Warga menyaksikan tim dan relawan mengevakuasi dugaan korban yang tertimbun bangunan di Hotel Stephani, Anyer, Banten. Foto: MI/Susanto.
Warga menyaksikan tim dan relawan mengevakuasi dugaan korban yang tertimbun bangunan di Hotel Stephani, Anyer, Banten. Foto: MI/Susanto.

Kronologi Tsunami Selat Sunda dalam Catatan BMKG

Nasional Tsunami di Selat Sunda
Antara • 31 Desember 2018 09:06
Jakarta: Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono mengungkapkan kronologi tsunami Selat Sunda yang melanda pesisir pantai Banten dan Lampung, Sabtu, 22 Desember 2018. Dia membuka data proses tsunami secara detail. 

Rahmat menyebutkan pada Jumat, 21 Desember 2018, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mendeteksi adanya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, Lampung. Erupsi juga terpantau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Tinggi kolom abu teramati kurang lebih 400 meter di atas puncak dan 738 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal condong ke arah utara. Saat itu, Gunung Anak Krakatau berada pada status level II (waspada).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Sebelumnya kami telah memberikan peringatan dini gelombang tinggi yang berlaku  22 Desember 2018 pukul 07.00 WIB hingga 25 Desember 2018 pukul 07.00 WIB di wilayah perairan Selat Sunda dengan ketinggian 1,5-2,5 meter," kata Rahmat, Senin, 31 Desember 2018. Pada Sabtu, pukul 20.56 WIB, erupsi Gunung Anak Krakatau memicu longsor lereng gunung seluas 64 hektare. Peristiwa itu tercatat di sensor seismograf BMKG di Cigeulis Pandeglang (CGJ) dan beberapa sensor di wilayah Banten serta Lampung, pukul 21.03 WIB.

Namun, sistem BMKG tidak memproses secara otomatis karena signal getaran yang tercatat bukan signal gempa bumi tektonik. Sistem peringatan dini tsunami yang dimiliki BMKG saat ini hanya untuk tsunami yang disebabkan gempa bumi tektonik.

"Sedangkan tsunami yang melanda Selat Sunda adalah akibat aktivitas vulkanik sehingga saat ada aktivitas vulkanik di Gunung Anak Krakatau, sistem peringatan dini tsunami tidak mampu memproses secara otomatis adanya aktivitas vulkanik sehingga tidak memberikan warning tsunami," ujar Rahmat.

Di samping itu, BMKG tidak memonitor aktivitas Gunung Anak Krakatau dan gunung api lainnya. PVMBG dan Badan Geologi Kementerian ESDM yang memiliki kewenangan ini.

Pada pukul 21.30 WIB, petugas Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG mendapat laporan kepanikan masyarakat di wilayah Banten dan Lampung karena air laut pasang yang tidak normal. BMKG langsung mengecek marigran tide gauge Badan Informasi Geospasial (BIG).

Baca: Rencana Menikah Kandas Dihempas Tsunami

Perubahan permukaan air laut di beberapa wilayah terjadi. Di Pantai Jambu, Bulakan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, ketinggian air mencapai 0,9 meter pada pukul 21.27 WIB. Di Pelabuhan Ciwandan, Kecamatan Ciwandan, Banten, ketinggian 0.35 meter pada pukul 21.33 WIB. 

Di Kota Agung, Lampung, ketinggian air mencapai 0.36 meter pada pukul 21.35 WIB. Di Pelabuhan Panjang Kecamatan Kota Bandar Lampung, ketinggian air mencapai 0.28 meter pada pukul 21.53 WIB. 

Melihat dari hasil catatan marigran tide gauge BIG, gelombang yang melanda pesisir Banten dan Lampung diyakini tsunami. Pukul 22.30 WIB, BMKG segera mengeluarkan pernyataan media telah terjadi tsunami di Banten dan Lampung yang tidak dipicu oleh gempa bumi tektonik.

Pada Minggu, 23 Desember 2018, pukul 14.40 WIB, BMKG memastikan pusat getaran ada di Gunung Anak Krakatau, 115,46 BT- 6.10 LS, di kedalaman 1 km. Getaran tersebut setara dengan kekuatan magnitudo 3,4.




(OGI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi