Penanganan karhutla di Kalimantan. Foto: Kementerian Kehutanan
Penanganan karhutla di Kalimantan. Foto: Kementerian Kehutanan

Kondisi Karhutla: Ini Data Terbaru Titik Panas di Sumatra dan Kalimantan

Annisa ayu artanti • 10 Oktober 2026 12:52
Ringkasnya gini..
  • Titik panas karhutla turun menjadi 387 pada 8 Oktober 2026, tetapi Sumsel dan Kalteng masih mencatat angka tertinggi.
  • Pemerintah menyiagakan 61 armada udara untuk pengendalian karhutla, sementara kualitas udara di sebagian Sumatera dan Kalimantan masih perlu diwaspadai.
  • Sedikitnya 272 satwa liar di Kalimantan telah mendapat penanganan akibat kebakaran atau gangguan habitat.
Jakarta: Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia turun tajam menjadi 387 titik hingga Kamis, 8 Oktober 2026. 

Meski begitu, Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah masih menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.

Data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan menunjukkan, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional berkurang 789 titik dibandingkan Rabu, 7 Oktober 2026, yang mencapai 1.176 titik.

Data tersebut dihimpun hingga pukul 21.10 WIB menggunakan pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.

Sumsel dan Kalteng Masih Catat Titik Panas Terbanyak

Mengutip laman Kementerian Kehutanan pada Sabtu, 10 Oktober 2026, data terakhir menunjukan enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, perkembangan hotspot high confidence tercatat sebagai berikut:

• Sumatera Selatan: 130 titik, turun dari 224 titik
• Kalimantan Tengah: 86 titik, turun dari 225 titik
• Kalimantan Selatan: 37 titik, meningkat dari 31 titik
• Kalimantan Barat: 12 titik, turun dari 47 titik
• Jambi: 3 titik, turun dari 16 titik
• Riau: nihil, tetap nihil.
 

Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 268 hotspot high confidence, turun dari 543 titik sehari sebelumnya.

Penurunan tersebut merupakan perkembangan yang perlu terus dijaga. Namun, Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa kewaspadaan tidak dapat dikurangi karena dinamika karhutla dapat berubah dengan cepat dan kondisi antarwilayah tidak selalu sama. 

Di sisi lain, Kementerian Kehutanan juga terus mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar. 

Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual dan menentukan tindakan penanganan yang diperlukan.

Operasi Darat dan Udara Tetap Diperkuat

Pengendalian karhutla terus dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan para pihak terkait. 

Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing.

Operasi udara berjalan bersama penanganan di darat melalui patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, dan pendinginan. 

Perhatian khusus tetap diberikan pada kawasan gambut. Bara dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api di atas tanah sudah tidak terlihat. Karena itu, proses pembasahan dan pendinginan harus terus dilakukan hingga lokasi benar-benar aman.

Ikuti Informasi Resmi Karhutla

Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengikuti informasi resmi mengenai kondisi udara dan arahan pemerintah daerah. Apabila kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. 
Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan maupun penyakit kronis.

Selain melindungi masyarakat dan kawasan hutan, Kementerian Kehutanan terus melakukan penyelamatan dan penanganan satwa liar yang terdampak kebakaran maupun gangguan habitat di Kalimantan. 

Berdasarkan rekap terkini, sedikitnya 272 individu satwa di Kalimantan telah mendapatkan penanganan, melalui kegiatan rescue atau evakuasi, translokasi, rehabilitasi, hingga penggiringan menuju habitat yang lebih aman sesuai kondisi di lapangan.


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>