Polisi mengautopsi jasad Dafa. Foto: MTVN
Polisi mengautopsi jasad Dafa. Foto: MTVN

Kapolres: Kematian Dafa tidak Wajar

Deny Irwanto • 27 Oktober 2016 10:02
medcom.id, Tangerang: Kepolisian memastikan kematian Dafa Mustaqim, 7, tidak wajar. Kesimpulan itu merujuk pada hasil autopsi pada 24 Oktober, yang menunjukkan ada luka di bagian kepala Dafa.
 
"Hasil sementara memang ada dugaan kematiannya tidak wajar. Ada luka lebam di mata kiri dan ada benturan pada kepala bagian belakang," kata Kapolres Metro Tangerang Kombes Irman Sugema di Polres Metro Tangerang, Kamis (27/10/2016).
 
Irman mengatakan, hasil autopsi masih terus didalami. Polisi akan menggunakan hasil autopsi sebagai salah satu bukti untuk menjerat terduga penganiaya Dafa.

Polisi mengamankan Yati, ibu tiri Dafa, di Mapolsek Ciledug untuk kepentingan penyelidikan kasus kematian Dafa dan menghindari amukan massa. Irman mengatakan, status Yati sejauh ini masih saksi.
 
Untuk menguatkan bukti, polisi juga memeriksa 16 saksi yang mengetahui penganiayaan terhadap Dafa.
"Pemeriksaan termasuk kepada guru dan tetangga," ujar Irman.
 
Dafa Mustaqim, siswa kelas 1 B SDN Larangan, Kota Tangerang, meninggal setelah suhu tubuhnya tinggi, Kamis 20 Oktober. Orangtua membawa Dafa ke Rumah Sakit Sari Asih Ciledug, namun pihak rumah sakit meminta uang muka Rp13 juta untuk perawatan di Intensif Care Unit.
 
Orangtua Dafa angkat tangan, tidak punya uang sebanyak itu. Lalu, Dafa hanya dirawat di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Sari Asih hingga akhirnya meninggal dunia pada hari yang sama.
 
Sejak awal, penyebab kematian Dafa memicu kecurigaan. Polisi berupaya mencari kepastian penyebab kematian Dafa, antara lain dengan membongkar makam dan mengautopsi jasad Dafa.
 
Sehari sebelum meninggal, Dafa datang ke sekolah dengan kepala berdarah. Mulyanih, guru SDN Larangan, mengatakan, itu bukan pertama kali tubuh Dafa terlihat terluka.
 
Dugaan sementara, Yati lah yang menganiaya Dafa. "Kami bujuk, Dafa mengakui kalau dipukul ibunya pakai sapu," kata Mulyanih.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TRK)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>