Masyarakat di Desa Persiapan Selelos, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB),masih mengungsi pasca gempa pada setahun yang lalu. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Masyarakat di Desa Persiapan Selelos, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB),masih mengungsi pasca gempa pada setahun yang lalu. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Korban Gempa Lombok Masih Tinggal di Tenda Darurat

Nasional Gempa Lombok
Fachri Audhia Hafiez • 05 September 2019 07:16
Gangga: Puluhan masyarakat di Desa Persiapan Selelos, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), masih tinggal tenda darurat yang terbuat dari bambu, dan terpal. Mereka merupakan korban gempa Lombok yang terjadi pada 29 Juli 2018.
 
Wayan Sudarma, warga Desa Persiapan Selelos, mengatakan ada sekitar 20 kepala keluarga (KK) yang masih tinggal di tenda darurat. Bantuan pembangunan rumah yang runtuh akibat gempa belum menyentuh kawasan tersebut.
 
"Orang tua saya contohnya masih tinggal di tenda," kata Wayan di lokasi, Rabu, 4 September 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Wayan mengatakan warga setempat baru sekadar didata fasilitator yang menangani program pemulihan pembangunan rumah korban gempa Lombok. Namun belum ada kejelasan kelanjutan program tersebut.
 
"Karena satu fasilitator itu bisa menangani beberapa desa di sini, kemungkinan hal itu yang memperlambat," ujar Wayan.
 
Menurut dia, masyarakat hanya bisa pasrah. Tinggal di tenda tak terlalu bermasalah. Warga yang mayoritas bertani dan berkebun ini langsung kembali ke tenda setalah menyelesaikan pekerjaan di ladang.
 
Namun yang bikin merepotkan saat turun hujan. Warga harus was-was jika hujan disertai angin kencang menerjang tenda mereka.
 
Korban Gempa Lombok Masih Tinggal di Tenda Darurat
Salah satu tenda darurat yang digunakan korban gempa di Desa Persiapan Selelos, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Foto: Medcom.id/FachriAudhia Hafiez
 
Wayan Sadura, warga Desa Persiapan Selelos, berharap pemerintah mempercepat pembangunan rumah warga. Meski dia belum mengetahui model rumah tahan gempa yang diproyeksikan pemerintah.
 
Menurut dia, masyarakat masih trauma dengan gempa tahun lalu. Bahkan beberapa orang tidak berani tinggal di rumah yang masih utuh, dan memilih membangun rumah berbahan bambu dan kayu.
 
"Yang rumahnya retak-retak juga masih enggak mau tidur di dalam," ujar Sadura.
 
Gempa Lombok terjadi pada Minggu pagi, 29 Juli 2018. Guncangan mengakibatkan ratusan orang meninggal dan ribuan lainnya mengalami luka. Puluhan ribu rumah dan fasilitas umum rusak.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif