medcom.id, Jakarta: Situs TIME ikut angkat bicara soal video klip lagu dukungan untuk calon presiden Prabowo Subianto yang digubah musisi Ahmad Dhani.
Adalah media Jerman, Spiegel, yang pertama kali menyoroti ulah Dhani yang menggunakan seragam milik pemimpin pasukan rahasia Nazi "SS", Heinrich Himmler.
Kemudian giliran TIME yang menyebut video itu merupakan salah satu kampanye politik terburuk yang pernah ada. Pembuat film asal Kanada yang kini bermukim di Bali, Daniel Ziv, seperti dikutip TIME membandingkan tampilan pakaian Dhani dengan Himmler lengkap beserta emblemnya itu.
“Penggambaran skinhead Nazi pada politik Indonesia,” kata Daniel seperti dikutip TIME.com dalam artikel berjudul 'This Indonesian Nazi Video Is One of the Worst Pieces of Political Campaigning Ever'.
Bukan hanya itu, penggunaan salah satu hit milik Queen tersebut rupanya tanpa izin penciptanya. Lagu itu ditulis oleh Brian May, gitaris Queen. “Tentu itu tanpa seizin kami,” katanya May melalui akun @DrBrianMay di Twitter.
Menanggapi kritik tersebut Dhani yang dikabarkan memiliki darah Yahudi justru bertanya balik. “Apa hubungannya tentara Jerman dengan musisi Indonesia? Kami, orang Indonesia tidak membunuh jutaan orang Yahudi, kan?” gertaknya.
Klip Prabowo-Hatta We Will Rock You dari Ahmad Dhani itu dirilis tak lama setelah Slank dan musisi lainnya yang mendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla mengeluarkan “Salam Dua Jari”.
Di sisi lain, Prabowo melalui akunnya di Facebook menyampaikan terima kasihnya atas kontribusi Dhani dengan video Prabowo-Hatta We Will Rock You itu.
“Video ini semakin menambah semangat juang kami. Salam Indonesia Bangkit!” tulis Prabowo.
Gaya Nazi dijadikan tema untuk mendongkrak dukungan ke Prabowo yang dipecat dari kemiliteran karena penculikan aktivis pro-demokrasi.
Akhir pekan lalu, jurnalis Allan Nairn mengunggah hasil wawancaranya dengan Prabowo pada 2001. Dalam tulisan tersebut Prabowo mengaku mengidolakan mantan pemimpin Pakistan, Jenderal Pervez Musharraf karena dinilai sosok berani dan orang kuat untuk memimpin Pakistan. (*)
medcom.id, Jakarta: Situs
TIME ikut angkat bicara soal video klip lagu dukungan untuk calon presiden Prabowo Subianto yang digubah musisi Ahmad Dhani.
Adalah media Jerman,
Spiegel, yang pertama kali menyoroti ulah Dhani yang menggunakan seragam milik pemimpin pasukan rahasia Nazi "SS", Heinrich Himmler.
Kemudian giliran
TIME yang menyebut video itu merupakan salah satu kampanye politik terburuk yang pernah ada. Pembuat film asal Kanada yang kini bermukim di Bali, Daniel Ziv, seperti dikutip
TIME membandingkan tampilan pakaian Dhani dengan Himmler lengkap beserta emblemnya itu.
“Penggambaran skinhead Nazi pada politik Indonesia,” kata Daniel seperti dikutip
TIME.com dalam artikel berjudul 'This Indonesian Nazi Video Is One of the Worst Pieces of Political Campaigning Ever'.
Bukan hanya itu, penggunaan salah satu hit milik Queen tersebut rupanya tanpa izin penciptanya. Lagu itu ditulis oleh Brian May, gitaris Queen. “Tentu itu tanpa seizin kami,” katanya May melalui akun @DrBrianMay di
Twitter.
Menanggapi kritik tersebut Dhani yang dikabarkan memiliki darah Yahudi justru bertanya balik. “Apa hubungannya tentara Jerman dengan musisi Indonesia? Kami, orang Indonesia tidak membunuh jutaan orang Yahudi, kan?” gertaknya.
Klip Prabowo-Hatta We Will Rock You dari Ahmad Dhani itu dirilis tak lama setelah Slank dan musisi lainnya yang mendukung Joko Widodo-Jusuf Kalla mengeluarkan “Salam Dua Jari”.
Di sisi lain, Prabowo melalui akunnya di Facebook menyampaikan terima kasihnya atas kontribusi Dhani dengan video Prabowo-Hatta We Will Rock You itu.
“Video ini semakin menambah semangat juang kami. Salam Indonesia Bangkit!” tulis Prabowo.
Gaya Nazi dijadikan tema untuk mendongkrak dukungan ke Prabowo yang dipecat dari kemiliteran karena penculikan aktivis pro-demokrasi.
Akhir pekan lalu, jurnalis Allan Nairn mengunggah hasil wawancaranya dengan Prabowo pada 2001. Dalam tulisan tersebut Prabowo mengaku mengidolakan mantan pemimpin Pakistan, Jenderal Pervez Musharraf karena dinilai sosok berani dan orang kuat untuk memimpin Pakistan. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(NAV)