Fitria, orang tua RM (tengah) dan Koordinator KontraS Yati Andriyani (Kedua kiri).Medcom.id/Yona
Fitria, orang tua RM (tengah) dan Koordinator KontraS Yati Andriyani (Kedua kiri).Medcom.id/Yona

Korban Kerusuhan Disebut Dianiaya Brimob

Nasional Demo Massa Penolak Pemilu
Siti Yona Hukmana • 03 Juni 2019 07:43
Jakarta: Fitria, ibunda RM 17 mengaku anaknya dipukuli anggota Brimob saat kerusuhan pada demontrasi penolakan hasil pemilu Rabu, 22 Mei 2019. RM mengalami luka-luka hingga bocor pada bagian kepala.
 
"Ini dari versi anak saya ya. Dia lari bersembunyi sendiri. Nah, tiba-tiba ditangkap dari belakang sama seorang polisi pakaian preman, langsung dibawa ke Brimob-brimob itu. Dipukulilah di situ. Setiap Brimob yang lewat dipukuli katanya. Setelah itu baru dibawa ke Polda," terang Fitria di kantor KontraS, Jalan Kramat II, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, Minggu, 2 Juni 2019.
 
Peristiwa itu diketahui Fitria setelah menerima telepon dari nenek RM yang mengatakan cucunya itu tak kunjung pulang sejak kerusuhan 22 Mei pecah. RM yang tinggal bersama neneknya itu pamit ke luar rumah sekitar pukul 19.00 WIB.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Fitria yang tengah berada di Lampung sontak terdiam mendengar kabar itu. Nenek mencari ke sana ke mari dan mendapatkan kabar bahwa cucunya ditangkap dan dibawa ke Polda Metro Jaya. Akhirnya, keberadaan RM diketahui pada Kamis, 23 Mei 2019 malam.
 
"Anak saya mengaku mengalami penganiayaan saat ditangkap. Kondisi kepala bocor, pelipis bengkak, dan mata kanan lebam. Selain itu juga terdapat bekas pukulan di punggung dan bekas luka di tangan kanan," ujar Fitria.
 
Setelah menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, RM dipindahkan ke Panti Sosial Anak Cipayung, Jakarta Timur pada Kamis, 24 Mei 2019. Lima hari setelah berada di panti sosial, Fitria dipanggil oleh kepolisian untuk mengikuti proses diversi.
 
"Kita tidak tahu diundang ini untuk apa, ternyata itu proses diversi. Itu sudah ada pengacara, sudah ada dari Lapas, dari panti sosial yang di Cipayung, yang di Bambu Apus," kata Fitria.
 
Kondisi itu mebuat Fitria datang tanpa persiapan untuk membela anaknya. Ia juga mengaku tidak mengenal kuasa hukum yang dihadirkan untuk mendampingi RM. Maka diversi dinyatakan gagal.
 
"Prosesnya dinyatakan gagal itu ya dari pihak pelapor, si korban yang melaporkan anak kita ini ya banyak alasanlah, istilahnya mereka korban. Jadi dia mewakili korban-korban polisi yang dari Brimob yang luka banyak, yang apa-apa gitu," tutur Fitria.
 
Fitria meyakini anaknya tidak terlibat kerusuhan itu. Saat kerusuhan terjadi, kata dia, RM memilih untuk pergi dan tidak terlibat dalam bentrokan.
 
"Yang saya sayangkan di sini, ini anak masih di bawah umur ya masih di bawah 17 tahun. Masih perlu perlindungan, secara hukum juga harus dilindungi. Nah kenapa proses ini terkesan dilambat-lambatkan untuk dibebaskan. Kenapa proses diversinya ini bisa gagal gitu," pungkas Fitria.
 
Menanggapi hal ini, Koordinator KontraS Yati Andriyani mendesak kepolisian menyelesaikan kasus tersebut sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Kepolisian pun dituntut jujur, transparan, akuntabel, termasuk mencegah terjadinya perusakan barang bukti yang dapat mengaburkan dan menghambat penyelidikan dan penyidikan kasus.
 
"Mengenai proses hukum terhadap orang-orang yang ditangkap, telah terdapat dugaan yang cukup tentang adanya penyiksaan, pelanggaran hukum secara pidana yang membuat proses hukum terhadap para tersangka layak untuk dinyatakan tidak sah," pungkas Yati.
 

 

(NUR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif