Umat Buddha di Pagoda Shwedagon,Yangon, Myanmar. (Foto: MI/Usman Iskandar)
Umat Buddha di Pagoda Shwedagon,Yangon, Myanmar. (Foto: MI/Usman Iskandar)

Umat Buddha Rayakan Oesyiki

Tosiani • 09 November 2014 10:02
medcom.id, Purwokerto: Umat Buddha dari sekte Niciren Syosyu sentra Jawa Tengah bagian selatan memperingati Perayaan Oesyiki 2014 di Vihara Vimalakirti Purwokerto, Sabtu (8/11)-Minggu (9/11).
 
Umat datang dari berbagai daerah. Antara lain Temanggung, Wonosobo, Yogyakarta, Purworejo, Semarang, Surabaya, Cilacap, Pekalongan, Tegal, Jakarta, dan Purwokerto.
 
Jumlah umat yang datang sangat banyak, sehingga membuat ruangan vihara penuh sesak. Ruangan vihara sudah dihias dengan bunga-bunga kertas warna pink yang dibuat menyerupai bunga sakura.

Peringatan Oesyiki ini untuk memperingati wafatnya Buddha Pokok Niciren Daisyonin. Perayaan ini sekaligus juga untuk memperingati saat Buddha menyerukan Risyo Ankoku Ron, yakni menegakkan negara dengan filsafat yang benar.
 
Rangkaian acara perayaan Oesyiki dimulai sejak Sabtu (8/11) Malam dengan upacara Otaiya. Pada upacara ini, puluhan pemuda dan pemudi membawa persembahan berupa buah-buahan untuk diserahkan pada Bhiksu pemimpin upacara, untuk kemudian diletakan di depan altar.
 
Setelah itu Bhiksu Yang Arya Shokun Takahashi memimpin sembahyang Otaiya. Upacara ini seperti layaknya tradisi malam kembang. Selesai upacara, para umat berkesempatan untuk melakukan dialog dengan Bhiksu. Mereka menanyakan berbagai permasalahan pribadi maupun seputar agama guna mendapatkan solusi.
 
Setelah itu generasi muda menyuguhkan beberapa pertunjukan. Di antaranya, tari-tarian, pentas musik, menyanyi dan pertunjukan teater. Acara hiburan ini berlangsung hingga malam hari.
 
Acara dilanjutkan pada Minggu (9/11). Setelah melaksanakan sembahyang pagi, menjelang siang Bhiksu Yang Arya Shokun Takahashi memimpin upacara inti yakni Oesyiki. Dalam upacara itu, Bhiksu membacakan bab Risyo Ankoku Ron.
 
Bhiksu YA Shokun Takahasi, dalam sambutannya, mengatakan, Umat Buddha harus menjalankan maitri karuna, yakni dengan membagi kebahagiaan dengan banyak orang.
 
"Kita harus membagi kebahagiaan kepada sebanyak mungkin orang. Kita harus berdoa bukan hanya untuk kebahagiaan diri sendiri tapi juga orang lain. Kita harus memiliki maitri karuna untuk memikirkan kebahagiaan orang lain," kata Bhiksu.
 
Menurut Yang Arya Takahashi, untuk mewujudkan maitri karuna itu diperlukan perjuangan terus menerus. Tujuannya agar semua orang berbahagia.
 
"Jadi kita harus berjuang dalam pelaksanaan sehari-hari. Kita tidak akan dapat menjadi bahagia dan menjadi damai jika hanya memikirkan diri sendiri. Kita harus melaksanakan shakubuku agar dapat mencapai kebahagiaan sesungguhnya. Saya mengajak anda untuk membagi kebahagiaan dengan sebanyak mungkin orang," kata Bhiksu.
 
Ketua Yayasan Pandita Sabha Buddha Dharma Indonesia (YPSBDI) Sentra Jateng Selatan, Pandhita Laniwati, mengatakan, pada Perayaan Oesyiki 2014, para umat bertekad untuk tidak berburuk sangka pada orang lain. Biasanya, trauma masa lalu membuat seseorang mudah berburuk sangka. Buruk sangka ini menyebabkan hubungan keluarga juga kurang harmonis. Karena buruk sangka pula, orang menjadi susah bekerja sama.
 
"Tekad kita supaya jangan selalu berprasangka buruk dalam hati karena itu menggerogoti jiwa sendiri. Kita jadi sukar bekerjasama dengan orang lain, suami dan keluarga jika masih berburuk sangka. Kita harus fokus menjalankan hati kepercayaan supaya bisa shakuku," ujar Laniwati.
 

 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ADF)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>