Api berkobar dari kebakaran lahan gambut di Desa Penarikan Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan, Riau, Minggu (28/7/2019). ANT/FB Anggoro.
Api berkobar dari kebakaran lahan gambut di Desa Penarikan Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan, Riau, Minggu (28/7/2019). ANT/FB Anggoro.

BRG: Waspada Kekeringan Lahan Gambut Saat Kemarau

Nasional kemarau dan kekeringan
Theofilus Ifan Sucipto • 30 Juli 2019 10:49
Jakarta: Badan Restorasi Gambut (BRG) mengimbau semua pihak mewaspadai kekeringan lahan gambut di musim kemarau. Kekeringan mulai terlihat dari Sistem Pemantauan Air di Lahan Gambut (Sipalaga) periode 18-24 Juli 2019.
 
"Dari 90 lokasi yang diamati pada tujuh provinsi prioritas restorasi gambut, tinggi muka air (TMA) rata-rata di bawah -0,4 meter dari atas permukaan," kata Kepala BRG Nazir Foead di Jakarta, Senin, 29 Juli 2019.
 
Tujuh provinsi tersebut adalah Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kalsel, dan Papua. Nazir mengungkapkan rendahnya TMA mengindikasikan banyak lahan gambut yang mulai kering.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lahan gambut di Riau sangat kerng di tiga minggu pertama Juli. Nazir menyebut TMA lahan gambut di Riau bahkan tercatat lebih dari 1 meter di bawah permukaan tanah.
 
Nazir berharap siapa pun bisa mengakses informasi TMA lahan gambut dari Sipalaga. Para pihak, ujar Nazir, bisa mengantisipasi potensi kebakaran di area restorasi dan mempercepat pembasahan ekosistem gambut.
 
BRG juga telah mengirimkan data rutin analisis Sipalaga kepada kepala daerah, Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Karhutla KLHK, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tujuh area kerja restorasi.
 
Baca: Anggaran Daerah Atasi Kemarau Ludes
 
Berdasarkan analisis data tinggi muka air lahan gambut, curah hujan, keberadaan titik panas, dan kondisi rawan terbakar dari BMKG, terdapat 35 lokasi pemantauan TMA yang tidak mengalami hujan selama 7 hari berturut-turut. Pada 10 titik lainnya telah terdapat indikasi titik panas.
 
Sementara itu, 45 titik berada pada area rawan terbakar. Dari data tersebut, empat lokasi perlu segera dilakukan pembasahan karena sejumlah faktor.
 
"Rendahnya TMA (di bawah -0,4 meter), ketiadaan curah hujan, adanya titik panas dan kondisi rawan terbakar," tutur Nazir.
 
Nazir menjelaskan BRG telah menyiapkan dua operasi pembasahan gambut, yakni Operasi Pembasahan Cepat Lahan Gambut Terbakar (OPCLGT) dan Operasi Pembasahan Gambut Rawan Kekeringan (OPGRK).
 
OPCLGT dilakukan di areal terbakar yang belum ada sekat kanal atau sumur bor. Sedangkan OPGRK dilakukan pada areal yang telah terbangun infrastruktur pembasahan (sekat kanal dan sumur bor).
 
Saat ini, daerah sedang menyiapkan pelaksanaan kedua operasi dimaksud. Kalimantan Tengah bahkan telah menjalankan pembangunan sumur bor melalui OPCLGT.
 
“Masyarakat kami imbau turut melakukan pemantauan dan memahami pelaksanaan operasi pembasahan gambut ini. Masyarakat dapat melaporkan dan memohon dilaksanakannya operasi pembasahan kepada Dinas pengelola Tugas Pembantuan Restorasi, sesuai dengan ketentuan yang ada”, pungkas Nazir.

 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif