Jakarta: Erupsi menjadi salah satu tanda aktifnya sebuah gunung berapi. Dari erupsi kecil hingga besar, gunung api menunjukan reaksi kehidupannya melalui erupsi yang diciptakannya. Ternyata, selama ini erupsi gunung api tidak selalu berlangsung dengan cara yang sama.
Ada yang mengeluarkan lava secara perlahan, ada yang meledak dan menghasilkan muntahan abu yang tinggi, bahkan ada yang erupsi tanpa mengeluarkan magma sama sekali.
National Park Service (NPS) mengklasifikasikan erupsi gunung api berdasarkan sifatnya, yaitu Magmatic, Phreatomagmatic (hydrovolcanic), dan Phreatic.
Apa perbedaan dari ketiganya? Berikut Medcom sudah merangkum perbedaan dari jenis-jenis erupsi.
Erupsi Magmatik (Magmatic Eruption)
Erupsi ini melibatkan magma baru dari dalam bumi. Magma akan keluar sebagai lava maupun material vulkanik seperti tefra (material padat yang dikeluarkan) saat mencapai permukaan gunung.
Namun, erupsi magmatik tidak selalu menghasilkan ledakan besar. Menurut NPS, intensitasnya memiliki rentang yang sangat luas, mulai dari keluarnya lava secara relatif tenang hingga erupsi eksplosif yang dapat menghasilkan awan abu dalam jumlah banyak.
Baca Juga :
Mengenal Gas SO2, Penyebab Bau Belerang Menyengat Usai Anak Krakatau Erupsi
Secara umum, erupsi ini dapat dibedakan menjadi dua karakter utama, yaitu efusif dan eksplosif. Erupsi efusif didominasi keluarnya lava secara relatif pasif tidak agresif, sedangkan erupsi eksplosif lebih banyak menghasilkan material vulkanik yang terfragmentasi dan terlontar ke udara.
Contohnya adalah erupsi Gunung Api Hawaii yang levelnya berada pada rentang efusif hingga moderat eksplosif. Sedangkan erupsi Novarupta pada 1912 termasuk eksplosif yang ekstrim karena menghasilkan 10.000 asap di wilayah Katmai National Park and Preserve. Erupsi Gunung Anak Krakatau kemarin pun termasuk ke dalam erupsi eksplosif level moderat.
Erupsi Freatik (Phreatic Eruption)
Kalau erupsi magmatik melibatkan magma baru, erupsi freatik justru tidak mengeluarkan magma baru.
Erupsi ini terjadi akibat ledakan uap. Panas dari sumber magmatik di bawah permukaan dapat memanaskan air tanah hingga menjadi sangat panas dan bertekanan. Ketika tekanan tersebut dilepaskan, terjadilah ledakan yang dapat melontarkan material batuan.
Karena tidak melibatkan magma baru, abu yang dihasilkan dalam erupsi freatik berasal dari batuan yang sudah ada sebelumnya dan hancur akibat ledakan. NPS juga mencatat bahwa erupsi freatik dapat menjadi pendahulu sebelum terjadinya erupsi magmatik.
Jadi, meskipun tidak ada lava baru yang keluar, erupsi freatik tetap dapat menghasilkan ledakan dan abu vulkanik.
Erupsi Gunung Api Fourpeaked pada 2006 di Katmai National Park and Preserve menghasilkan awan abu vulkanik hingga 20.000 kaki atau setara dengan 6.100 meter ke atmosfer.
Erupsi Freatomagmatik (Pheromagmatic Eruption)
Jenis ketiga terjadi ketika magma atau lava panas berinteraksi dengan air, baik air permukaan maupun air tanah dangkal. Erupsi ini dikenal juga dengan nama hydrovolcanic karena keterlibatannya dengan air.
Pertemuan antara material vulkanik yang sangat panas dan air dapat menghasilkan ledakan uap yang sangat kuat. Berbeda dengan erupsi freatik, erupsi freatomagmatik juga melibatkan material yang berasal dari magma baru.
Karena adanya interaksi antara magma dan air, erupsi ini dapat menghasilkan campuran uap dan tefra serta membentuk endapan vulkanik tertentu.
Letusan hidrovulkanik membentuk cincin tuf dan maar (semacam kawah yang terbentuk akibat letusan gunung api), seperti Kawah Ubehebe, sekelompok maar di Taman Nasional Death Valley, serta maar Espenberg di Bering and Land Bridge National Preserve.
Lalu, Apa Itu Hawaiian, Strombolian, hingga Plinian?
Hawaiian, Strombolian, Vulcanian, Sub-Plinian, Plinian, dan Ultra-Plinian merupakan tingkatan gaya erupsi atau eruption styles.
Menurut NPS, gaya-gaya erupsi magmatik tersebut disusun berdasarkan peningkatan tingkat eksplosivitas. Urutannya adalah Hawaiian, Strombolian, Vulcanian, Sub-Plinian, Plinian, dan Ultra-Plinian.
Gaya Hawaiian umumnya ditandai oleh lava basaltik yang sangat cair dan relatif tidak eksplosif. Sementara itu, gaya Strombolian menghasilkan ledakan berkala yang dapat melontarkan material pijar ke udara.
Di tingkat yang lebih eksplosif terdapat gaya Vulcanian dan Sub-Plinian. Erupsi Vulcanian ditandai oleh ledakan yang menghasilkan kolom abu dengan ketinggian sedang, sedangkan Sub-Plinian menghasilkan kolom erupsi yang lebih tinggi dan lebih eksplosif.
Kemudian ada Plinian yang merupakan erupsi sangat eksplosif. Kolom abu dapat menjulang hingga stratosfer dan menyebar membentuk pola seperti payung. Erupsi jenis ini juga dapat menghasilkan hujan abu yang luas, aliran piroklastik, dan lahar.
Di tingkat paling ekstrem dalam klasifikasi gaya magmatik NPS terdapat Ultra-Plinian, yang berkaitan dengan erupsi terbesar dan dapat membentuk kaldera.
(Vira Farhatul Maula)
Jakarta: Erupsi menjadi salah satu tanda aktifnya sebuah gunung berapi. Dari erupsi kecil hingga besar, gunung api menunjukan reaksi kehidupannya melalui erupsi yang diciptakannya. Ternyata, selama ini erupsi gunung api tidak selalu berlangsung dengan cara yang sama.
Ada yang mengeluarkan lava secara perlahan, ada yang meledak dan menghasilkan muntahan abu yang tinggi, bahkan ada yang erupsi tanpa mengeluarkan magma sama sekali.
National Park Service (NPS) mengklasifikasikan erupsi gunung api berdasarkan sifatnya, yaitu Magmatic, Phreatomagmatic (hydrovolcanic), dan Phreatic.
Apa perbedaan dari ketiganya? Berikut Medcom sudah merangkum perbedaan dari jenis-jenis erupsi.
Erupsi Magmatik (Magmatic Eruption)
Erupsi ini melibatkan magma baru dari dalam bumi. Magma akan keluar sebagai lava maupun material vulkanik seperti tefra (material padat yang dikeluarkan) saat mencapai permukaan gunung.
Namun, erupsi magmatik tidak selalu menghasilkan ledakan besar. Menurut NPS, intensitasnya memiliki rentang yang sangat luas, mulai dari keluarnya lava secara relatif tenang hingga erupsi eksplosif yang dapat menghasilkan awan abu dalam jumlah banyak.
Secara umum, erupsi ini dapat dibedakan menjadi dua karakter utama, yaitu efusif dan eksplosif. Erupsi efusif didominasi keluarnya lava secara relatif pasif tidak agresif, sedangkan erupsi eksplosif lebih banyak menghasilkan material vulkanik yang terfragmentasi dan terlontar ke udara.
Contohnya adalah erupsi Gunung Api Hawaii yang levelnya berada pada rentang efusif hingga moderat eksplosif. Sedangkan erupsi Novarupta pada 1912 termasuk eksplosif yang ekstrim karena menghasilkan 10.000 asap di wilayah Katmai National Park and Preserve. Erupsi Gunung Anak Krakatau kemarin pun termasuk ke dalam erupsi eksplosif level moderat.
Erupsi Freatik (Phreatic Eruption)
Kalau erupsi magmatik melibatkan magma baru, erupsi freatik justru tidak mengeluarkan magma baru.
Erupsi ini terjadi akibat ledakan uap. Panas dari sumber magmatik di bawah permukaan dapat memanaskan air tanah hingga menjadi sangat panas dan bertekanan. Ketika tekanan tersebut dilepaskan, terjadilah ledakan yang dapat melontarkan material batuan.
Karena tidak melibatkan magma baru, abu yang dihasilkan dalam erupsi freatik berasal dari batuan yang sudah ada sebelumnya dan hancur akibat ledakan. NPS juga mencatat bahwa erupsi freatik dapat menjadi pendahulu sebelum terjadinya erupsi magmatik.
Jadi, meskipun tidak ada lava baru yang keluar, erupsi freatik tetap dapat menghasilkan ledakan dan abu vulkanik.
Erupsi Gunung Api Fourpeaked pada 2006 di Katmai National Park and Preserve menghasilkan awan abu vulkanik hingga 20.000 kaki atau setara dengan 6.100 meter ke atmosfer.
Erupsi Freatomagmatik (Pheromagmatic Eruption)
Jenis ketiga terjadi ketika magma atau lava panas berinteraksi dengan air, baik air permukaan maupun air tanah dangkal. Erupsi ini dikenal juga dengan nama hydrovolcanic karena keterlibatannya dengan air.
Pertemuan antara material vulkanik yang sangat panas dan air dapat menghasilkan ledakan uap yang sangat kuat. Berbeda dengan erupsi freatik, erupsi freatomagmatik juga melibatkan material yang berasal dari magma baru.
Karena adanya interaksi antara magma dan air, erupsi ini dapat menghasilkan campuran uap dan tefra serta membentuk endapan vulkanik tertentu.
Letusan hidrovulkanik membentuk cincin tuf dan maar (semacam kawah yang terbentuk akibat letusan gunung api), seperti Kawah Ubehebe, sekelompok maar di Taman Nasional Death Valley, serta maar Espenberg di Bering and Land Bridge National Preserve.
Lalu, Apa Itu Hawaiian, Strombolian, hingga Plinian?
Hawaiian, Strombolian, Vulcanian, Sub-Plinian, Plinian, dan Ultra-Plinian merupakan tingkatan gaya erupsi atau eruption styles.
Menurut NPS, gaya-gaya erupsi magmatik tersebut disusun berdasarkan peningkatan tingkat eksplosivitas. Urutannya adalah Hawaiian, Strombolian, Vulcanian, Sub-Plinian, Plinian, dan Ultra-Plinian.
Gaya Hawaiian umumnya ditandai oleh lava basaltik yang sangat cair dan relatif tidak eksplosif. Sementara itu, gaya Strombolian menghasilkan ledakan berkala yang dapat melontarkan material pijar ke udara.
Di tingkat yang lebih eksplosif terdapat gaya Vulcanian dan Sub-Plinian. Erupsi Vulcanian ditandai oleh ledakan yang menghasilkan kolom abu dengan ketinggian sedang, sedangkan Sub-Plinian menghasilkan kolom erupsi yang lebih tinggi dan lebih eksplosif.
Kemudian ada Plinian yang merupakan erupsi sangat eksplosif. Kolom abu dapat menjulang hingga stratosfer dan menyebar membentuk pola seperti payung. Erupsi jenis ini juga dapat menghasilkan hujan abu yang luas, aliran piroklastik, dan lahar.
Di tingkat paling ekstrem dalam klasifikasi gaya magmatik NPS terdapat Ultra-Plinian, yang berkaitan dengan erupsi terbesar dan dapat membentuk kaldera.
(Vira Farhatul Maula)
(RUL)