medcom.id, Jakarta: Pencarian pesawat di bawah laut itu tidak mudah. Banyaknya faktor seperti arus, kedalaman dan cuaca buruk di sekitar lokasi kerap mempersulit pencarian. Demikian disampaikan Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Bambang Soelistyo terkait upaya pencarian pesawat AirAsia QZ8501.
"Pengalaman membuktikan, tidak mudah menemukan (pesawat) di bawah laut. Adam Air itu 8 bulan baru ketemu," sebut Bambang, membandingkan QZ8501 dengan tragedi Adam Air yang terjadi pada 1 Januari 2007.
"Tapi kita tidak boleh patah semangat ya, semangat kita adalah menemukan," tambah dia, dalam konferensi pers di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (29/1/2014).
Bambang menegaskan hingga saat ini alat Emergency Locator Transmitter atau ELT dari QZ8501 belum juga memancarkan sinyal. "Padahal ELT itu seharusnya langsung aktif begitu pesawat impact (benturan)," ungkap Bambang.
Pencarian hari ini dibagi ke dalam tujuh sektor. Basarnas menggandeng sejumlah pihak, termasuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT untuk menggunakan sistem sonar.
"Mereka (BPPT) punya sistem sonar, bisa mendeteksi dengan kedalaman antara 1000-2000 meter," kata Bambang.
QZ8501 membawa 155 penumpang, yang terdiri dari 138 orang dewasa, 16 anak-anak dan seorang bayi. Sedangkan kru pesawat terdiri dari dua pilot, empat awak kabin dan satu teknisi.
Pencarian hari ini difokuskan di Kalimantan Barat, yang berhadapan langsung dengan Selat Karimata dan juga perairan Bangka Belitung.
medcom.id, Jakarta: Pencarian pesawat di bawah laut itu tidak mudah. Banyaknya faktor seperti arus, kedalaman dan cuaca buruk di sekitar lokasi kerap mempersulit pencarian. Demikian disampaikan Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Bambang Soelistyo terkait upaya pencarian pesawat AirAsia QZ8501.
"Pengalaman membuktikan, tidak mudah menemukan (pesawat) di bawah laut. Adam Air itu 8 bulan baru ketemu," sebut Bambang, membandingkan QZ8501 dengan tragedi Adam Air yang terjadi pada 1 Januari 2007.
"Tapi kita tidak boleh patah semangat ya, semangat kita adalah menemukan," tambah dia, dalam konferensi pers di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (29/1/2014).
Bambang menegaskan hingga saat ini alat Emergency Locator Transmitter atau ELT dari QZ8501 belum juga memancarkan sinyal. "Padahal ELT itu seharusnya langsung aktif begitu pesawat impact (benturan)," ungkap Bambang.
Pencarian hari ini dibagi ke dalam tujuh sektor. Basarnas menggandeng sejumlah pihak, termasuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT untuk menggunakan sistem sonar.
"Mereka (BPPT) punya sistem sonar, bisa mendeteksi dengan kedalaman antara 1000-2000 meter," kata Bambang.
QZ8501 membawa 155 penumpang, yang terdiri dari 138 orang dewasa, 16 anak-anak dan seorang bayi. Sedangkan kru pesawat terdiri dari dua pilot, empat awak kabin dan satu teknisi.
Pencarian hari ini difokuskan di Kalimantan Barat, yang berhadapan langsung dengan Selat Karimata dan juga perairan Bangka Belitung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WIL)