BPBD bersama tim SAR gabungan melakukan evakuasi warga yang rumahnya terendam banjir di Kabupaten Banjar. Foto: Antara/BPBD Banjar
BPBD bersama tim SAR gabungan melakukan evakuasi warga yang rumahnya terendam banjir di Kabupaten Banjar. Foto: Antara/BPBD Banjar

BMKG: Curah Hujan Ekstrem dan Lingkungan Jadi Penyebab Banjir Kalsel

Nasional banjir bencana cuaca ekstrem bencana alam bencana banjir BMKG
Antara • 24 Januari 2021 01:29
Jakarta: Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan curah hujan ekstrem beberapa hari di Kalimantan Selatan (Kalsel) menyebabkan banjir. Kondisi ini diperparah dengan kapasitas daya dukung lingkungan yang tidak memadai.
 
"Tercatat curah hujan dua hari berturut-turut mencapai sekitar 300 mm, umumnya curah hujan satu bulan di Kalsel 330 mm, artinya curah hujan yang biasa untuk satu bulan turun dalam waktu dua hari ditambah daya dukung lingkungan yang tidak bisa merespons hujan ekstrem sehingga banjir," kata Dwikorita dalam konferensi daring, Sabtu, 23 Januari 2021.
 
Menurut dia, banjir ini memang dipengaruhi hujan yang ekstrem serta lahan yang rusak. Kedua hal ini memiliki peran besar. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Banjir di Kalsel Bukan Akibat Penebangan Hutan Sembarangan
 
"Kalau lingkungan mendukung tentu dampaknya tidak akan terlalu besar juga sebaliknya kalau hujannya tidak terlalu ekstrem mungkin juga tidak terjadi banjir besar," jelas dia.
 
Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab menjelaskan ketika banjir di Kalsel tercatat hujan ekstrem terjadi mulai 10 hingga 16 Januari 2021. Curah hujan tertinggi turun pada 13-14 Januari 2021. 
 
"Dalam 24 jam tercatat curah hujan 225 mm di Banjarbaru dan 249 mm di Stasiun Meteorologi Syamsuddin Noor," kata Fachri.
 
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2019 memperlihatkan proporsi luas areal berhutan di kawasan daerah aliran sungai (DAS) Barito di Kalimantan Selatan, yang tengah terdampak banjir, hanya 18,2 persen. Proporsi luas areal tidak berhutan mencapai 81,8 persen yang didominasi pertanian lahan kering campur semak 21,4 persen, sawah 17,8 persen, dan perkebunan 13 persen.
 
DAS Barito melewati beberapa provinsi di Kalimantan dengan total luas sekitar 6,2 juta hektare (ha) dengan 1,8 juta ha atau 29 persen berada di area Kalimantan Selatan. Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK Karliansyah mengatakan lokasi banjir di sepanjang alur DAS Barito memiliki kondisi infrastruktur ekologis atau jasa lingkungan pengatur air sudah tidak memadai sehingga tidak mampu menampung air yang masuk.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif