasuki separuh kedua bulan Ramadan, umat Islam mulai mempersiapkan diri untuk menjemput malam Lailatul Qadar. Salah satu ibadah yang paling utama dalam fase ini adalah
iktikaf. Amalan yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) ini merupakan tradisi yang tak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW selama hidupnya.
Kapan Iktikaf Ramadan Dimulai?
Melansir dari laman NU Online Lampung, iktikaf secara khusus sangat dianjurkan untuk dilaksanakan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Rasulullah SAW biasanya memperketat ibadahnya dan berdiam diri di masjid sejak memasuki malam ke-21 Ramadan hingga hari terakhir bulan suci.
Jika merujuk pada kalender Ramadan 2026, sepuluh hari terakhir (malam ke-21) diperkirakan jatuh pada sekitar tanggal 9 atau 10 Maret 2026. Namun, iktikaf sebenarnya boleh dilakukan kapan saja, baik dalam waktu singkat maupun lama, selama syarat dan rukunnya terpenuhi.
Praktik iktikaf merujuk pada sunnah Rasulullah SAW yang secara konsisten meningkatkan intensitas ibadahnya di penghujung Ramadan. Beliau tidak hanya beribadah sendirian, tetapi juga melibatkan keluarganya untuk bersama-sama menghidupkan malam-malam terakhir demi meraih ridha Allah SWT.
لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم إذا بقي من رمضان عشرة أيام يدع أحدا من أهله يطيق القيام إلا أقامه
Artinya: Nabi Muhammad saw, ketika 10 hari terakhir bulan Ramadhan tiba, beliau tidak pernah membiarkan anggota keluarganya yang mampu untuk melakukan shalat malam (qiyamul lail) untuk meninggalkannya. Beliau selalu mengajak mereka untuk bangun dan shalat (HR At-Tirmdizi).
Definisi Itikaf
Secara esensi, iktikaf adalah aktivitas berdiam diri di dalam masjid yang dilandasi dengan niat tulus. Ibadah ini menjadi sarana untuk membangun kedekatan personal dengan Allah SWT melalui serangkaian amalan seperti zikir, tasbih, tilawah Al-Qur'an, hingga perenungan diri (muhasabah).
Dengan beriktikaf, seseorang mencoba memutus sejenak keterikatan duniawi yang melalaikan, sembari menyibukkan diri dengan ilmu agama dan berinteraksi dengan lingkungan yang saleh demi menjaga orientasi hidup pada akhirat
Iktikaf adalah momentum bagi kita untuk "menepi" sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan fokus total kepada Sang Khalik. Dengan memulai iktikaf di sepuluh malam terakhir, kita berharap dapat meraih kemuliaan Lailatul Qadar dalam kondisi spiritual yang paling optimal.
(
Fany Wirda Putri) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)