medcom.id, Jakarta: Adnan Buyung Nasution dikenal gigih memperjuangkan keadilan dan hak asasi manusia. Ketua DPR Setya Novanto berharap semua orang meneruskan perjuangan almarhum.
"Kepergian Bang Buyung adalah kesedihan bagi kita semua, seluruh rakyat Indonesia," kata Setya dalam keterangan tertulis, Rabu (23/9/2015).
Pimpinan DPR menyatakan berduka cita yang mendalam atas kepergian Buyung. Novanto menilai kontribusi Buyung di bidang hukum dan hak asasi manusia sangat besar.
Novanto mengenal Buyung sebagai sosok yang tegas dan penuh wibawa. Almarhum adalah guru sekaligus teladan bagi anak bangsa. "Khususnya mereka yang senantiasa gigih dalam memperjuangkan keadilan dan HAM," kata Novanto.
Menurut Novanto, jasa Buyung tidak akan dilupakan dan akan terus dijalankan aktivis dan pejuang didikan Buyung.
"Semoga cita-cita dan harapan beliau yang baik akan mampu terwujud dan dilanjutkan oleh kita," katanya.
Adnan Buyung wafat di usia 81 tahun. Ia menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pondok Indah. Pukul 10.15 WIB, pihak rumah sakit menyatakan Buyung meninggal. Penyebabnya sakit.
Pria kelahiran 1934 itu dirawat di Intensive Cardiac Care Unit Rumah Sakit Pondok Indah pada Sabtu malam 19 September. Selama dirawat, Buyung kesulitan berkomunikasi. Dia sempat menuliskan pesan untuk Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di secarik kertas.
"Ayah meminta untuk dilanjutkan semua perjuangan ayah, terutama perjuangan bagi rakyat miskin dan tertindas dan soal hak asasi manusia," kata Rasyid Alam Perkasa Nasution, putra ketiga Adnan Buyung.
Buyung adalah pendiri LBH. Lembaga itu didirikan atas gagasan dalam kongres ke-III Persatuan Advokat Indonesia (Peradin) pada 1969. Bang Buyung didapuk menjadi Direktur/Ketua Dewan Pengurus LBH periode 1970-1986.
Jenazah Buyung disemayamkan di rumah duka, Jalan Poncol Lestari Nomor 7, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Almarhum akan dimakamkan besok sekitar pukul 08.00 WIB di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
medcom.id, Jakarta: Adnan Buyung Nasution dikenal gigih memperjuangkan keadilan dan hak asasi manusia. Ketua DPR Setya Novanto berharap semua orang meneruskan perjuangan almarhum.
"Kepergian Bang Buyung adalah kesedihan bagi kita semua, seluruh rakyat Indonesia," kata Setya dalam keterangan tertulis, Rabu (23/9/2015).
Pimpinan DPR menyatakan berduka cita yang mendalam atas kepergian Buyung. Novanto menilai kontribusi Buyung di bidang hukum dan hak asasi manusia sangat besar.
Novanto mengenal Buyung sebagai sosok yang tegas dan penuh wibawa. Almarhum adalah guru sekaligus teladan bagi anak bangsa. "Khususnya mereka yang senantiasa gigih dalam memperjuangkan keadilan dan HAM," kata Novanto.
Menurut Novanto, jasa Buyung tidak akan dilupakan dan akan terus dijalankan aktivis dan pejuang didikan Buyung.
"Semoga cita-cita dan harapan beliau yang baik akan mampu terwujud dan dilanjutkan oleh kita," katanya.
Adnan Buyung wafat di usia 81 tahun. Ia menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pondok Indah. Pukul 10.15 WIB, pihak rumah sakit menyatakan Buyung meninggal. Penyebabnya sakit.
Pria kelahiran 1934 itu dirawat di Intensive Cardiac Care Unit Rumah Sakit Pondok Indah pada Sabtu malam 19 September. Selama dirawat, Buyung kesulitan berkomunikasi. Dia sempat menuliskan pesan untuk Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di secarik kertas.
"Ayah meminta untuk dilanjutkan semua perjuangan ayah, terutama perjuangan bagi rakyat miskin dan tertindas dan soal hak asasi manusia," kata Rasyid Alam Perkasa Nasution, putra ketiga Adnan Buyung.
Buyung adalah pendiri LBH. Lembaga itu didirikan atas gagasan dalam kongres ke-III Persatuan Advokat Indonesia (Peradin) pada 1969. Bang Buyung didapuk menjadi Direktur/Ketua Dewan Pengurus LBH periode 1970-1986.
Jenazah Buyung disemayamkan di rumah duka, Jalan Poncol Lestari Nomor 7, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Almarhum akan dimakamkan besok sekitar pukul 08.00 WIB di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TRK)