DR. Cashtry Meher, Pemikir Ketahanan Kesehatan Nasional (Foto: Dok)
DR. Cashtry Meher, Pemikir Ketahanan Kesehatan Nasional (Foto: Dok)

Di Balik Banjir Jakarta: Epidemi yang Mengintai

Medcom • 24 Januari 2026 10:16
Banjir kembali melanda Jakarta. Kota-kota penyangganya ikut terdampak. Pemukiman padat penduduk menjadi wilayah paling rentan. Air masuk ke rumah-rumah, aktivitas lumpuh, kehidupan warga terganggu. 
 
Namun yang sering luput disadari publik adalah satu fakta fundamental bahwa setiap banjir selalu membawa penyakit. Bukan satu jenis penyakit. Bukan dua. Melainkan rangkaian krisis kesehatan yang muncul secara sistemik, cepat, dan masif.
 
Di kota padat penduduk, banjir bukan hanya bencana lingkungan tapi telah berubah menjadi krisis kesehatan publik nasional. Banjir menciptakan kondisi ideal bagi penyakit untuk tumbuh, seperti air tercemar limbah domestik dan kotoran manusia, sanitasi lumpuh, sumber air bersih terkontaminasi, hunian menjadi lembap dan tidak sehat, kepadatan manusia meningkat, akses layanan kesehatan terganggu, imunitas masyarakat menurun. Dalam kondisi ini, penyakit tidak perlu menyerang melainkan justru tumbuh secara alami bak jamur yang tumbuh secara sporadik.

Penyakit-penyakit yang mengikuti dan mengiringi bencana banjir, antara lain, pertama, penyakit saluran cerna, akibat air dan makanan tercemar: diare akut, disentri, tifoid (tipes), hepatitis A, dan pada kondisi ekstrem, kolera. Penyakit-penyakit ini menyerang cepat, memicu dehidrasi berat, dan berisiko fatal pada bayi, lansia, serta kelompok rentan.
 
Kedua, penyakit zoonosis, terutama leptospirosis. Penyakit khas pascabanjir ini ditularkan melalui urin tikus yang bercampur air banjir dan masuk ke tubuh lewat luka kecil, kulit lembap, mata, atau mulut. Gejalanya sering menyerupai flu biasa, tetapi dapat berkembang menjadi gagal ginjal, perdarahan paru, kerusakan hati, bahkan kematian bila terlambat ditangani.
 
Ketiga, penyakit berbasis vektor, akibat genangan air sebagai tempat berkembang biak nyamuk, seperti demam berdarah dengue, chikungunya, malaria, dan filariasis. Kepadatan penduduk mempercepat penularan, menjadikan wabah sulit dikendalikan.
 
Keempat, infeksi saluran pernapasan, terutama di hunian lembap dan pengungsian padat, yaitu ISPA, pneumonia, reaktivasi TBC, serta infeksi virus pernapasan. Ventilasi buruk, kelembapan tinggi, dan imunitas yang menurun menjadi pemicu utama.
 
Kelima, penyakit kulit dan infeksi luka, akibat kulit terendam lama dalam air kotor, diantaranya dermatitis, infeksi jamur, bisul, selulitis, hingga infeksi luka terbuka.
 
Dan yang sering tidak terlihat namun berdampak panjang yaitu gangguan kesehatan mental, trauma, kecemasan, depresi, gangguan tidur, serta trauma psikologis pada anak-anak dan keluarga terdampak.
 
Di kawasan pemukiman padat penduduk, dampak banjir selalu lebih berat karena sanitasi buruk, drainase minim, kualitas hunian rendah, kepadatan sosial ekstrem, keterbatasan air bersih, akses layanan kesehatan terbatas, literasi kesehatan yang rendah. Di ruang seperti ini, banjir bukan hanya merendam rumah, tetapi bisa saja meruntuhkan sistem perlindungan hidup manusia.
 
Jika setiap banjir selalu diikuti lonjakan penyakit, maka masalahnya bukan pada hujan semata. Masalahnya adalah sistem, yaitu sistem sanitasi, sistem tata kota, sistem layanan kesehatan, sistem kesiapsiagaan bencana, sistem literasi kesehatan, dan sistem kebijakan publik.
 
Banjir hanyalah pemicu. Krisis terjadi karena ketahanan sistem yang rentan bahkan rapuh. Selama ini, pendekatan kita masih reaktif, berupa bantuan darurat, pengobatan sementara, logistik sesaat, respon krisis. Padahal yang dibutuhkan adalah transformasi sistemik.
 
Solusi harus bergerak pada tiga level utama. Pertama, level lingkungan dan infrastruktur: sanitasi adaptif banjir, sistem air bersih tahan krisis, drainase sehat, hunian layak dan sehat, pengelolaan limbah terpadu. 
 
Kedua, level sistem kesehatan: puskesmas tahan bencana, layanan kesehatan mobile, surveilans penyakit prediktif, sistem peringatan dini kesehatan, logistik kesehatan adaptif bencana, layanan kesehatan mental terintegrasi. 
 
Ketiga, level sosial: literasi kesehatan masyarakat, edukasi sanitasi dan air bersih, penguatan kader kesehatan, komunitas siaga bencana, partisipasi masyarakat sebagai garda terdepan.
 
Banjir di Jakarta dan kota-kota penyangganya bukan sekadar peristiwa musiman melainkan ancaman krisis kesehatan publik nasional yang terus berulang. Selama sistem kita lemah, banjir akan selalu diikuti penyakit. Karena itu, yang harus dibangun bukan hanya tanggul air, tetapi tanggul sistem kesehatan. 
 
Bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi ketahanan kehidupan. Sebab negara yang kuat bukan negara yang paling cepat memberi bantuan saat krisis, melainkan negara yang mampu mencegah penderitaan sebelum krisis terjadi.
 

Opini Oleh: 
 
DR. Cashtry Meher
Pemikir Ketahanan Kesehatan Nasional


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan