Pemerhati anak Seto Mulyadi bersama Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes Eni Gustina--Metrotvnews.com/Nur Azizah
Pemerhati anak Seto Mulyadi bersama Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes Eni Gustina--Metrotvnews.com/Nur Azizah

Perundungan Berawal dari Perlakuan yang tak Adil

Nur Azizah • 24 Juli 2017 16:26
medcom.id, Jakarta: Pelaku bullying atau perundungan selalu dianggap paling bersalah. Siapa sangka pelaku perundungan sebenarnya pernah juga menjadi korban.
 
Pemerhati anak, Seto Mulyadi mengatakan, tak sedikit pelaku adalah korban perundungan di masa lalu. Biasanya mereka tidak mendapatkan perlakuan yang adil, baik di rumah atau sekolah.
 
Pria yang akrab dipanggil Kak Seto ini menyampaikan, hampir sebagian besar pelaku perundungan adalah anak-anak potensial. Sayangnya, mereka tidak memiliki wadah untuk menyalurkan bakat dan keterampilan.

"Mereka tidak mendapat ruang. Akhirnya muncul kecemburuan pada yang lain," kata Kak Seto di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin, 24 Juli 2017.
 
Baca: Bullying Bukan Guyonan
 
Minimnya perhatian membuat pelaku perundungan tidak percaya diri. Perasan itu terakumulasi dan memicu pelaku untuk melakukan tindak kekerasan.
 
"Terkadang orangtua atau guru sendiri lah yang melakukan itu. Berawal dari membanding-bandingkan anak satu dengan yang lain," ucap Kak Seto.
 
Pencipta lagu Si Komo ini menyampaikan, seluruh anak harus diapresiasi meski tingkat kecerdasannya berbeda. Ia yakin dengan begitu, potensi bullying akan berkurang.
 
Anak belajar perilaku perundungan dari apa yang mereka tonton dan alami dari orangtua, guru, atau televisi. Ia menuturkan, apa yang dilihat dan dialami anak akan mudah ditiru.
 
"Itu akan terekam dalam otak mereka. Makanya dari sekarang mari kampanyekan "Say No to Bullying". Stop kekerasan untuk anak, sekarang dan selamanya," kata Kak Seto.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(YDH)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>