Jakarta: Kemeriahan puncak perayaan Harmoni Imlek Nusantara – Imlek Festival 2577 sukses menyulap Lapangan Banteng, Jakarta, menjadi panggung akulturasi budaya yang luar biasa malam ini. Perayaan berskala nasional ini mengusung tema "Bhinneka Tunggal Ika – Berbeda-beda Tapi Tetap Satu" sebagai penegasan nilai persatuan dalam keberagaman Indonesia.
Irene Umar, selaku Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, secara resmi memulai Parade Imlek Nusantara 2026 yang menjadi magnet utama dalam rangkaian festival tahun ini. Berlokasi di Lapangan Banteng, parade ini hadir sebagai ruang pertemuan berbagai budaya yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan.
Menariknya, Irene Umar menggarisbawahi bahwa momen Imlek yang beriringan dengan Ramadan tahun ini merupakan bukti kuatnya persatuan bangsa yang melibatkan kerja sama lintas sektor, mulai dari tokoh agama hingga pihak swasta.
“Indonesia adalah negara yang paling inklusif karena keberagaman tidak hanya kita ucapkan, tetapi kita buktikan dan kita rasakan setiap hari. Perayaan Imlek ini bukan milik satu kelompok, melainkan milik seluruh masyarakat Indonesia, tanpa memandang latar belakang suku, agama, dan ras,” ujar Wamen Ekraf Irene saat membuka Parade Imlek Nusantara pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Suasana harmoni sangat terasa saat Parade Imlek Nusantara menyatukan berbagai identitas budaya dalam satu barisan panjang. Masyarakat disuguhi pemandangan unik di mana naga liong bersanding dengan Bedug Yudha Asri, serta wushu yang berdampingan dengan pencak silat.
Pawai ini bergerak dari kawasan Gereja Katedral menuju Lapangan Banteng setelah dibuka secara resmi melalui prosesi pemukulan bedug. Partisipasi aktif dari daerah-daerah seperti Semarang dan Surakarta semakin mempertegas bahwa festival ini adalah ruang perjumpaan budaya Tionghoa dan Nusantara yang inklusif.
Baca Juga :
Pemerintah Jadikan Harmoni Imlek Nusantara 2026 sebagai Simbol Inklusivitas Indonesia
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Festival Imlek Nasional, menekankan krusialnya wadah kebudayaan sebagai instrumen edukasi bagi masyarakat. Menurutnya, ruang-ruang seperti ini sangat penting agar publik dapat mendalami sejarah keberagaman serta memahami bagaimana kontribusi berbagai budaya telah membentuk perjalanan bangsa Indonesia.
“Identitas bangsa Indonesia dibentuk bersama melalui proses panjang akulturasi. Banyak unsur budaya yang kita kenal hari ini lahir dari perjumpaan berbagai budaya, termasuk kontribusi masyarakat Tionghoa dalam sejarah, bahasa, kuliner, hingga perjuangan kebangsaan,” ujar Stella Christie.
Melalui gelaran Parade Imlek Nusantara 2026, pemerintah menunjukkan keseriusannya dalam merawat nilai-nilai kebangsaan sekaligus menciptakan ruang bagi ekonomi kreatif untuk berkembang. Pemerintah berharap perayaan ini menjadi wadah sinergi yang memperkuat persatuan sekaligus mendorong produktivitas masyarakat melalui kolaborasi berbasis keberagaman dan semangat kerja sama.
(Fany Wirda Putri)
Jakarta: Kemeriahan puncak perayaan
Harmoni Imlek Nusantara – Imlek Festival 2577 sukses menyulap Lapangan Banteng, Jakarta, menjadi panggung akulturasi budaya yang luar biasa malam ini. Perayaan berskala nasional ini mengusung tema "Bhinneka Tunggal Ika – Berbeda-beda Tapi Tetap Satu" sebagai penegasan nilai persatuan dalam keberagaman Indonesia.
Irene Umar, selaku Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, secara resmi memulai Parade Imlek Nusantara 2026 yang menjadi magnet utama dalam rangkaian festival tahun ini. Berlokasi di Lapangan Banteng, parade ini hadir sebagai ruang pertemuan berbagai budaya yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan.
Menariknya, Irene Umar menggarisbawahi bahwa momen Imlek yang beriringan dengan Ramadan tahun ini merupakan bukti kuatnya persatuan bangsa yang melibatkan kerja sama lintas sektor, mulai dari tokoh agama hingga pihak swasta.
“Indonesia adalah negara yang paling inklusif karena keberagaman tidak hanya kita ucapkan, tetapi kita buktikan dan kita rasakan setiap hari. Perayaan Imlek ini bukan milik satu kelompok, melainkan milik seluruh masyarakat Indonesia, tanpa memandang latar belakang suku, agama, dan ras,” ujar Wamen Ekraf Irene saat membuka Parade Imlek Nusantara pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Suasana harmoni sangat terasa saat Parade Imlek Nusantara menyatukan berbagai identitas budaya dalam satu barisan panjang. Masyarakat disuguhi pemandangan unik di mana naga liong bersanding dengan Bedug Yudha Asri, serta wushu yang berdampingan dengan pencak silat.
Pawai ini bergerak dari kawasan Gereja Katedral menuju Lapangan Banteng setelah dibuka secara resmi melalui prosesi pemukulan bedug. Partisipasi aktif dari daerah-daerah seperti Semarang dan Surakarta semakin mempertegas bahwa festival ini adalah ruang perjumpaan budaya Tionghoa dan Nusantara yang inklusif.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Festival Imlek Nasional, menekankan krusialnya wadah kebudayaan sebagai instrumen edukasi bagi masyarakat. Menurutnya, ruang-ruang seperti ini sangat penting agar publik dapat mendalami sejarah keberagaman serta memahami bagaimana kontribusi berbagai budaya telah membentuk perjalanan bangsa Indonesia.
“Identitas bangsa Indonesia dibentuk bersama melalui proses panjang akulturasi. Banyak unsur budaya yang kita kenal hari ini lahir dari perjumpaan berbagai budaya, termasuk kontribusi masyarakat Tionghoa dalam sejarah, bahasa, kuliner, hingga perjuangan kebangsaan,” ujar Stella Christie.
Melalui gelaran Parade Imlek Nusantara 2026, pemerintah menunjukkan keseriusannya dalam merawat nilai-nilai kebangsaan sekaligus menciptakan ruang bagi ekonomi kreatif untuk berkembang. Pemerintah berharap perayaan ini menjadi wadah sinergi yang memperkuat persatuan sekaligus mendorong produktivitas masyarakat melalui kolaborasi berbasis keberagaman dan semangat kerja sama.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)