Asam sianida ilegal diamankan polisi-----Ant/Fiqman Sunandar
Asam sianida ilegal diamankan polisi-----Ant/Fiqman Sunandar

Sianida Tidak Dijual Bebas di Toko Kimia

Riyan Ferdianto • 13 Januari 2016 12:37
medcom.id Jakarta: Kasus kematian Wayan Mirna Salihin, 27, masih menyisakan tanda tanya. Meski polisi sudah menduga ada zat asam di tubuh Mirna, penyebab pasti belum diketahui.
 
Zat asam yang diduga terkandung dalam tubuh Mirna diduga asam sianida atau HCN. Bahan tersebut tak dijual bebas. Metrotvnews.com mencoba menelusuri penjualan sianida di sejumlah toko kimia.
 
Seorang pemilik toko kimia di Jalan Ciledug Raya, Tangerang, menerangkan, sianida adalah senyawa kimia yang biasanya dibeli mahasiswa program studi kimia, Itu untuk kebutuhan praktikum. Tapi sang pemilik yang enggan menyebutkan namanya itu mengaku, tokonya tak menjual sianida.

"Saya enggak menjual, soalnya itu zat berbahaya," kata pemilik toko tersebut kepada Metrotvnews.com, Rabu (13/1/2016)
 
Hal sama dikatakan pemilik toko kimia di Jalan Mangga Besar, Jakarta Pusat. Sang pemilik yang juga enggan menyebutkan nama itu menuturkan, perlu surat keterangan polisi buat mendapatkan sianida.
 
"Tidak boleh sembarangan, itu bahaya. Harus ada surat izin asli polisi," kata pemilik toko itu.
 
Sang penjual tahu, sianida bisa digunakan untuk membunuh hama. Tapi, zat asam itu juga bisa membahayakan nyawa manusia andai ada yang menyalahgunakannya.
 
"Jadi enggak dijual bebas. Cuma rumah sakit saja yang ada," terang pemilik toko.
 
Dalam kasus pembunuhan, sianida menjadi racun yang efektif. Agus Purwadianto, ahli forensik dari Fakultas Kedokteran UI menerangkan, sianida merupakan zat yang sering digunakan buat membunuh.
 
Menurut Agus, Sianida adalah jenis racun yang cepat menyerang. Butuh waktu kurang dari setengah jam buat membikin korban terkapar usai terkena racun. Korban yang keracunan sianida akan merasa lemas lantaran sistem pernafasannya terganggu.
 
"Di bawah 15 menit langsung reaksi," sebut Agus.
 
Sebelum tewas, Mirna meminum kopi di Restoran Olivier, Grand Indonesia, Rabu 6 Januari. Tewasnya Mirna menjadi sorotan. Menurut keterangan Marwan, 31, karyawan Restoran Olivier, Mirna bersama temannya Hani datang sekitar pukul 17.00 WIB. Seseorang bernama Siska sudah menunggu di restoran itu sekitar pukul 16.09 WIB.
 
Mirna memesan es kopi Vietnam, sementara dua temannya memesan koktail, minuman beralkohol yang dicampur minuman atau bahan lain yang beraroma. Setelah satu kali sedot, Mirna kejang-kejang.
 
Korban sempat dilarikan ke klinik mal, sebelum akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat. Namun, nyawanya tidak tertolong.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TII)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>