Ilustrasi/Medcom.id
Ilustrasi/Medcom.id

Kebebasan Guru saat Pandemi Covid-19 Disalahartikan

Nasional Pembelajaran Daring pandemi covid-19 Konvergensi MGN
Siti Yona Hukmana • 16 November 2020 12:31
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberi keleluasaan tenaga pengajar saat pandemi virus korona (covid-19). Namun, keleluasaan guru dalam proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) disalahartikan.
 
"Dengan kemerdekaan itu, guru malah memberikan penugasan-penugasan setiap hari kepada anak didik," kata Koordinator Nasional Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim kepada Medcom.id, Senin, 16 November 2020.
 
Satriwan mengkritik prinsip dari mayoritas guru, yakni siswa akan belajar jika ada tugas. Padahal, pemberian tugas setiap hari bukan metode yang baik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Maka itu, dia menilai cara pandang guru memberikan tugas setiap hari itu keliru. Terlebih, selama PJJ siswa tidak bisa berinteraksi karena keterbatasan sarana prasarana dan tidak bisa tatap muka dengan guru, sebab tak memiliki gawai.
 
Baca:Berat Beban PJJ Picu Bunuh Diri pada Anak
 
"Jadi, penugasan setiap hari ini membuat anak bisa stres," ungkap Satriwan.
 
Dia mengatakan tenaga pengajar perlu diberikan sentuhan pelatihan terkait penilaian. Perlu ada pembenahan dalam kompetensi guru dalam menilai siswanya.
 
Guru SMA Labschool Jakarta itu menyayangkan ada penugasan setiap hari. Dia mencontohkan dirinya yang jarang memberi tugas dan menilai siswa melalui metode lain.
 
"Rata-rata memberikan tugas itu tiga sampai empat minggu sekali," ujar Satriwan.
 
Menurut dia, pembenahan kompetensi itu penting dilakukan oleh wali kelas, kepala sekolah, dan guru bimbingan konseling. Pembenahan juga melibatkan orang tua siswa. Menurutnya wali kelas mempunyai koneksi langsung dengan orang tua siswa.
 
"Wali kelas bisa meminta pandangan-pandangan kepada orang tua, refleksi apa yang mereka rasakan, apa yang mereka harapkan," tutur Satriwan.
 
Dia juga berharap kepala sekolah mengevaluasi para guru dalam memberikan tugas kepada siswa. Kemendikbud juga diminta mendampingi, mengevaluasi, dan memantau terhadap persoalan-persoalan selama PJJ.
 
"Enggak bisa lepas tanggung jawab juga saya rasa Kemendikbud dalam hal ini," tutur Satriwan.
 
Selanjutnya, Satriwan menyarankan masing-masing sekolah di daerah yang mendapat akses internet untuk melakukan survei. Hal itu untuk mengetahui aspirasi orang tua dan siswa selama PJJ.
 
Menurut dia, pembenahan tersebut memiliki orientasi melayani anak dan orang tua mereka. Hal tersebut mutlak dibutuhkan.
 
"Contohnya dengan meminta pandangan langsung melalui angket kepada orang tua untuk perbaikan-perbaikan," kata Satriwan.
 
(ADN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif