Takengon: Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Syiah Kuala (USK) Dr. Safrizal ZA mengatakan bahwa anggota Majelis Wali Amanat memiliki tanggung jawab mengawal kepemimpinan Rektor USK Prof. Dr. Mirza Tabrani.
Hal itu disampaikan dalam rapat kerja USK yang mengangkat tema ‘Penguatan good university governance, hilirisasi dan inovasi riset berkelanjutan serta peningkatan IKU menuju USk bereputasi global’.
Setiap fakultas harus diberikan tanggung jawab untuk mewujudkan tercapainya tujuan. Semua tanggung jawab harus diukur dengan skor tertentu. Bila tidak tercapai, dekan harus dievaluasi. Bila mampu, maka harus diberikan apresiasi.
Dengan anggaran yang hanya Rp900 miliar, USK memiliki tanggung jawab besar. Sehingga efisiensi wajib diterapkan, dan inovasi harus dilahirkan.
Saat ini dunia sedang berada dalam masa transisi menuju dan memasuki era Industri 5.0. Tiga pilar utama era industri 5.0 yaitu human centric, sustainability, dan resilience. Di tahap ini tantangan semakin besar.
Menurut Safrizal, USK memiliki lima tantangan yang harus dijawab. Pertama, tantangan menciptakan nilai tambah untuk komoditas pertanian yang dihasilkan oleh Aceh Tengah yang dikenal sebagai sentra pertanian di Aceh.
Kedua, tantangan penguasaan teknologi. USK harus mampu menjadi kreator teknologi untuk menciptakan penghasilan yang nantinya dapat dijadikan modal untuk melakukan berbagai inovasi.
Ketiga, USK harus mampu melahirkan riset banyak riset. Keempat, mendorong talenta-talenta di USK menjadi sesuatu yang memiliki nilai besar bagi dunia ilmu pengetahuan dan kebutuhan industri.
Kelima, dalam menghadapi kompetisi global, USK harus mampu mengubah sumber daya menjadi keunggulan.
"USK sering kita sebut besar. Kita harus bertanggung jawab atas nama besar itu. Aceh kaya tapi tak memiliki industri yang memadai untuk mengolah sumber daya Aceh medapatkan nilai tambah. USK harus mampu mendorong lahirnya industri yang menciptakan nilai tambah,” kata Safrizal.
Safrizal juga berpesan, USK harus mampu menciptakan bibit-bibit unggul bidang pertanian karena Aceh dikenal dengan pertaniannya.
"Kita selama ini impor semua kebutuhan. Kita hanya surplus padi sebelum bencana. Kampus harus mampu menciptakan benih dan bibit unggul untuk sektor pertanian. Supaya uang Aceh tidak semakin banyak mengalir ke luar,” pungkasnya.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan