Ilustrasi/Medcom.id
Ilustrasi/Medcom.id

Misi Mulia dari Bandung: Membendung Covid-19!

Tetap Optimistis Meski Telat Start

Nasional Virus Korona Bio Farma Unpad Konvergensi MGN
Media Indonesia, Ferdian Ananda, Nur Azizah, Medcom • 19 Agustus 2020 07:41
Jakarta: Warga dunia sangat berharap vaksin segera hadir untuk bisa memutus mata rantai penularan covid-19. Tak terkecuali di Indonesia. Enam bulan berjibaku dengan kebiasaan baru, keberadaan vaksin sangat dinanti untuk bisa memulai kembali kehidupan tanpa rasa takut.
 
Namun, Indonesia mengakui telat dalam memulai menciptakan vaksin. Sementara Tiongkok lebih dulu memulai karena memang kemunculan virus korona berasal dari sana.
 
"Karena waktu dan cara untuk bisa mendapatkan vaksin itu adalah, pertama dia harus bisa mengisolasi virus. Pada awal-awal kita masih telat dalam mengumpulkan virusnya," kata Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito, kepada Tim Liputan Media Group News, di Graha BNPB Jakarta, Senin, 17 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, negara lainnya terutama Tiongkok yang pertama mengalami pandemi Covid-19 telah mengumpulkan virus tersebut. Sehingga, mereka lebih cepat mengembangkan vaksin itu dibandingkan dengan Indonesia.
 
"Dalam rangka melidungi masyarakat, pemerintah berusaha untuk memiliki akses tercepat pada vaksin. Salah satunya adalah Sinovac," kata Wiku.
 
Sementara itu, Pemerintah Indonesia juga mengembangkan penelitian tentang vaksin covid-19 yang dilakukan oleh Lembaga Eijkman dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Kelak riset ini akan menghasilkan vaksin berjuluk 'Merah Putih'. Melalui riset itu, Indonesia berupaya menyejajarkan diri dengan para pembuat vaksin dari negara lain.
 
Direktur Lembaga Biologi Molekular Eijkman, Amin Soebandrio, mengatakan Indonesia telah menjalani proses uji klinis fase ketiga vaksin Covid-19 dari Sinovac. Namun, Indonesia sendiri terlambat empat bulan dari negara lainnya.
 
"Harus diakui memang, kita start-nya empat bulan lebih lambat dari negara lain. Kalau kita lihat Tiongkok dan negara lainnya itu Januari sudah bergerak. Kita baru diberi 'perintah' Maret. Praktis April baru kita mulai."
 
"Ya, memang terlambat empat bulan, jadi mudah-mudahan kita bisa mengejar itu," kata Amin.
 
Amin menjelaskan pengembangan vaksin dalam negeri yang terlambat ini bisa diantispasi dengan pengembangan vaksin dari luar negeri. Hal itu mengingat vaksin tersebut memenuhi syarat yang sudah ditetapkan, antara lain uji klinis dan sesuai industri di Indonesia.
 
"Uji klinis ketiga ini upaya untuk memastikan vaksin efektif dan aman," sebutnya.
 
Terkait vaksin Merah Putih, Amin menekankan yang terpenting ialah kemampuan anak bangsa dalam membuat vaksin. Apalagi nantinya vaksin ini diharapkan memenuhi 50 persen dari kebutuhan pasien di Indonesia.
 
Menurutnya, Indonesia memiliki kemampuan dan kapasitas yang mumpuni untuk mengembangkan vaksin. Lembaga Eijkman akan memimpin konsorsium yang akan mengakomodasi sejumlah peneliti vaksin.
 
"Alhamdulillah progresnya masih sesuai jadwal. Insya Allah pada Februari atau Maret (2021) bisa dilakukan uji klinis," ujar Amin.
 
(UWA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif