Bandung: Persoalan sampah di wilayah dataran tinggi mendorong masyarakat Desa Mandalamekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, untuk mencari cara pengelolaan yang dapat dilakukan dari lingkungan rumah.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat, tim dosen Bhakti Kencana University (BKU) bersama dengan mahasiswa mengenalkan pengolahan sampah organik menggunakan maggot, biopori, dan komposter sederhana kepada warga.
Program bertajuk “MaggotCare Plus sebagai Biokonversi Sampah Organik di Dataran Tinggi” tersebut melibatkan 30 peserta yang merupakan kader Posyandu RW 10 Desa Mandalamekar. Program ini dilatarbelakangi kondisi pengelolaan sampah di wilayah dataran tinggi yang masih menghadapi keterbatasan tempat pembuangan dan sistem pengangkutan sampah.
Di RW 10 Desa Mandalamekar misalnya, belum tersedia tempat pembuangan sementara dan sistem pengangkutan sampah yang memadai sehingga sebagian masyarakat masih mengelola sampah dengan cara dibakar. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan dan kesehatan.
Persoalan sampah tersebut sebelumnya dipetakan melalui Survei Mawas Diri (SMD). Dari 11 permasalahan yang ditemukan, sampah menjadi salah satu masalah prioritas. Hasil Musyawarah Masyarakat RW (MMRW) pada 18 Desember 2025 kemudian menetapkan persoalan sampah di RW 10 sebagai masalah yang mendesak untuk ditangani.
Ketua pelaksana program, Diah Adni Fauziah, mengatakan pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk memastikan pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan akademik dapat memberikan manfaat secara langsung. “Ilmu yang ada di ruang akademik tidak berhenti di kelas saja, tetapi dapat disebarkan kepada masyarakat luar sehingga lebih berdampak dan dapat membawa solusi bagi permasalahan yang ada.”
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga melakukan praktik langsung. Tim mengenalkan tiga pendekatan utama, yaitu MaggotCare, biopori, dan komposter sederhana. Kegiatan dilakukan dalam dua sesi pada 19 Juni dan 28 Juni 2026.
Pada sesi pertama, peserta mendapatkan edukasi mengenai biopori, komposter, dan maggot melalui permainan interaktif. Sementara pada sesi kedua, peserta melakukan praktik pembuatan dan penggunaan biopori, komposter, serta maggot, termasuk pembuatan kandang maggot.
Pendekatan edukasi dibuat dengan memadukan permainan tradisional dan teknologi digital. Peserta mengikuti permainan bakiak, congklak, dan ketapel yang masing-masing dikaitkan dengan materi pengelolaan sampah. Tim juga mengembangkan permainan KOMPAK atau Komposter dalam Congklak, Ketapel Pengetahuan, dan Bakiak Transform Digital sebagai media pembelajaran yang membuat peserta terlibat aktif selama kegiatan.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya perubahan setelah kegiatan. Sikap peserta terhadap pengelolaan sampah meningkat sebesar 21,42 persen. Pengetahuan peserta mengenai biopori meningkat sebesar 21,47 persen, sedangkan pengetahuan mengenai komposter sederhana meningkat sebesar 7,1 persen.
Baca Juga :
Pilah Sampah Sejak Dini, Cara Siswa SD Belajar Menjaga Keanekaragaman Hayati
Perubahan tersebut juga terlihat dalam praktik sehari-hari. Hasil monitoring satu bulan setelah pemberian stimulus menunjukkan 90 persen peserta telah menggunakan alat dan bahan pengolahan sampah yang diberikan untuk mengolah sampah di lingkungannya.
Sementara itu, 10 persen peserta lainnya masih membutuhkan pendampingan. Tim kemudian memberikan tutorial secara langsung di rumah masing-masing untuk membantu peserta menerapkan teknik pengolahan sampah.
“Perubahan perilaku ini menjadi salah satu hal penting yang kami lihat dalam proses pendampingan. Masyarakat tidak hanya memahami materi, tetapi mulai menggunakan sarana yang diberikan untuk mengolah sampah di lingkungannya,” ujar Diah.
Selain mengurangi sampah organik, program tersebut juga mengenalkan potensi ekonomi dari budidaya maggot. Maggot yang dihasilkan dari proses biokonversi sampah organik tidak hanya dapat membantu mengolah sampah, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang memiliki nilai jual.
Untuk mendukung pengelolaan secara komunal, tim memberikan dua tong komposter berukuran besar yang dapat digunakan oleh dua hingga tiga rumah yang berdekatan. Sementara itu, kandang maggot terpusat ditempatkan di RT 01 RW 10 untuk mendukung pengolahan sampah organik secara bersama-sama.
Menurut Sekretaris Desa Mandalamekar, Ating Sumarni, program tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat karena persoalan sampah masih menjadi tantangan di wilayah desa.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena ada lahan Desa Mandalamekar yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah ilegal, padahal tempat tersebut tidak diperbolehkan oleh desa. Dengan adanya program ini, masyarakat memiliki alternatif untuk mengelola sampah dari lingkungan masing-masing.”
Hal senada disampaikan Ketua RW 10, Asep Heri, Menurutnya, stimulasi dan pendampingan pengolahan sampah sangat dibutuhkan masyarakat karena hasil pengolahannya dapat dimanfaatkan kembali.
“Program stimulasi seperti ini sangat dibutuhkan oleh warga karena hasilnya juga dapat digunakan untuk kebun warga.”
Program pengelolaan sampah tersebut tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Tim melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk melihat pemanfaatan alat, keterampilan warga, serta kendala yang dihadapi masyarakat dalam penerapan pengolahan sampah. Monitoring dilakukan pada 24 Juli dan 19 Agustus 2026 dengan mengunjungi lingkungan RT 1, RT 2, dan RT 3 di RW 10.
Dalam implementasinya, pengelolaan sampah organik dibagi berdasarkan wilayah. RT 2 dan RT 3 diarahkan menggunakan biopori dan komposter, sedangkan RT 1 menjadi lokasi pengelolaan maggot. Pola tersebut diharapkan dapat membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Tim berharap model pengelolaan sampah yang dikembangkan dapat menjadi contoh yang direplikasi di RW lainnya di Desa Mandalamekar. Terlebih, seluruh RW di desa tersebut belum memiliki sistem pengelolaan sampah terpadu.
Program MaggotCare Plus sebagai Biokonversi Sampah Organik di Dataran Tinggi dilaksanakan oleh tim multidisiplin Bhakti Kencana University (BKU) yang terdiri dari Diah Adni Fauziah, Reza Pratama, dan Nur Intan Hayati Husnul K., bersama mahasiswa Winda, Astira, Annisa Fitriani, Annisa Zalfa, Riki, Syarif, dan Hafidz. Program tersebut merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.
Bandung: Persoalan sampah di wilayah dataran tinggi mendorong masyarakat Desa Mandalamekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, untuk mencari cara pengelolaan yang dapat dilakukan dari lingkungan rumah.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat, tim dosen Bhakti Kencana University (BKU) bersama dengan mahasiswa mengenalkan
pengolahan sampah organik menggunakan maggot, biopori, dan komposter sederhana kepada warga.
Program bertajuk “MaggotCare Plus sebagai Biokonversi Sampah Organik di Dataran Tinggi” tersebut melibatkan 30 peserta yang merupakan kader Posyandu RW 10 Desa Mandalamekar. Program ini dilatarbelakangi kondisi pengelolaan sampah di wilayah dataran tinggi yang masih menghadapi keterbatasan tempat pembuangan dan sistem pengangkutan sampah.
Di RW 10 Desa Mandalamekar misalnya, belum tersedia tempat pembuangan sementara dan sistem pengangkutan sampah yang memadai sehingga sebagian masyarakat masih mengelola sampah dengan cara dibakar. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan dan kesehatan.
Persoalan sampah tersebut sebelumnya dipetakan melalui Survei Mawas Diri (SMD). Dari 11 permasalahan yang ditemukan, sampah menjadi salah satu masalah prioritas. Hasil Musyawarah Masyarakat RW (MMRW) pada 18 Desember 2025 kemudian menetapkan persoalan sampah di RW 10 sebagai masalah yang mendesak untuk ditangani.
Ketua pelaksana program, Diah Adni Fauziah, mengatakan pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang bagi perguruan tinggi untuk memastikan pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan akademik dapat memberikan manfaat secara langsung. “Ilmu yang ada di ruang akademik tidak berhenti di kelas saja, tetapi dapat disebarkan kepada masyarakat luar sehingga lebih berdampak dan dapat membawa solusi bagi permasalahan yang ada.”
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga melakukan praktik langsung. Tim mengenalkan tiga pendekatan utama, yaitu MaggotCare, biopori, dan komposter sederhana. Kegiatan dilakukan dalam dua sesi pada 19 Juni dan 28 Juni 2026.
Pada sesi pertama, peserta mendapatkan edukasi mengenai biopori, komposter, dan maggot melalui permainan interaktif. Sementara pada sesi kedua, peserta melakukan praktik pembuatan dan penggunaan biopori, komposter, serta maggot, termasuk pembuatan kandang maggot.
Pendekatan edukasi dibuat dengan memadukan permainan tradisional dan teknologi digital. Peserta mengikuti permainan bakiak, congklak, dan ketapel yang masing-masing dikaitkan dengan materi pengelolaan sampah. Tim juga mengembangkan permainan KOMPAK atau Komposter dalam Congklak, Ketapel Pengetahuan, dan Bakiak Transform Digital sebagai media pembelajaran yang membuat peserta terlibat aktif selama kegiatan.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya perubahan setelah kegiatan. Sikap peserta terhadap pengelolaan sampah meningkat sebesar 21,42 persen. Pengetahuan peserta mengenai biopori meningkat sebesar 21,47 persen, sedangkan pengetahuan mengenai komposter sederhana meningkat sebesar 7,1 persen.
Baca Juga :
Perubahan tersebut juga terlihat dalam praktik sehari-hari. Hasil monitoring satu bulan setelah pemberian stimulus menunjukkan 90 persen peserta telah menggunakan alat dan bahan pengolahan sampah yang diberikan untuk mengolah sampah di lingkungannya.
Sementara itu, 10 persen peserta lainnya masih membutuhkan pendampingan. Tim kemudian memberikan tutorial secara langsung di rumah masing-masing untuk membantu peserta menerapkan teknik pengolahan sampah.
“Perubahan perilaku ini menjadi salah satu hal penting yang kami lihat dalam proses pendampingan. Masyarakat tidak hanya memahami materi, tetapi mulai menggunakan sarana yang diberikan untuk mengolah sampah di lingkungannya,” ujar Diah.
Selain mengurangi sampah organik, program tersebut juga mengenalkan potensi ekonomi dari budidaya maggot. Maggot yang dihasilkan dari proses biokonversi sampah organik tidak hanya dapat membantu mengolah sampah, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang memiliki nilai jual.
Untuk mendukung pengelolaan secara komunal, tim memberikan dua tong komposter berukuran besar yang dapat digunakan oleh dua hingga tiga rumah yang berdekatan. Sementara itu, kandang maggot terpusat ditempatkan di RT 01 RW 10 untuk mendukung pengolahan sampah organik secara bersama-sama.
Menurut Sekretaris Desa Mandalamekar, Ating Sumarni, program tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat karena persoalan sampah masih menjadi tantangan di wilayah desa.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena ada lahan Desa Mandalamekar yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah ilegal, padahal tempat tersebut tidak diperbolehkan oleh desa. Dengan adanya program ini, masyarakat memiliki alternatif untuk mengelola sampah dari lingkungan masing-masing.”
Hal senada disampaikan Ketua RW 10, Asep Heri, Menurutnya, stimulasi dan pendampingan pengolahan sampah sangat dibutuhkan masyarakat karena hasil pengolahannya dapat dimanfaatkan kembali.
“Program stimulasi seperti ini sangat dibutuhkan oleh warga karena hasilnya juga dapat digunakan untuk kebun warga.”
Program pengelolaan sampah tersebut tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Tim melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk melihat pemanfaatan alat, keterampilan warga, serta kendala yang dihadapi masyarakat dalam penerapan pengolahan sampah. Monitoring dilakukan pada 24 Juli dan 19 Agustus 2026 dengan mengunjungi lingkungan RT 1, RT 2, dan RT 3 di RW 10.
Dalam implementasinya, pengelolaan sampah organik dibagi berdasarkan wilayah. RT 2 dan RT 3 diarahkan menggunakan biopori dan komposter, sedangkan RT 1 menjadi lokasi pengelolaan maggot. Pola tersebut diharapkan dapat membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Tim berharap model pengelolaan sampah yang dikembangkan dapat menjadi contoh yang direplikasi di RW lainnya di Desa Mandalamekar. Terlebih, seluruh RW di desa tersebut belum memiliki sistem pengelolaan sampah terpadu.
Program MaggotCare Plus sebagai Biokonversi Sampah Organik di Dataran Tinggi dilaksanakan oleh tim multidisiplin Bhakti Kencana University (BKU) yang terdiri dari Diah Adni Fauziah, Reza Pratama, dan Nur Intan Hayati Husnul K., bersama mahasiswa Winda, Astira, Annisa Fitriani, Annisa Zalfa, Riki, Syarif, dan Hafidz. Program tersebut merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda(RUL)